Aku terbangun dengan napas yang tersengal. Keringat dingin juga ikut serta menghantuiku. Aku melihat sekitar dan tersadar bahwa aku masih berada di tempat yang sama. Yaitu di rumah mewah Mr. Kim serta ada pria tua yang mengaku sebagai kakekku. Ternyata di luar langit sudah gelap seutuhnya. Aku memilih berjalan menuju wastafel kemudian membasuh wajahku agar tak mengantuk kembali. Ini sudah lewat tengah malam dan aku bisa melihat beberapa pengawal Mr. Kim mulai merenggangkan pengawalan. Aku kemudian berjalan keluar kamar memutuskan untuk mencari udara segar. Tapi baru sampai di depan pintu, aku dihadang oleh anak Mr. Kim yang sempat secara arogan menyerangku di meja makan. “Jadi kau benar Jean?” tanya pemuda itu yang bahkan aku lupa siapa namanya. Aku memilih mengabaikannya sambil melekat

