9. Birthday Party

1247 Kata
Santy mengusap air matanya. Tadi ia sedang pergi ke supermarket dan pulang mendapatkan surat yang ternyata dari suaminya. Bahkan ia sendiri lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia terharu sekaligus ingin tertawa. Tak pernah suaminya menjadi manis seperti ini. Suaminya bukanlah tipe pria yang suka berkata manis. Kalian baca sendiri kan bagaimana surat yang ditulis suaminya itu. Tiba-tiba telinga Santy pun menangkap suara krasak-krusuk dari taman belakang rumahnya. Ia pun bergegas menuju taman belakangnya. Langkah Santy terhenti. Matanya mengerjap beberapa kali. Bahkan ia sempat tak mempercayai penglihatannya saat ini. Taman belakangnya telah diubah. Makanan berjejer rapi di atas meja yang ia sendiri tak tau entah kapan meja-meja itu ada. Ada pula panggung kecil. Kakinya melangkah pelan ke depan. Di atas panggung itu ada suami dan kawan-kawannya. Vando sibuk dengan keyboard, Bima dengan bass, dan suaminya sibuk dengan gitar. Langkahnya terhenti tepat di samping Ara, istri dari kawan suaminya sekaligus tetangga dan ibu dari pacar anaknya.  "Gue gak nyangka kalau mereka anak band," kata Ara. Santy menengok, menatap wanita di sampingnya yang tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari depan. "Lo tau? Ketidaktahuan gue lah yang membuat gue jadiannya sama Vando. Kayak sekarang, dulu gue kira dia gak bisa main bola dan akhirnya gue pun ngasih tantangan t***l yang akhirnya gue terjebak sama tantangan gue sendiri," lanjut Ara. Sudut bibirnya terangkat.  Santy kembali menatap suaminya yang sepertinya masih belum menyadari kehadirannya. Ardo masih sibuk mengatur gitarnya. Ia tau kisah Ara dan Vando dari suaminya. Kisah yang menarik menurutnya. Mata Ardo tak sengaja menangkap sosok yang ia tunggu. Senyumnya mengembang. "Halo, Sayang. Kamu mungkin bingung sama semua ini, tapi kalau kamu mau protes, tolong protes sama Vando yah, soalnya dia penyumbang terbesar ide ini." Santy mendengus. Dugaannya benar. Tak mungkin ini rencana suaminya tanpa bantuan dari orang lain. "Oke, karena kamu udah datang, aku mau bawaan satu lagu spesial buat kamu," lanjut Ardo. "Bukan buat kamu aja sih, tapi buat para istri kita-kita." Ara menggeleng. Bagaimana pun empat sekawan itu memanglah absurd parah. Selain dirinya ada juga istri dari Bima. Bahkan anak-anak mereka pun ikut karena telah pulang sekolah. Tinggal anaknya sama anak Santy yang belum hadir. Musik pun mulai berbunyi.  Another day without your smile Another day just passes by But now I know how much it means For you to stay right here with me The time we spent apart Will make our love grow stronger But it hurts so bad I can't take it any longer I wanna grow old with you I wanna die lying in your arms I wanna grow old with you I wanna be looking in your eyes I wanna be there for you, sharing everything you do I wanna grow old with you A thousand miles between us now It causes me to wonder how Our love tonight remains so strong It makes our risk right all along The time we spent apart Will make our love grow stronger But it hurts so bad I can't take it any longer I wanna grow old with you I wanna die lying in your arms I wanna grow old with you I wanna be looking in your eyes I wanna be there for you, sharing everything you do I wanna grow old with you Things can come and go I know but Baby, I believe Something's burning strong between us Makes it clear to me I wanna grow old with you I wanna die lying in your arms I wanna grow old with you I wanna be looking in your eyes I wanna be there for you, sharing everything you do I wanna grow old with you (I Wanna Grow Old With You – Westlife)  Lagu telah selesai dinyanyikan. Santy langsung berlari ke pelukan Ardo. Ardo terkekeh lalu mengeratkan istrinya. "Happy birthday, Sayang." "Terimakasih, Sayang," gumam Santy. "Nona, kamu gak mau peluk aku juga gitu kayak Santy?!!" teriak Vando dari atas panggung. "Ogah!" sahut Ara. Ngapain juga ia harus memeluk suami sintingnya itu. "Yaudah kalau gitu aku aja deh yang meluk kamu, Nona!" teriak Vando lalu berlari menghampiri istrinya. Ara menatap Vando ngeri. Dengan sigap ia pun berlari juga.  "Kok kamu lari, Nona?!" “Kamu sendiri ngapain lari ngejar aku, Alien?!!" "Kan kamu lari, yah aku kejarlah!" "Coba aja kalau bisa nangkep aku!" "Oke! Liat aja pembalasan aku, Nona!" Ara dan Vando pun akhirnya kejar-kejaran. Sementara yang lain hanya tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua. Vando menambah kecepatan larinya. Dengan mudah ia pun menangkap istrinya. "Kenaaa!" seru Vando riang sambil memeluk istrinya dari belakang. Ara tertawa saat tangan Vando menggelitik pinggangnya. "Geli, Alien!" "Bilang dulu, I love you Alien," kata Vando. "Ogah!" "Kalau gitu rasakan ini." Vando semakin jadi menggelitik pinggang istrinya. Ara semakin terbahak. Ia tak tahan lagi. "Oke, oke, I love you Alien," kata Ara terengah. Ia menyerah. Vando berhenti. Ditatap wajah istrinya. Mata istrinya berair membuat ia merasa bersalah. Vando pun mengecup kedua sudut mata Ara. "Sory, Nona." Ara terkekeh. Ia pun balas mengecup bibir Vando sekilas. "Woy! Yang punya acara kan gue sama istri gue, kenapa kalian yang menebarkan lope-lope sih!" protes Ardo membuat Vando dan Ara kembali tertawa. *** "Kenapa gak kita samperin aja sih si Arin suruh bareng," kata Dennis saat Erlan dan Gio mengikuti Arin pulang secara diam-diam. "Lo mau tau kan siapa Arin sebenarnya?" tanya Gio. "Lah kan gue udah tau. Dia kembaran lo dan pacarnya Erlan," sahut Gio. "Lo belum tau semuanya. Lo harus tau ini biar gak berani macem-macem sama cewek gue," gumam Erlan. "Siapa juga yang mau macem-macem," gerutu Dennis. Ia pun kembali menatap Arin yang sedang berjalan kaki menuju rumah itu. Sementara itu Arin terus berjalan. Tadi ia sedang menyalin catatan di papan tulis. Sebenarnya sih ia ketiduran. Pas bangun ternyata sudah hampir jam pulang. Chlora dan Fio tadi menawarkan catatannya untuk di bawa pulang. Namun, ia paling malas bila harus menyalin di rumah, sedangkan ia sudah mempunyai PR yang harus dikerjaan. Erlan dan Gio sudah pulang. Ia pun memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah. Arin memghela napas malas saat ada tiga anak cowok yang menghalangi jalannya. "Lo yang namanya Arin?" tanya salah satu dari mereka. "Iya kenapa? Kalau gak penting-penting amat mending minggir deh, gue lagi buru-buru soalnya." Arin menatap jam tangannya. Ia sudah berjanji akan menghadiri birthday party dari mama Santy. Ketiga anak cowok itu mencibir. Bagaimana mungkin sosok nerd itu selalu menang saat berkelahi? Tanpa aba-aba mereka pun langsung menyerang Arin. Untung Arin cukup sigap. Ia langsung menangkis pukulan yang mengarah pada dirinya. Sementara Tak jauh dari tempat Arin berkelahi, Dennis menatap Arin tak percaya. Cewek itu benar-benar di luar dugaannya. Dennis kembali melongo saat Arin bisa begitu mudahnya menjatuhkan lawan. Arin mengerutu dalam hati. Bagaimana mungkin mereka mangajaknya berkelahi padahal mereka tak bisa berkelahi dengan benar. Arin kembali melayangkan tinjunya.  "Stop!" suruh Arin. Mereka bertiga pun berhenti lalu menatap Arin bingung. "Ntar dulu bentar, gue haus mau minum dulu," kata Arin. Ia pun mengambil botol airnya yang berada di dalam tas. Setelah selesai ia kembali menaruh botol minumnya. "Yuk lanjut!" Arin menganas. Ia tak mau buang-buang waktu lagi. Dengan mudah ia pun menumbangkan ketiga cowok itu. Arin tersenyum sinis. Dengan santai ia kembali melangkah meninggalkan ketiga cowok itu yang tergelak. "Gimana? Berani gak?" goda Gio. Dennis menelan ludah. "Gue masih sayang nyawa, Cuy." Gio dan Erlan pun terkekeh. Erlan pun memberhentikan mobil Dennis di dekat gadisnya. Arin menoleh menatap mobil itu bingung. "Seblak, Ayo masuk!" ajak Erlan. "Lah kalian belum sampai rumah?" tanya Arin bingung. "Kalau udah kita gak mungkin di sini, Arin," jawab Gio. "Buruan masuk! Apa lo mau jalan kaki aja?" "Jahat!" gerutu Arin. Ia pun masuk. Ia duduk si samping Dennis. Sementara Erlan dan Gio di depan. "Lo kenapa, Den?" tanya Arin saat melihat wajah pucat Dennis. "Sawan dia, Rin," ledek Gio.  Arin mengendikan bahu gak peduli. Ia kembali duduk dengan tenang. "Santen, jangan lupa es krim." Erlan terkekeh. Gadisnya tak akan pernah lupa bila menyangkut es krim dan makanan.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN