Selama perjalanan, Doni hanya diam. Andin juga begitu, sudah pasti pertengkaran tadi merebut semua tenaga Doni untuk sekadar berbicara dan mengajaknya ngobrol. Hanya saja Andin tadi meminta untuk Doni jangan melajukan motornya cepat-cepat karena kosentrasinya pasti sedang terpecah saat ini, dan itu berbahaya. Sampai di rumah Andin, Doni masih diam dan tampak sedikit linglung. Hal itu membuat Andin sangat sedih dan ingin sekali menangis karena melihat Doni yang selama ini ceria tapi ternyata memiliki luka yang cukup besar. “Mampir dulu ke rumahku, ya? Aku buatin minuman dan kamu juga bisa istirahat sebentar,” tawar Andin yang lebih pada keharusan karena dia tidak akan membiarkan Doni pergi dari sini dengan keadaan yang ketika dia tanyai malah melamun. “Nggak usah, gue bisa ke rumah Bagu

