Dewa berpamitan pada Ibu dan adiknya selepas subuh. Ia sangat paham jika dirinya berangkat agak siang sedikit saja, pasti Nenek Puri tidak akan mengizinkannya untuk pergi.
“Bu, Dewa pamit berangkat sekarang ... biarlah Dewa menunggu di Basecamp kampus, dari pada berdebat lagi dengan Nenek.” Dewa meminta izin, ketika Ibunya baru saja bersiap untuk mencuci pakaian.
“Pergilah, Nak! Jaga diri kamu selama mengikuti kegiatan itu! Pulanglah dengan selamat!” pinta Fitria pada putranya. Dewa mengangguk dan mencium punggung tangan Fitria.
Kemudian Dewa membangunkan adiknya yang masih tertidur. Dewa berpamitan sembari berbisik pada Nirmala. Lalu Dewa mengecup kening adiknya itu.
***
Dewa mengendap-endap keluar dari rumah. Motor trailnya, ia dorong sampai agak jauh dari rumah sang Nenek. Bergelut dengan kabut nan temaram, Dewa melajukan motornya menuju kampus tercinta.
“Gilaaa! Sepagi ini aku berangkat ke kampus? Demi apa? Demi lari dari kekangan dan kepenatan yang aku rasakan! Ayah ... aku berjanji akan membantu Ayah memulihkan nama baik keluarga kita.” Dewa berbicara dalam hatinya sembari memacu kendaraannya.
Bayang-bayang bukit Rembul di ujung sebelah timur, masih menyisakan tanya dalam benak Dewa. Aura magis semakin terasa ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Bayangan bukit Rembul mulai muncul dari balik kabut tipis yang mulai memudar. Jalanan yang sepi membuat jantung Dewa berdegup kencang ketika ia kembali mendengar suara lolongan mirip serigala dari arah bukit Rembul. Bulu kuduk Dewa meremang dan pikirannya terus berjalan, berusaha menebak apa yang sedang ia alami. Namun, Dewa masih bisa mengontrol pikirannya. Ia menghirup napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, agar jiwanya kembali tenang.
Dewa terus melajukan kendaraannya menerjang kabut di antara jalanan yang sepi. Tak lama kemudian, terlihat beberapa kendaraan lain yang melintas. Jalanan mulai ramai oleh wajah-wajah pekerja keras yang sudah memulai kegiatan pagi ini. Dewa merasa lega, setelah ia menyadari bahwa dirinya tidak sendirian dalam perjalanan menuju kampus tercinta.
***
Ketika Dewa tiba di kampus. Ia langsung memarkirkan motornya dan berjalan menuju Basecamp pencinta alam. Ternyata Dewa tidak sendirian. Di sana sudah ada dua panitia yang mulai berbenah sebelum semua anggota berangkat menuju bukit Buton.
Dewa menyapa dan tersenyum pada mereka.
“Pagi, Kak!” Dewa menyapa mereka berdua yang ada di dalam Basecamp.
“Pagi ... hei? Pagi banget udah nyampe sini?” Salah seorang senior menyapa Dewa.
“I—iya, Kak! Biar Ngga ketinggalan.” Dewa tersenyum pada mereka.
“Oh ... iya, Kak ... motor saya akan ditinggal di kampus ... apa sebaiknya saya melapor pada security?” Dewa tampak kebingungan.
“Oh ... jadi motor kamu mau ditinggal? Memang motor apa?” Seorang senior memeriksanya ke tempat parkir kampus.
“Itu, Kak.” Dewa menunjuknya.
“Hmmm ... begini saja! Kalau kamu tidak keberatan, motor kamu akan kami pakai ke bukit Bunton. Lumayan bisa untuk membantu logistik atau akomodasi lainnya, bagaimana? Apa boleh?” senior yang bernama Bayu itu memberikan solusi.
“Oh boleh banget, Kak! Kalau memang berguna, silakan saja!” Dewa tersenyum dan memberikan kuncinya.
“Terima kasih, Dewa! Nanti setelah selesai akan saya isi bensin lagi.” Bayu tersenyum pada Dewa.
Kemudian Dewa duduk di bawah pohon yang tidak jauh dari Basecamp. Ia melihat jam tangan berwarna hitam yang melingkar dekat pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Melihat keadaan yang masih sepi, Dewa membuka kotak bekal makanan dari Ibunya. Sembari menunggu anggota yang lain datang, Dewa melahap sarapan yang begitu nikmat. Walau lauk pauknya sangat sederhana, hanya nasi putih, kering tempe, dan telur dadar.
Sesekali Dewa meneguk air mineral yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Dewa kembali teringat pada Ayahnya. Saat itu juga, nafsu makannya hilang bersama kenangan penuh penyesalan dari dalam hatinya. Dewa kembali menutup kotak bekal makanan yang belum selesai ia habiskan. Hal itu Dewa lakukan karena menurutnya, menutup kotak bekal makanan itu seperti menutup kenangan indah masa lalu bersama sang Ayah. Dewa sangat menyesali sikapnya selama ini. Dewa tidak ingin berlarut-larut dalam kepedihan. Ia berusaha bangkit dan melupakan sikapnya yang acuh pada keluarganya, hanya karena lelah berdebat dengan sang Nenek. Dewa bertekad membuktikan kalau sang Ayah tidak bersalah.
Lamunan Dewa buyar seketika Acong datang menyapanya. Tidak terasa, begitu Dewa tersadar dari lamunannya, di hadapannya sudah banyak peserta Diksar yang datang. Tak lama berselang semua calon anggota kembali dibariskan di halaman depan Basecamp pencinta alam. Senior kembali memberikan arahan dan memeriksa surat izin mereka.
Tak butuh waktu lama, semua panitia mengabsen peserta dan diminta untuk menaiki truk yang sudah disediakan. Mereka akan dibawa ke posko awal pendakian bukit Bunton. Kegiatan pendidikan dasar ini sangatlah penting bagi semua calon anggota pencinta alam. Karena dalam kegiatan itu mereka akan diberi pembekalan dasar yang harus mereka kuasai, memberikan wawasan mengenai teknik-teknik dasar aktivitas alam terbuka. Selain itu kegiatan pendidikan dasar ini sangat berguna untuk melatih kemampuan fisik dan mental, serta kedisiplinan untuk seluruh calon anggota.
Setelah semua peserta dan beberapa senior menaiki truk, tiba saatnya mereka di bawa menuju posko pertama pendakian bukit Bunton. Bukit yang sering dijadikan tempat pendidikan latihan dasar, termasuk survival. Satu persatu peserta turun dari truk. Aura hutan rimba yang sangat kental mulai terasa. Sunyi, dingin, dan masih menyisakan kabut tipis walau matahari mulai menghangatkan Ibu Pertiwi. Dewa kembali merasakan ada aura magis di dalam hutan di bukit Bunton. Rimbunnya pepohonan membuat ilusi seolah jalanan setapak itu tidak berujung.
Hangatnya sang mentari yang mulai terasa, menambah semangat seluruh peserta mengikuti kegiatan ini. Panitia kembali membariskan dan mengabsen semua peserta. Kemudian ketua pelaksana yang bernama Tyo memberikan arahan lagi pada mereka.
“Selamat pagi teman-teman? Apa kabar semangat pagi ini?” Kak Tyo menyapa peserta.
“Luar biasa!” jawab peserta dengan semangat berkobar.
“Luar biasa! Baik ... sebelumnya saya ucapkan selamat datang di alas Prabu bukit Bunton ... seperti yang sudah kalian ketahui, salah satu syarat utama menjadi calon anggota pencinta alam Buana Sejati adalah mengikuti Diksar atau pendidikan dasar yang akan berlangsung selama lima hari ke depan di dalam alas Prabu di bukit Bunton ini ... ingat! Jagalah lingkungan! Dilarang membuang sampah sembarangan! Dilarang berkata-kata kasar dan kotor! Jangan berbuat m***m! Jagalah diri kalian! Saling menjaga sesama teman! Pikiran jangan kosong! Kalau merasa tidak enak badan, silakan lapor ke panitia! Sikap, mental, dan fisik kalian di alam liar ... akan diuji! Akan terlihat siapa yang egois siapa yang peduli ... siapa yang tanggap siapa yang malas ... ingat semua ini akan kami nilai! Siapa yang layak, siapa yang tidak ... apa kalian paham sampai di sini?” teriak Tyo lantang.
“Siap! Mengerti!” jawab seluruh peserta.
“Selain itu saya juga akan menjelaskan ... dari empat puluh dua peserta, masing-masing akan dibagi menjadi lima kelompok ... terdiri dari delapan orang, ada juga yang sembilan orang ... dari masing-masing kelompok ... akan dipilih satu peserta yang akan menjadi ketua grup ... tugasnya bertanggung jawab atas keselamatan anggotanya, selalu memantau aktivitas kelompoknya, mengatur pembagian tugas kelompok, serta menjadi pengambil keputusan kelompok di saat yang mendesak ... karena ketua regu memiliki tanggung jawab serta andil yang besar untuk mengayomi anggotanya ... satu hal lagi ... pada hari ke tiga sampai hari ke lima kalian akan melakukan survival di dalam hutan ... posko panitia berada di sini, di posko pertama alas Prabu ... akan tetapi panitia tidak hanya tinggal diam ... kami tetap mengawasi kalian tanpa kalian sadari ... selain itu tim SAR kita akan selalu berkeliling setiap jam untuk memantau keadaan kalian ... tujuan utama survival ini agar kalian disiplin, mandiri, bisa bertahan dalam keadaan tersulit, menjaga kekompakan, melatih fisik, dan mental sebagai seorang anggota pencinta alam ... apa bisa dimengerti?” Tyo dengan lantang mempertegas semuanya.
“Siap! Mengerti!” suara seluruh peserta terdengar semangat.
“Silakan panitia untuk membacakan tentang nama-nama anggota masing-masing regu, dibagi saja!” Tyo meminta panitia lainnya untuk bergegas.
Salah seorang panitia membacakan nama-nama regu beserta anggotanya. Hingga kelompok yang beranggotakan Dewa, dibacakan oleh panitia.
“Regu ke tiga diberi nama regu Serigala ... beranggotakan Windu, Darmianti, Joko, Cahyo, Dewa, Biantara, Danu, Tari. Silakan berkumpul bersama regu kalian!” perintah panitia pada mereka.
Acong dan Mia menepuk bahu Dewa, mereka sangat mengerti jika Windu sangat sinis pada Dewa, sejak pertama mereka menjalani masa Ospek. Windu adalah pemuda yang ambisius dan ingin selalu menjadi yang nomor satu. Namun ketika masa Ospek berlangsung, Dewa pernah mengalahkan Windu dalam lomba cerdas cermat antar kelompok. Sejak saat itu, Windu mulai berambisi untuk mengalahkan Dewa dalam hal apa pun. Tentunya ketika mereka di satukan dalam sebuah regu, sudah barang tentu, Windu akan menindas Dewa jika dia diberi kekuasaan.
Windu menatap sinis Dewa yang juga sedang menatapnya. Setelah panitia selesai membagi kelompok, masing-masing kelompok diberi waktu untuk memilih ketua regu secara voting.
Dari delapan anggota grup, dipilih dua kandidat calon ketua regu. Tentu saja Dewa dan Windu, akan tetapi hanya dua orang yang memilih Dewa sebagai ketua dan empat orang memilih Windu. Sudah jelas Dewa kalah telak. Ia sudah mempersiapkan jiwa dan raga menghadapi apa yang akan Windu perbuat padanya selama satu regu dengannya di dalam hutan.
Tatapan Windu yang tajam dengan senyuman yang menyeringai, nyatanya membuat hati Dewa miris melihat sosok pemuda yang ambisius dan menyimpan kedengkian padanya. Dewa tidak pernah gentar atau pun takut akan gertakan Windu. Selama Dewa memiliki niat dan bersikap baik, dirinya tidak akan pernah merasa ciut nyali. Tatapan penuh ambisi Windu buyar seketika, karena angin berembus cukup kencang dari dalam hutan yang terlihat gelap di depan sana. Angin yang berdesir menyelusup dia antara ranting pohon, menyibak dedaunan kering yang sudah terlepas dari rantingnya.
Semua kegiatan saat itu seketika terhenti. Beberapa panitia saling menatap satu sama lain. Begitu pula dengan para peserta. Hanya bisa menatap jalan setapak yang gelap di depan sana.
“Baik! Pertama kita akan berjalan memasuki alas Prabu, hingga sampai pada lokasi tujuan kita! Tenda yang akan didirikan, hanya akan ditinggali oleh panitia putri, tenda yang satu lagi untuk keperluan kesehatan ... semua peserta diwajibkan tidur menggunakan ponco! Jika sudah bisa memahami apa yang akan kalian hadapi, silakan renungkan dan mantapkan hati! Jika ragu, dipersilakan mengundurkan diri sebelum kita melangkah bersama memasuki alas Prabu!” suara lantang Tyo kembali membahana.
Semua peserta masih tetap pada posisinya. Artinya mereka semua tidak mengundurkan diri, melainkan terus berjuang hingga lolos pelantikan. Setelah semua merasa yakin, Tyo bersama panitia lainnya mengawal perjalanan peserta Diksar memasuki alas Prabu.
***
Dewa dan kelompoknya mulai berjalan menyusuri jalan setapak di hadapannya. Rimbunnya pepohonan hutan tropis seakan menghadang cahaya matahari yang akan menyinari hutan itu. Dewa melihat sekelilingnya. Aura mistis mulai terasa menyentuh sanubarinya. Entah khayal atau nyata, Dewa merasa ada sepasang mata yang tengah mengawasi perjalanan mereka.
***