“Apa kamu sudah tidak canggung lagi mendengar kita dijodoh-jodohkan?” tanya Dinda tiba-tiba saat duduk di samping Hein. “Hah?” Dinda kembali tertawa, ia mengangguk pelan. “Iya, bukankah biasanya kamu selalu menghindariku jika bertemu? Itu karena kamu merasa canggung kan?” tanya Dinda lagi sambil mengambil cemilan yang berada di meja. “Bukan begitu ceritanya, aku malah merasa gak enak sama kamu. Maaf ya, keluargaku memang begitu. Gak bisa liat yang sendirian dikit hebohnya satu kelurahan buat pada kenalin” kekeh Hein membuat Dinda ikut tertawa mendengarnya. “Maaf tadi aku mendengarkan percakapan soal kekasihmu Dara, apa kalian putus?” Hein terdiam, ia kembali meneguk air putih. “Ya, dia sedang sibuk. Ras

