Pagi hari aku dan Satria sudah sampai di kampus. Sepanjang kami berjalan di area kampus. Banyak kumpulan anak anak yg sedang berbisik-bisik. Ntah apa yg mereka bisikan. Tapi yg pasti bukan tentang Aku dan Satria lagi. Sepertinya tentang berita yg masih hangat saat ini. Yaa apa lagi kalo bukan tentang Divya. Karena tak sengaja aku mendengar potongan kata dari pembicaraan mereka. Aku tidak menguping yaa, hanya tidak sengaja mendengar. Karena ada dari beberapa mereka yg suaranya lumayan keras.
" Yaa bagus deh kalo akhirnya dia pindah dari sini. Orang sombong kaya dia emang pantes dapetin ini semua. " kata seorang Mahasiswa
" Iyaa bener. Dulu bapaknya yg selalu dia banggakan. Sekarang karena bapaknya juga kampus jadi malu. " sahut seseorang lagi
" Iyaa. Udah dapet karma kaya gini juga dia masih sombong. Makannya ngga ada yg respect sama dia. " kata seseorang yg lain lagi
" Iyaalah pada males ngedeketin dia. " kata yg lain
" Cuma Ayara yg kemaren berani ngedeketin. Bukannya bersyukur yaa karena ada yg mau ngajak berteman disaat dia susah. Di saat semua orang termasuk kita ngga mau berteman. Ayara malah dateng menawarkan pertemanan. " kata temannya
" Iyaa eh malah Ayara di kasarin. Emang kalo udah batu itu susah. Untung Satria udah putus sama dia. " katanya Mahasiswa lain
" Iyaa lebih bagus sama Ayara sekarang. Mereka keliatan cocok dan serasi banget. Sama sama baik dan ngga sombong pula orangnya. " kata yg lain menyahuti
Yaa itulah potongan potongan pembicaraan mereka. Aku dan Satria hanya menggeleng gelengkan kepala saat mendengarnya. Anak anak itu terdiam saat aku dan Satria berjalan mendekat ke arahnya. Padahal aku dan Satria hanya lewat saja. Tapi mereka seperti ketakutan karena di kira kami akan menegur mereka.
Sebenarnya memang tidak baik membicarakan seseorang di belakang. Tapi itu juga hak mereka untuk berbicara. Hak mereka juga ingin berbuat apa. Karena semua konsekuensinya akan di tanggung setiap individu. Dan itu urusan mereka dg Tuhan. Yg terpenting aku tidak ikut dalam kumpulan orang orang itu.
Sebelum aku dan Satria masuk ke ruang ujian masing-masing. Aku dan Satria duduk di tangga dekat sebuah ruangan. Kemudian 4sekawan, yaitu Fay, Freya, Arion dan Arvin datang menghampiri.
" Eh eh kalian berdua tau ngga kalo Divya pindah dari kampus ini? " kata Fay yg heboh sendiri
" Tau. " jawabku dan Satria kompak
" Terus menurut kalian gimana? " tanya Fay lagi
" Ngga gimana gimana. " jawabku dan Satria bersamaan lagi
" Yaa ampun kompak banget jawabnya. " kata Freya sambil tersenyum
" Ga seru banget si kalian. Jawabnya gitu doang. Udah di setting yaa? " kata Fay sambil cemberut karena tidak mendapatkan jawaban yg diinginkan
" Settingan Tuhan mungkin. " jawabku sambil unjuk gigi
" Udah pinter jawab yaa sekarang Ayara. " kata Arion
" Iyaa lah mainnya sama kita gimana ngga cepet pinter, Hehehehe. " kata Arvin sambil tertawa
" Malah bahas Satria dan Ayara. Kan aku nanya tentang Divya. " kata Fay kesal
" Ngapain si ngurusin orang. Mending ngurusin diri sendiri. " kata Freya
" Iyaa bener banget. Lebih baik lagi ngurusin tentang kita. " kata Arion sambil menaik turunkan alisnya lalu mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum pada Freya. Freya pun tersenyum malu
" Usaha teroosss. " sindir Arvin
" Ah ga seru ah kalian. " kata Fay yg masih kesal karena tak ada yg satu frekuensi dg nya. Aku dan Satria hanya menggeleng gelengkan kepala dan tersenyum
" Kenapa kamu pengen ada yg ngurusin juga? " tanya Arvin menggoda
" Emang kamu mau ngurusin aku Vin? " tanya Fay antusias
" Mau dong. Sini aku kempesin biar kurus, Hahahaha. " kata Arvin sambil tertawa dan berlari menjauhi Fay
" Arviiin jadi maksud kamu, aku itu gendut? Aku ngga gendut tau. " teriak Fay sambil mengejar Arvin
Aku, Satria, Freya dan Arion tertawa melihat tingkah Fay dan Arvin. Benar benar mereka berdua itu sama sama lucu. Seperti saling suka tp Arvin berlagak jual mahal. Atau mungkin Fay nya yg terlalu agresif. Sedangkan Arvin yg memang cuek, awalnya tak menyukai sikap agresif Fay. Tp kayaknya sekarang Arvin udah mulai suka dg Fay. Karena Arvin udah mulai suka menggoda Fay.
Sedangkan Freya dan Arion kebalikan dari Fay dan Arvin. Yaa Arion yg lebih terlihat sering terbuka dg perasaannya pada Freya di depan kami semua. Sedangkan Freya masih terlihat malu-malu. Meskipun aku tau, sebenarnya Freya pun menyukai Arion. Yaa semoga saja, mereka semua cepat di persatukan dalam hubungan yg serius seperti aku dan Satria.
Bel tanda masuk berbunyi. Kami membubarkan diri dan masuk ke ruangan masing-masing. Ujian pun di mulai sama seperti kemarin. Semua mahasiswa tampak berusaha untuk menjawab setiap soal. Berlomba lomba memberikan yg terbaik agar mendapat IPK tinggi dan cepat melangsungkan wisuda.
Setelah ujian selesai. Satria mengantarkan ku seperti biasa. Hanya sampai depan pintu ngga masuk ke dalam. Kemudian Satria pamit pulang. Setelah Satria pulang, aku masuk ke dalam rumah. Saat aku berjalan menuju kamar. Tiba tiba aku di kagetkan dg suara Evan.
" Udah pulang Ayara? " tanya Evan tiba tiba
" Eh Evan, ko kamu ada di rumah. Papah mana? " tanyaku sedikit terkejut
" Om Deon masih di kantor. Tapi tadi bilang katanya Om dan Tante pulang telat, karena harus menghadiri acara sampai malam. " kata Evan menjelaskan
" Ooohhh terus kamu ngga ikut Papah? " tanyaku to the poin
" Ngga, aku disuruh jagain kamu. " jawab Evan sambil tersenyum
" Hah? Jagain aku? Aku udah biasa sendiri kali kalo Mamah Papah pergi. " jawabku yg berubah jutek
" Aku ngga tau. Aku cuma dikasih pesan seperti itu. " jawab Evan
" Yaa udah lah terserah. " jawabku lalu pergi ke kamar
Aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Yaa di rumah aku tetap mengenakan hijab saat keluar kamar. Walaupun itu hanya di ruang makan atau dapur. Aku tetap memakainya. Apalagi ada Evan disini. Selesai membersihkan diri. Aku turun menuju dapur. Aku berniat untuk makan, tp ternyata ngga ada makan.
Aku mencari makanan yg bisa di makan. Aku membuka kulkas, dan lemari makan. Yg ada hanyalah makanan instan, roti, dan buah. Huh sungguh tidak sesuai ekspektasi. Aku yg sangat lapar, ngga akan kenyang kalo hanya makan itu. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saat aku berjalan ke luar sambil membawa kunci mobil. Evan mencegahku.
" Mau kemana Ayara? " tanya Evan yg sedang duduk di ruang tamu sambil bermain Hp
" Mau cari makan. " jawabku singkat
" Aku anter. " kata Evan yg langsung beranjak dari duduknya
" Ngga usah. Aku bisa sendiri. " jawabku jutek
" Tapi aku disuruh buat jagain kamu. Jadi aku harus jagain kamu, kemana pun kamu pergi. " kata Evan tegas sambil mengambil kunci mobil dari tangan ku
" Iyaa udah lah karena aku laper. " jawabku singkat sambil menghembuskan nafas berat dg nada jutek dan melangkah ke luar lebih dulu
" Mau beli makan apa? " tanya Evan lembut
" Eeemmmm apa yaa? Pengen sate. " jawabku sambil sedikit berpikir
" Hah? Jam segini mana ada sate? Sate itu kan adanya malem. " jawab Evan dg mata membulat mendengar keinginan ku
Yaa karena hari ini masih sore, memang belum ada tukang sate di jam jam segini. Aku memang sengaja sedikit mengerjai Evan. Tapi kalo misal Evan bisa mendapatkan sate juga akan aku makan ko. Karena aku memang lapar dan aku sangat suka sate hehehehe. Jadi walaupun sambil mengerjai, tp aku memang ingin sate hehehehe.
" Tapi aku pengen sate ayam. Makannya pake ketupat. Eeemmmm enak. " kataku sambil mengusap perutku
" Heeemmm iyaa ayoo kita cari. Untung sayang. " kata Evan sambil menghembuskan nafas berat lagi dan sedikit keceplosan
" Hah apa Van? " tanyaku memastikan. Karena aku masih mendengar ucapan terakhirnya itu
" Ngga papa. Ayoo buruan sebelum aku berubah pikiran. " katanya dg nada sedikit jutek
Aku dan Evan pun naik mobil, pergi mencari sate yg aku inginkan. Seru juga ngerjain anak orang. Ngga papa lah yaa sekali kali ngerjain. Ngga dosa kan kalo cuma sekali hehehehe. Lagian si Papah tumben tumbenan banget pake nyuruh orang buat jagain aku segala. Biasanya juga ngga pernah.