Mendengar handle pintu kamar ditekan, buru-buru aku kembali menyembunyikan kartu ATMnya ke bawah bantal dan berpura-pura merapikan rambut yang sedikit memang berantakan. Ternyata Mas Bram yang masuk, ia mengernyitkan dahi melihat tingkahku, wajahnya masih nampak kesal, sementara aku masih dengan pura-pura menunjukkan wajah bersalah.
Dengan cepat ia mengambil handuk yang menggantung dan berlalu masuk ke kamar mandi. Aku bernafas lega, untung saja tidak ketahuan, dan membuatnya curiga.
Ah, Mas Bram andai saja sikapmu tidak seperti itu aku juga tidak akan menjadi seperti ini, tetapi kau yang dulu memulai permainan. Baiklah, Mas akan kuikuti permainan kalian.
Sembari menunggu salat Asar aku merebahkan diri di samping Rania, sembari memikirkan rencana kedepannya. Harus siap dengan hal besar yang akan terjadi dalam rumah tanggaku, antara bertahan atau pergi, kelak akan menjadi sebuah pilihan yang harus kujalani.
Kepala terasa begitu pening memikirkan semua itu, hingga akhirnya aku pun tertidur.
Azan Asar membuatku terjaga, aku segera menuruni ranjang menuju kamar mandi untuk berwudu, lalu menunaikan kewajiban empat rakaat. Dalam sujud panjang, aku berdoa semoga Tuhan memberi jalan terbaik atas semua masalah ini.
Usai salat, kulihat Rania masih tidur. Aku tidak melihat Mas Bram, ah mungkin lagi di depan sama Mas Fatir, pikirku.
Dengan gerakan pelan aku keluar kamar, meninggalkan Rania. Di depan kamar kulihat suasana masih nampak sepi, lalu menuju dapur.
"Eh, Naya, sini?" ucap Mbak Risa sembari mencuci sayurannya.
Aku tersenyum. "Iya, Mbak. Jadi kita mau masak apa, Mbak?" tanyaku sambil mengupas bawang.
"Tumis cumi asin, sambal ikan tongkol sama bening bayam. Kamu ada ide buat menu lain?" tanya Mbak Risa.
Aku menggeleng, "Ikut Mbak aja."
Kami pun masak bersama, Mbak Risa membersihkan sayur bayamnya, aku menyiangi ikan tongkol sama cuminya. Rasanya menyenangkan kerja sama seperti ini, ditambah Mbak Risa orangnya baik.
Rasanya aku ingin sekali menceritakan permasalahan rumah tanggaku padanya, karena aku yakin Mbak Risa adalah orang yang bisa di percaya.
"Mbak ...." Ragu aku berucap.
"Iya kenapa, Nay?" tanya Mbak Risa masih sibuk dengan pekerjaannya.
Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, tiba-tiba Mas Bram memanggilku.
"Dek, itu Ranianya bangun nanyain Mamanya."
"Ya udah kamu urus, Rania dulu sana gih!" ujar Mbak Risa.
Aku hanya mengangguk, lain kali saja kuceritakan sekarang aku menemui Rania dulu.
Tiba di kamar kulihat Rania sudah duduk di sisi ranjang sambil ngucek matanya.
"Eh anaknya, Mama udah bangun." Aku mengangkat tubuh mungilnya lalu mencium keningnya.
"Ma, mau pipi," ucapnya dalam gendonganku.
"Rania, mau pipis?" tanyaku. Ia hanya mengangguk, dan akupun mengajaknya ke toilet.
Usai mengurus Rania aku kembali ke dapur, kulihat di sana ada Mama. Aku tidak mungkin menceritakannya dekat, Mama.
"Duh, Mantu, Mama rajin banget sih," puji Mama. "Mau masak apa? Sendirian aja, Nayanya kemana?" tanya Mama.
"Eh, Mama ini, Ma mau masak sayur bening sama tumis cumi asin, dan sambal ikan tongkol," balas Mbak Risa.
Aku pun berjalan mendekat, tetapi mereka tidak menyadari keberadaanku.
"Naya, gak bantuin kamu?" tanya Mama lagi.
"Itu lagi ngurusin, Rania," jawab Mbak Risa.
"Hem, dasar sih, Naya mantu pemalas. Ngurus anak satu aja gak becus. Sama kamu aja dia mau bantuin masak, biasanya juga kerjanya malas-malasan," celoteh Mama.
Aku menghentikan langkahku, rasanya begitu sesak mendengar ucapan Mama barusan. Entah apa maksudnya.
"Eh masa sih, Ma?" tanya Mbak Risa dengan nada tidak percaya.
"Iya, Mama heran kenapa sih, Bram bisa cinta mati sama perempuan kayak gitu udah mis ...."
"Miskin dan bodoh ya, Ma," timpalku karena merasa sudah tidak tahan mendengar Mama menjelek-jelekanku di depan Mbak Risa, sementara mata sudah terasa panas. Tentu saja ucapanku membuat wajah Mama berubah menjadi masam. Sementara Mbak Risa kulihat wajahnya berubah tak enak.
"Eh, Naya. Ranianya mana?" tanya Mbak Risa mengalihkan pembicaraan.
"Lagi main sama, Papanya," balasku sekenanya hatiku menjadi tidak enak.
"Em, Mama mau ke depan dulu sebentar," celetuk Mama mungkin merasa tidak enak karena tiba-tiba aku datang.
"Nay, ucapan, Mama jangan kamu masukin ke hati ya! Mbak juga minta maaf," ucap Mbak Risa tulus.
"Iya, Mbak gak apa-apa. Mbak gak salah," balasku sembari memaksa tersenyum. Niat untuk mencritakan masalah rumah tangga sama Mbak Risa pun rasanya aku sudah tidak berselera.
"Nay, tadi kayaknya kamu mau cerita sama, Mbak. Mau cerita apa?" tanya Mbak Risa penasaran.
Aku menggeleng. "Bukan apa-apa kok, Mbak. Gak begitu penting," kilahku.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan cerita sama, Mbak. Anggap saja Mbak adalah kakak kandungmu sendiri. Bagi Mbak kamu adalah perempuan yang baik dan rajin." Mbak Risa tersenyum, membuat d**a rasanya sedikit tenang akan perhatiannya.
"Makasih, Mbak," balasku, dengan mata berkaca-kaca namun segera kuseka. Aku tidak ingin menangis di depannya.
Setelah berkutat hampir dua jam di dapur akhirnya semua masakan sudah terhidang di atas meja. Lengkap dengan cake brownies sebagai menu tambahan.
Usai masak aku dan Mbak Risa segera membersihkan diri sembari menunggu azan magrib, untuk melaksanakan salat berjamaah.
"Em, aku lagi gak salat," jawab Mita saat diajak salat sama Mbak Risa. Entah hanya alasan atau memang tidak mau, setiap kali diajak salat bersama saat Mbak Risa dan Mas Fatir pulang hanya itu jawabannya.
Usai salat kami pun makan malam bersama, seperti biasa sembari makan selalu ada yang membuat tersenyum melihat canda tawa dan celoteh anak-anak.
"Nadia, Galih jangan rebutan makannya," ujar Mbak Risa melihat Galih dan Nadia kembali berebut makanan.
Setelah makan malam, kami pun istirahat diruang tamu sembari berbincang-bincang santai karena belum ngantuk, sementara anak-anak sudah tidur duluan.
"Em, Mas aku keluar sebentar!" pamit Mas Bram.
"Mau kemana?" tanya Mas Fatir.
"Biasalah ketemu teman, ada urusan kantor," jawab Mas Bram sambil tersenyum.
"Oh."
Mas Bram pun pergi, aku yakin bukan untuk urusan kantor. Tetapi, untuk urusan wanita itu. Karena beberapa menit yang lalu, ada pesan masuk yang belum sempat k****a. Aku pun segera membuka ponsel melihat apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu.
[Mas, cepat kesini sekarang juga penting!]
Entah apa maksudnya, hingga aku pun merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
***
Menjelang pagi Mas Bram baru pulang, aku sengaja menunggunya karena hati begitu penasaran kemana saja semalaman suamiku pergi bersama wanita itukah?
"Dari mana saja kamu, Mas?" Begitu pintu kamar terbuka aku sudah mencerca Mas Bram dengan pertanyaan, sembari melipatkan tangan di depan d**a.
Wajah Mas Bram nampak pias, mungkin tidak menyangka kalau aku menunggunya dan akan bertanya demikian.
"Em, i-itu, semalam mobil, Mas mogok. Jadi Mas tidur di dalam mobil," jawabnya asal. Karena jelas-jelas ia pulang dengan mobilnya.
"Bukan pergi dengan perempuan lain, 'kan?" tanyaku sengaja memancingnya.
Mas Bram terkekeh, namun raut keterkejutan tidak bisa ia sembunyikan.
"Ngomong apa sih, Dek pagi-pagi sudah ngelantur. Udah ah, Mas capek. Suami pulang bukannya di sambut baik-baik malah dicurigai yang tidak-tidak," Ia berjalan mendekat sembari mengecup keningku, jelas sekali aroma parfum wanita di tubuhnya membuatku merasa jijik.
"Ya udah, Mas mau mandi dulu!"
Pintar sekali, Mas kamu berbohong. Saat Mas Bram masuk ke kamar mandi ponselnya berdering.
[Makasih, Mas buat semalan] dadaku rasanya bergemuruh membaca pesan si*lan tersebut, apa sebenarnya yang mereka lakukan.
Setelahnya aku mengambil kartu ATM Mas Bram dibawah bantal, dan menimang-nimang kartunya hingga terpikir sebuah ide harus kuapakan kartunya. Aku pun tersenyum.
Bersambung ...