Dewa mulai terbangun dari tidur pulasnya. Secercah cahaya menerpa wajah Dewa, perlahan memaksanya untuk membuka mata. Dengan spontan Dewa menyipitkan mata, karena terpaan cahaya mentari pagi itu. “Ternyata hari sudah pagi.” “Hoam ....” Dewa segera beranjak dari bivak tempatnya beristirahat sembari menguap. Fajar menyingsing di antara kabut tipis yang masih menyelimuti wilayah alas Sandekala. Dewa mencoba bangkit dari posisinya. Ia melihat sekelilingnya. Semua anggota rombongan masih tertidur pulas. Lalu Dewa beranjak dari sana. Ia melangkahkan kaki, beberapa langkah ke depan. Dilanjutkan merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara sejuk sebanyak yang ia mampu, di alas Sandekala. Dewa masih tidak percaya kalau ia dan kawan-kawannya senekat itu bertualang bersama. Dewa merasa kondisin

