Hein terlihat begitu resah, ia berkali-kali mengecek ponselnya menunggu kabar dari Dara karena ia tidak mau menghubungi Dara duluan. Ia takut akan menganggu Dara yang masih bersedih. Hein menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya kembali menatap layar komputer, melihat angka-angka dan neraca penjualan yang harus diselesaikan hari ini. “Pak Hein, gak akan makan siang? Mau terus kerja?” tanya Firly yang tengah merapikan meja kerjanya. “Kita mau makan Nasi Padang di depan nih, mau ikut apa mau titip sesuatu?” Hein menggeleng, “Saya belum lapar, lagipula ini masih banyak yang harus saya kerjakan. Kasihan Dara jika kembali banyak pekerjaan yang belum selesai” jawab Hein. Julio mengepalkan kedua tangannya, berjalan

