Kaila tersentak dalam tidurnya. Mimpi buruk itu kembali hadir. Mimpi di mana ia melihat kakaknya tergeletak tak bernyawa. Kaila bangun. Napasnya masih terengah. Ia pengusap peluh yang membasahi wajahnya. Kaila memijit pelipisnya sambil memejamkan matanya sejenak. Ia kembali berbaring, mencoba tidur kembali. Namun nihil, rasa kantukmya telah menghilang. Ia pun hanya berdiam sambil menatap langit-langit kamarnya. Sudut bibirnya tertarik sedikit. Tanpa sadar air matanya pun menetes. Ia merindukan sosok kakaknya. Andai saja waktu dapat diulang. Mungkin kakaknya masih ada hingga saat ini. Namun nyatanya, waktu terus berputar ke depan dan mengambil apa saja yang dia inginkan, tanpa mau tau apa yang akan terjadi nanti pada orang yang ditinggalkan. Tak ada mesin pengubah masa lalu, tapi akan selal

