BAB 10

1844 Kata
Oke, dia sangat ketakutan sekarang. Dengan tangan gemetar, Naura mengeluarkan Hp-nya dan mencoba menghubungi Ade. ‘Tolong, angkat please!’ doa Naura dalam hati. Naura baru saja akan memutus hubungan telponnya ketika dia mendengar suara berat yang sangat disukainya. “Maaf aku gak bisa jemput kamu tadi, banyak kerjaan di kantor,” “De, aku bisa minta tolong?” “Minta tolong apa? Rame banget disitu, kamu belum pulang? Kamu dimana sekarang?” tanya Ade dengan suara yang terdengar panik. “Aku masih di depan cafe, aku gak nemu taksi daritadi. Ehm, bisa minta tolong jemput gak?” tanya Naura dengan suara sedikit serak seperti menahan tangis. “Ada toko di sekitar situ?” “Huh? Ada tempat makan sih K*C, tapi masih agak jauh didepan” apa hubungannya dengan toko? “Kamu kesana, tunggu aku disana. Jangan di pinggir jalan, aku kesana sekarang,” “Oke, makasih,” “Langsung kesana sekarang, Ra,” “Iya iya, ya udah aku tutup dulu,” Naura menghembuskan nafasnya pelan. Oke, dia cukup lega sekarang. Naura menoleh kekanan-kiri untuk menyebrang dan mempercepat jalannya ketika dia mendengar celetukan pemuda-pemuda itu. ‘Mbak, mau kemana?’ ‘Sini saya anterin mbak,’ ‘Wah si mbaknya judes banget,’ ‘Gila, seksi abis man,’ Naura bergidik ketakutan mendengar ucapan mereka. Dia baru bisa bernafas lega ketika dia mendorong pintu tempat makan 24 jam itu dan merasakan hawa dingin AC yang menerpa wajahnya. Mungkin coca-cola dan ice cream bisa menenangkan detak jantungnya. “Maaf lama,” tanya Ade yang tiba-tiba duduk didepannya. Laki-laki itu masih terlihat tampan walaupun ada gurat-gurat kelelahan di wajahnya. Naura tanpa sadar menyodorkan ice cream-nya yang tinggal setengah ke arah Ade yang dibalas dengan tatapan bingung Ade. “Kamu mau? Atau aku pesenin sesuatu?” “Aku mau ice cream kamu aja,” sahut Ade dan mengambil gelas ice cream yang dipegang Naura. “Kenapa kamu belum pulang? Shift kamu selesai jam 6 kan?” tanya Ade dengan tatapannya yang kembali memicing tajam. Well, here we go. “Aku nunggu kamu,” Ade tersentak dan menatap Naura dengan intens. “Nunggu aku?” “Aku sms kamu gak kamu bales, telpon juga gak kamu angkat. Aku tau mungkin kamu sibuk, mangkanya aku nunggu kamu di cafe kali aja kamu dateng jemput,” jawab Naura sambil menundukkan kepala. Melihat itu, tatapan Ade melembut melihat Naura. “Sini deh,” sahut Ade lembut. “Ngapain?” “Sini sayang,” Ade menekankan ucapannya dan mengerlikan matanya. Naura mengehembuskan nafasnya kasar tapi tetap menghampiri Ade. Ade menggenggam tangannya ketika Naura sudah duduk disebelahnya. “Maaf ya, aku bener-bener sibuk hari ini. Maaf banget maaf, harusnya aku hubungi kamu tadi,” sahut Ade pelan sambil mencium punggung tangan Naura yang digenggamnya membuat hati Naura menghangat. “Forgive me, please!” Naura mencebikkan bibirnya kesal. “Aku pikir kamu marah sama aku,” “Jujur aku memang masih kesel, bukan sama kamu tapi sama kecuekan kamu. Tapi, hari ini aku memang banyak kerjaan yang gak bisa aku tinggal. Harusnya aku hubungin kamu tadi, maaf ya sayang,” Ade mengeratkan genggamannya di tangan Naura. Ade semakin mengeratkan genggamannya melihat Naura membuka mulutnya, masih terlihat kesal. “Sayang, please,” “Ih, kan aku belum ngomong apa-apa, udah dipotong aja,” jawab Naura kesal membuat Ade terkekeh geli. “Aku gak marah kok, cuma khawatir aja soalnya kamu sama sekali gak neghubungin aku hari ini, gak kayak biasanya,” Ade tersenyum melihat Naura menunduk, berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Lelaki itu mencium pipi menggemaskan Naura membuatnya semakin merona malu. “Jadi kamu udah ngerti kan rasanya khawatirin orang?” Naura mendongakkan kepalanya mendengar nada menggoda Ade dan menatapnya kesal. “Iya kan aku udah minta maaf, tapi kamu kemaren malah ninggalin aku,” “Aku gak maksud ninggalin kamu, sayang. Aku cuma kesel banget semalem, dan aku gak mau tambah bentak kamu,” “Iya, tapi jahat banget gitu ditinggalin. Pas lagi nangis lagi,” “Cie, yang gak mau ditinggalin. Bilang dong kalo mau ditemenin,” “Tau ah. Eh, itu ice cream aku kenapa dihabisin?” tanya Naura dengan wajah cemberut. “Kan tadi kamu yang nawarin?” “Iya maksudnya jangan dihabisin juga, ngeselin banget sih,” sungut Naura yang beranjak memesan ice cream untuk dirinya sendiri. Naura masih mendengar tawa Ade dibelakangnya. “Aku gak dibeliin?” “Pesen sendiri sana. Daritadi ngambilin punya aku terus,” “Kan tadi kamu yang nawarin aku, sayang,” “Sekarang udah nggak. Pesen sendiri sana,” “Pelit banget sih, yang,” sahut Ade yang langsung merebut sendok ice cream dan menyuapkan untuk dirinya sendiri. “Tuh kan, pesen sendiri kenapa sih?” “Lebih enak punya kamu,” “Mana bisa? Em. . .” Naura belum menyelesaikan ucapannya ketika Ade menyuapkan ice cream ke mulut Naura. “Kamu jadi cerewet banget deh,” sahut Ade mengerling ke arah Naura yang disambut dengan dengusan kasar gadis itu. “Udah ayo cepet habisin, kita langsung pulang udah malem,” “Iya udah, aku makan di mobil aja,” “Oke, ayo,” Ade berdiri dan menggenggam tangan Naura. Naura tersentak tapi membiarkan tangannya digenggam Ade. “Kamu tadi waktu telpon aku suaranya kenapa bergetar gitu kayak orang takut?” tanya Ade ketika mereka berada didalam mobil. “Eh? Nggak ah biasa aja,” jawab Naura tanpa melihat wajah Ade. Naura merasa ketika Ade sudah menatapnya, seakan-akan Ade selalu tau apa yang sedang dipikirkan Naura, dan itu berbahaya. “Kamu tau kan kamu gak akan pernah bisa bohong sama aku?” “Aku gak bohong,” “Ada yang gangguin kamu?” “Gak ada kok,” “Naura,” Naura seketika menoleh menatap Ade yang sudah lebih dulu menatapnya. ‘Kenapa dalam situasi seperti ini, lampu merahnya lama banget sih?’ Rutuk Naura dalam hati. “Gak sampek digangguin kok, cuma celetukan-celetukan gak penting,” “Serius kamu?” “Iya serius, lain kali aku tunggu di K*C aja kalo kemaleman lagi,” “Gak ada lain kali, aku akan usahain jemput kamu tepat waktu,” sahut Ade yang kembali fokus ke jalanan, perhatian kecilnya itu seketika membuat hati Naura menghangat. ~~~ Hari minggu adalah surga dunia bagi Naura. No kuliah, no kerja. Hari minggu adalah waktunya mendekam didalam kamar dan membaca novel di w*****d atau menonton film. Ditemani Hp, laptop, dan cemilan, maka seharian penuh Naura akan tetap bergelung di kasurnya yang empuk. Naura menutup wajahnya dengan bantal ketika cahaya dari luar menyilaukan dan menganggu tidurnya. ‘Perasaaan semalem sudah ditutup’ batin Naura. Naura menoleh bingung kemudian kembali memejamkan matanya, menyerahkan dirinya sepenuhnya dengan kehangatan kasurnya. “Astagfirullah, ini anak. Sayang, bangun,” Ade menepuk pipi Naura pelan yang dibalas dengan gumaman pelan Naura. Ade terkekeh pelan melihat ekspresi Naura. Dahinya berkerut dengan mulut yang sedikit terbuka. “Sayang, bangun,” sahut Ade dan menutup hidung Naura. Wajahnya semakin membrengut kesal ketika merasakan tidurnya terganggu. Naura mengerjapkan matanya dan menatap lelaki didepannya dengan bingung. Sepertinya dia sudah bangun, kenapa lelaki tampan ini ada didepannya? Naura menjulurkan tangannya dan mencubit pipi Ade dengan keras. “Aww, kenapa nyubit?” sungut Ade dan menatap Naura kesal. “Loh aku gak mimpi? Kamu ngapain disini, di kamarku?” teriak Naura yang seketika menarik selimutnya di atas d**a. “Udah jam 10, ayo bangun. Dasar kebo, jam segini baru bangun. Aku tunggu di dapur,” ucap Ade, meninggalkan Naura yang masih terbengong-bengong di tempatnya. Naura segera melangkah ke kamar mandi. Dia terkejut melihat bayangannya sendiri di cermin, Ade melihatnya dalam keadaan seperti ini? dasar si Ade kurang ajar, gak sopan. Ugh! ~~~ Keadaan cafe sepi sore itu, sudah sejam yang lalu Imelda meminta izin untuk mengantarkan ibunya ke dokter dan masih belum nampak batang hidungnya. Entah bagaimana Naura mendeskripsikan perasaannya saat ini. Semakin lama, hatinya mulai berdesir dengan perlakuan manis Ade terhadapnya. Jantungnya kerap kali berdegup kencang dan dia sangat mudah merona di dekat Ade. Apa mungkin dia bisa menyukai dua orang sekaligus? Dentingan suara Hp membuyarkan lamunan Naura. Nomor baru lagi. Naura mengerutkan keningnya, ini pasti nomor Hp kakaknya. Kakaknya masih terus mencoba menghubungi Naura, dan sekalipun tidak pernah Naura membalas sms ataupun menjawab telponnya. Baginya, hidupnya sudah lebih baik tanpa masa lalunya, dan kak Aya sudah sangat terlambat untuk hadir dalam hidupnya. Naura memilih menghapus pesan itu, sama sekali tidak berminat untuk membacanya. Sering kali Naura berharap dia bisa memiliki keluarga seperti layaknya orang normal lainnya. Keluarga yang dimilikinya hanyalah ibu dan adik-adik di panti. Butuh perjuangan yang cukup besar bagi Naura sehingga Naura bisa bersekolah tinggi dengan beasiswa. Naura tidak mau selalu merepotkan ibu panti yang masih harus menyekolahkan adik-adiknya. Jadi disinilah dia sekarang, melanjutkan sekolahnya dan bekerja untuk keperluannya dan membantu meringankan beban ibu panti. Flashback on Naura mengaduk-aduk caramel frappe-nya dengan tatapan kosong. Dia tidak mungkin hanya mengandalkan uang beasiswa untuk kehidupannya disini dan membantu ibu. Dia harus segera mendapatkan pekerjaan part-time. “Maaf, bisa saya duduk disini? Tempat lain sudah penuh,” Naura mendongakkan kepalanya dan tertegun melihat laki-laki tampan didepannya. Tatapannya yang teduh dan rahangnya yang kokoh membuatnya terpesona. “Mbak, halo?” Naura mengerjap kaget dan mengedarkan tatapannya ke sekeliling, benar saja tidak ada kursi kosong. “Oh iya, silahkan,” laki-laki itu duduk dan memainkan Hpnya, tidak ada tanda-tanda dia akan memesan makanan. ‘Laki-laki itu duduk disini Cuma buat numpang wifi?’ batin Naura. Sebenarnya Naura kesini juga karena tersedia wifi untuk mencari lowongan kerja di internet. Tetapi setidaknya dia memesan minuman. “Anda tidak memesan apa-apa?” tanya Naura pelan. Lelaki itu menoleh dan mengerlingkan matanya. “Apakah saya harus memesan sesuatu?” “Setidaknya apabila anda hanya menumpang wifi, anda bisa memesan minuman seperti saya?” “Anda hanya menumpang wifi?” tanya laki-laki itu dengan menahan senyumnya. “Well, kind of. Tetapi setidaknya saya memesan minuman. Tidak seperti anda,” “Saya tidak perlu memesan di cafe saya sendiri,” Naura tersentak dan menundukkan wajahnya yang sudah memerah. Aarrgh b**o banget!!!! ‘Kalau laki-laki itu memang pemilik cafe, kenapa dia harus duduk disini? Apa dia tidak punya kantor sendiri?’ “Jadiii. . kamu disini hanya menumpang wifi?” Naura yakin wajahnya sudah semakin merah seperti kepiting rebus. “Kenapa? Tidak ada salahnya kan? Anda memasang wifi kan juga untuk digunakan?”sahut Naura ketus. “Tidak perlu marah-marah seperti itu. Kamu sudah kerja?” “Belum, mangkanya ini saya sedang mencari lowongan,” “Kerja disini saja. Saya sedang membutuhkan pegawai,” Naura mengerjap kaget, tidak menyangka akan mendapatkan tawaran seperti ini. “Anda serius? Saya tidak membawa CV saya sekarang. Kapan saya harus wawancara?” Raihan terkekeh melihat antusiasme Naura. “Tidak perlu, kamu langsung datang saja besok jam 8 untuk tanda tangan kontrak dan briefing,” “Saya langsung diterima?” tanya Naura kaget. “Kamu tidak mau langsung diterima?” “Eh. . hem. .maksud saya. . .” “Saya tunggu besok jam 8,” “Baik, terimakasih pak. . ?” “Cukup Raihan saja, tidak perlu pak,” Naura mengerutkan keningnya, bertanya-tanya dimana dia pernah mendengar nama itu. Dia menepiskan pikiran tidak penting itu dan menyambut uluran tangan Raihan. “Saya Naura,” Naura melihat laki-laki itu berkerut bingung seperti memikirkan sesuatu. “Oke, Naura. Sampai ketemu besok pagi,” Flashback off “Kenapa bengong?” tanya Raihan yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. “Makasih ya bang,” Raihan mengerjapkan matanya terkejjut. “Makasih untuk?” Naura menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. “Mau ngomong makasih aja,” “Kamu tuh ya, suka gak jelas,” sahut Raihan sambil mengacak pelan rambut Naura. “Biarain,” Naura menjulurkan lidahnya, tidak peduli Raihan bisa mengangganya kekanak-kanakan. “Abang sudah makan?” “Belum, kamu? “Baru aja selesai. Kenapa belum makan, bang?” “Temenin abang ya? Abang lagi gak kepengen makan sendirian,” “Bentar lagi waktu istrahat Naura habis bang,” “Ya udah temenin abang makan malam kalo gitu,” Naura menatap Raihan ragu. Ade akan menjemputnya nanti dan mengajaknya makan malam. “Dijemput Ade ya?” Raihan tersenyum mengerti. Sejak kapan dia mendahulukan Ade seperti ini? biasanya Naura akan sangat senang ketika Raihan mengajaknya keluar, dan tanpa ragu-ragu lagi langsung menerima ajakannya. “Besok abang ke cafe jam berapa?” “Kenapa?” tanya Raihan. “Naura bawain sarapan ya?” Raihan seketika tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Makasih ya kecil,” sahut Raihan, mencium puncak kepala Naura membuat gadis itu tergagap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN