Pernikahan ini, seperti sebuah fase yang dilalui Qiandra hampir tanpa sadar. Dari sejak bangun di pagi hari, Qiandra semacam kelinglungan. Apa yang ia lakukan bisa dikatakan sekadar tindakan otomatis. Menerima jemputan, datang ke KUA, melakukan ijab qobul, dan langsung melakukan resepsi di gedung yang disewa oleh keluarga Rajendra dalam pernikahan ini.
Hiruk pikuk orang, ucapan selamat, suara musik latar, segala macam bentuk keramaian dalam resepsi, seperti adegan yang dangkal dari suatu film murahan yang Qindra tonton dalam drama siang hari.
Pernikahan ini nyata, tapi rasanya Qiandra terjebak dalam mimpi. Tamu-tamu itu nyata, tapi semuanya seperti bayangan demi bayangan yang keberadaannya hanya menjadi latar samar. Nathan pun juga nyata, tapi keberadaannya masih sulit untuk diterima Qiandra. Alam bawah sadarnya membentuk suatu benteng kokoh yang membatasi kedekatan Nathan dan Qiandra.
Semua yang Qiandra berikan pada pernikahan ini palsu. Senyumnya, keramahannya, kebahagiaannya, dan kebersamaannya bersama Nathan. Beruntung Rifki tidak termasuk menjadi tamu yang hadir. Dengan keadaan Qiandra sekarang, dia takut Rifki mengkritik kepalsuan sikapnya yang murahan. Lelaki itu terlalu sensitif. Lelaki itu terlalu mengenal Qiandra sehingga mudah baginya membaca emosi Qiandra, bahkan untuk yang tersembunyi sekali pun.
Lebih beruntung lagi, Stephanie juga tidak hadir dalam resepsi. Entah wanita itu sengaja tak diundang, atau sengaja melewatkan undangan. Apa pun itu alasannya, lebih menguntungkan bagi Qiandra tanpa kehadiran wanita tersebut. Banyak mata yang telah melemparkan sinpati dan empati pada Qiandra, menyadari ada wanita yang masih bersedia menikahi lelaki lumpuh. Jika Stephanie hadir malam ini, sorot simpati itu pasti akan lebih menjadi-jadi, karena adanya perbandingan. Satu wanita mampu melarikan diri dari tragedi, satu wanita jusrtru mengorbankan diri dalam tragedi. Meskipun kaya, wanita mana yang bisa seratus persen menerima menikahi lelaki diaabilitas yang kemungkinan sembuhnya rendah?
Saat resepsi berakhir, Qiandra dibawa oleh sopir Nathan ke suite room hotel malam ini. Sementara Nathan, dia berkata akan menyusul Qiandra tidak lama kemudian. Ada beberapa orang penting yang masih harus Nathan temani katanya.
Qiandra diarahkan ke sebuah suite room di salah satu hotel bergengsi. Setelah masuk dan membersihkan make up wajahnya, Qiandra langsung meringkuk di atas ranjang dengan pose mencari kenyamanan, lelah oleh resepsi hari ini. Tulang-tulangnya memprotes, sendi-sendinya berteriak-teriak kesakitan. Demi kesehatannya sendiri, Qiandra lebih suka mengistirahatkan tubuh, bahkan tanpa berkeliling ruangan demi ruangan untuk mengagumi furnitur hotel ini secara mendetail.
Sebelum Qiandra terlelap, dia hanya berharap, semoga Nathan tidak mendatanginya malam ini. Jujur, mental Qiandra tidak sekuat itu jika dituntut untuk menyempurnakan pernikahan secepat ini.
…
Sudah hampir tengah malam, saat Nathan datang ke suite room hotel yang ia siapkan untuknya dan Qiandra. Seorang lelaki berpakaian hitam mendorong kursi roda miliknya hampir tanpa ekspresi, berhenti persis di depab pintu kamar.
"Cukup!" titahnya, nada suaranya mengandung aura dingin yang menyebar.
Lelaku berpakaian hitam mundur beberapa langkah, mengamati dengan seksama hingga majikannya masuk sempurna ke dalam ruangan melalui kartu kamar hotel yang dibawanya.
Bekerja untuk Nathan tidak terlalu merepotkan. Sebagian besar waktu, laki-laki itu diam, dan hanya memiliki satu dua perintah yang sesekali ia berikan. Kuncinya hanya satu. Jangan terlalu lancang ikut campur dengan urusan pribadinya. Itu saja.
Nathan menghidupkan daya kursi rodanya, mengarahkannya dengan mudah melewati ruang tamu dengan sofa merah menyala seperti api. Sememjak kakinya tidak lagi berfungsi, Nathan menggunakan kursi roda listrik yang dipesan oleh keluarganya. Jenis kursi roda ini mudah digerakkan dengan mesin, dan tidak menuntut banyak tenaga dalam pengoperasiannya.
Di atas ranjang king size, Qiandra terbaring meringkuk dengan selimut tebal seperti kepompong, membiarkan AC ruangan dinyalakan dengan suhu rendah. Wajah wanita itu terlihat berkerut tak nyaman, seolah-olah mengalami semacam tekanan yang bahkan ia bawa dalam tidurnya.
Nathan mendekat ke arah Qiandra, ingin melihat lebih seksama wanita itu. Namun, saat jarak mereka hanya tinggal satu meter, Qiandra beringsut tak nyaman, seolah-olah menyadari kehadiran seseorang yang tak ia harapkan. Nathan membeku beberapa detik. Tangan di atas sandaran kursi menegang hingga ke buku-buku jarinya. Dia mundur kembali, memberikan ruang pribadi pada Qiandra. Wanita yang tengah tidur itu kembali tenang, seolah-olah tidak lagi mengalami ketidaknyamanan. Bahkan di alam bawah sadar pun, wanita itu menolak Nathan.
Senyum sinis terukir di bibir Nathan, mengiringinya hingga ia berada di balkon hotel. Pandangan malam ini kelam, hanya menyisakan kerlip-kerlip cahaya dari lampu-lampu kota. Tak ada bintang. Tak ada rembulan. Angin berembus kencang, membawa kelembaban di atas rata-rata. Mungkin sebentar lagi akab turuh hujan.
Nathan mengetuk-ngetukkan ujung jarinya di atas paha. Masih tersisa sedikit respon dari kakinya, tetapi respon itu tidak lagi senormal dulu. Kaki ini mengalami kemunduran, membuatnya dinilai sebagai orang cacat.
Semenjak kecelakaan itu, banyak hal telah berubah. Orang-orang yang dulu dekat dan mengaku teman, sikap mereka banyak yany canggung. Seolah-olah yang tersisa adalah kesopanan pura-pura, bukan lagi keakraban sesama kawan. Para bawahannya melirik Nathan diam-diam setelah ia berbalik pergi, menjadikan Nathan merasa ia tak lebih dari objek tontonan masal. Para wanita—ini perubahan yang paling drastis—tidak lagi memandangnya dengan tergila-gila. Sebagian besar dari mereka menyimpan keengganan, sebagian dari mereka memberikab simpati. Yah. Dua emosi itu tidak Nathan butuhkan sama sekali.
Nilai yang dibawa oleh orang disabilitaa ternyata tak sama seperti orant normal. Untuk diakui, para kaum disabilitas butuh kerja keras yang luar biasa, membuktikan pada dunia bahwa di balik kekurangannya, ia punya nilai pengimbang yang patut diperhatikan. Hal-hal seperti ini luput dari perhatian Nathan, dan baru dirasakannya saat ia tak lagi sempurna seperti dulu. Ternyata menjadi kamu lemah seperti ini, segalanya menjadi penuh tantangan. Tantangan untuk tetap dilihat setara tanpa harus menerima belas kasihan, tantangan untuk tetap diterima dengan layak tanpa harus ditatap sebagai orang aneh. Tantangan untuk tetap produktif, menghasilkan sesuatu di luar nalar sebagai pembuktian kekuatan miliknya.
Nathan tahu hari-hari di depan tidak akan pernah mudah. Ada rintangan demi rintangan yang akan menyerangnya satu demi satu, mencoba melemahkan dirinya. Bukan hanya secara fisik dan finansial, tapi juga secara mental. Nathan juga harus mempertahankan harapan kecilnya untuk tetap percaya pada kekuatan keaijaiban. Mendorong dirinya tanpa lelah melakukan terapi dan konseling, berharap langkah-langkah itu mampu membuka kesempatannya dalam meraih setitik kemungkinan sembuh.
Untuk tetap mempertahankan keyakinan seperti itu, dibutuhkan mentalitas kuat yang tak mudah hancur. Nathan harap dirinya cukup tangguh dalam hal ini.
Dia juga memiliki satu harapan tambahan.
Istrinya bersedia memberikan kesempatan untuk menerima dirinya, dengan semua kelebihan dan kekurangannya.
Mungkinkah itu?
Masih bisakah ia menaklukkan hati Qiandra yang dingin dan beku?
…