Nathan menatap wanita di atas ranjang, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan suhunya panas. Tiga puluh sembilan derajat celcius. Keringat dingin tampak seperti butiran kristal di pelipis Qiandra, membuat wajahnya yang pucat semakin kehilangan warna. Qiandra masih menggigil, tetapi frekuensinya tidak lagi sebanyak pagi hari. Nathan membantu Qiandra mengganti pakaian, menyeka keningnya dengan air hangat, dan menemani wanita itu di sisinya hingga sore hari. Dokter telah memerikasa Qiandra dan meninggalkan beberapa obat, salah satunya adalah antibiotik. Nathan telah membantu Qiandra meminum obat ini dengan telaten. Di sore hari, kesadaran Qiandra mulai kembali, perlahan-lahan membuka matanya yang berat. Kedua mata Qiandra merah, tampak semakin menawan. Namun, wajahnya yang pucat membentuk

