BAB 18 MENJAUH

1147 Kata
Marsha merutuki dirinya sendiri karena menanyakan sesuatu yang membuat Melani akhirnya meninggalkan kamar perawatannya. Dia tidak tahu kalau hal itu menyinggung perasaan Melani.   Bukankah dia memang benar menanyakan hal itu? Tapi reaksi Melani tak pernah di duganya. Wanita itu langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkannya. Marsha bahkan berteriak memanggil wanita itu, tapi Melani pergi begitu saja tanpa menoleh lagi kepadanya.   Ini sudah hari ke tiga Marsha terbaring di sini. Sebenarnya dia ingin pulang. Tapi Dokter Rio menyarankan agar Marsha berisitirahat total di sini. Sejak Melani pergi, wanita itu tidak pernah lagi menjenguknya.   "Mau kemana?"   Suara Wina membuat Marsha menoleh ke ambang pintu. Pagi ini Marsha ingin turun dari atas brankar. Ingin berjalan-jalan di taman. Sudah merasa bosan di perlakukan sebagai orang sakit.   "Mau keluar. Pengen jalan-jalan di taman."   Wina melangkah mendekatinya dan kini mengecup pipinya dengan sayang. Wanita itu memang sejak Marsha sakit selalu menemaninya. Selepas,shiftnya ataupun di sela-sela waktu senggangnya. Winalah yang menjadi teman Marsha kalau dia bosan di sini.   "Pakai kursi roda tapi ya?"   Marsha langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau dianggap sakit. Toh dia sudah lebih sehat daripada 3 hari yang lalu.   "Aku bisa jalan."   Marsha bersikeras untuk berjalan dan kali ini Wina tersenyum lembut lagi.   "Ya udah. Tapi pakai jaket yang tebal ya?"   Wina kini melangkah ke lemari mini yang ada di samping brankar. Lalu mengambil jaketnya dan memberikannya kepada Marsha.   "Aku temani bentar ya sebelum aku visit ke pasien?"   Marsha langsung mengangguk dan merasa senang karena Wina, lebih perhatian kepadanya sejak dia sakit.   "Gak bisa temani aku sampai nanti sore?"   Marsha melihat Wina menggelengkan kepalanya.   "Banyak pasien yang harus di tangani. Lagipula karena Dokter Melani cuti aku jadi yang menangani pasiennya."   Menyebut nama Melani, Wina sedikit cemburu. Sejak masalah ciuman palsu itu sebenarnya Wina masih marah. Hanya saat mendengar Marsha sakit, kekasihnya itu langsung menemuinya dan dengan susah payah Marsha menjelaskan kalau itu semua hanya kebohongan dari Melani. Untung saja Wina akhirnya percaya. Bahkan mengatakan kalau Melani sering menjahatinya seperti itu.   "Cuti?"   Marsha mengangkat alisnya. Mendengar hal itu dia nampaknya tidak senang.   Wina langsung merangkulkan lengannya di pinggangnya. Dan kepala wanita itu rebah di dadanya   "Iya. Udah 3 hari ini. Katanya sih lagi nyiapin acara buat nikahan gitu."   Tentu saja Marsha langsung mengernyitkan keningnya. Dan tidak suka mendengar kabar itu. Siapa yang akan menikah dengan Melani? Kevin? Tapi kata papanya Melani belum mempunyai kekasih?   "Nikah sama siapa?"   Marsha kini tanpa sengaja mengucapkan itu. Dan membuat Wina langsung menatapnya.   "Ya sam a tunagannyalah. Ah udah males bahas dia. Katanya mau ke taman?"   Marsha akhirnya mengangguk kan kepalanya mendengar ucapan Wina. Toh dia juga tidak boleh membahas tentang Melani di hadapan kekasihnya itu.   ****** Setelah puas menghirup udara pagi di taman. Sementara Wina sudah kembali bertugas. Marsha akhirnya melangkah ke ruangan kantor papanya. Ada yang mau ditanyakan nya.   "Meninggal? Innalilahi wainnailaihi rojiun. Yang tabah ya."   Suara papanya yang sedang bertelepon itu terdengar muram saat Marsha memasuki ruangan papanya. Sang papa yang melihatnya langsung menghentikan sambungan telepon dan kini menatap Marsha dengan terkejut.   "Udah sembuh Cal?"   Marsha akhirnya mengangguk dan kini duduk di depan meja kerja papanya.   "Alhamdulillah udah pa. Eh siapa yang meninggal pa?"   Marsha kini melihat papanya menghela nafasnya. Lalu menatap jam yang melingkar di tangannya.   "Papanya Dokter Melani. 3 hari yang lalu mengalami kecelakaan mobil. Dan pagi ini meninggal dunia setelah koma selama ini."   "Ya Allah."   Marsha benar-benar terkejut dengan informasi itu. Dia merasa sedih untuk Melani. Dan kemudian mengkhawatirkan wanita itu. Bukankah kemarin dulu, Melani mengatakan hanya papanya yang menemaninya? Bagaimana keadaan Melani saat ini?   Marsha langsung beranjak dari duduknya. Membuat papanya terkejut.   "Pa, Marsha ikut takziah ke tempat Melani."   Sang papa langsung mengangguk.   "Ok. Papa juga akan ke sana."   ****** Rumah yang kemarin menjadi saksi bisu saat Marsha menggoda Melani kini terlihat begitu suram.   Ketika mobil papanya sudah terparkir di depan pintu gerbang rumah Melani. Rumah itu sudah di penuhi orang. Baik yang bertakziah, ataupun orang sekitar membantu semuanya.   Saat Marsha menginjak rumput hijau di halaman taman rumah Melani. Dia melihat Melani baru saja menyalami tamu-tamunya. Dan saat mata mereka bertemu. Sungguh, Marsha ingin rasanya merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Menghiburnya agar tidak terlihat begitu pucat dan sedih.   Papanya menepuk bahunya. Membuat dia tergeragap dan tersadar dari lamunan nya.   "Om ikut berduka cita buat papa kamu ya Mel."   Melani sudah ada di depan mereka saat papanya mengucapkan itu. Dan Melani mengangguk.   "Maafin semua kesalahan papa ya Om." suara Melani terdengar begitu lirih.   "Papa kamu itu tidak pernah berbuat salah kepadaku. Dia sahabat paling baik. " sang papa lalu berpamitan untuk menyapa kerabat Melani yang lain.   Meninggalkan mereka hanya berdua di halaman.   "Mel. Kamu yang tabah ya?"   Melani langsung menatap matanya. Hanya mengangguk dan akan melangkah meninggalkannya saat Marsha menyentuh lengan Melani. Menghentikan langkah wanita itu.   "Kamu sudah makan belum? Kamu tampak begitu pucat."   Melani kini menatap matanya lagi. Kali ini benar-benar ada kesedihan di dalam mata Melani.   "Aku sudah makan. Maaf. Aku harus menemui tamu yang lain."   Marsha akhirnya melepaskan tangan Melani. Dan menatap nanar wanita yang kini sudah melangkah meninggalkannya.   Jadi selama 3 hari ini Melani menunggui papanya yang sedang terbaring koma? Berarti omongan Wina salah? Kenapa wanita itu berbohong kepadanya?   Saat Marsha ingin melangkah mendekati sang papa,yang tak jauh di depannya. Dia mendengar orang-orang berteriak. Jaraknya dengan Melani memang dekat, karena wanita itu sedang menyalami tamu yang datang tepat di ambang pintu gerbang rumahnya.   Marsha langsung berlari ke arah Melani saat melihat Melani terjatuh di atas rumput dan tidak sadarkan diri.   "Mel."   Marsha akhirnya merengkuh wanita itu juga atas pangkuannya saat dia berlutut di depan Melani.   ****   "Ah, aku dimana?"   Marsha langsung terbangun saat mendengar suara Melani. Karena panik saat melihat Melani jatuh tadi, Marsha segera membawa Melani ke rumah sakit. Dan langsung diberikan pertolongan.   Melani kelelahan dan depresi. Keterangan dokter yang memeriksa Melani. Wanita itu sempat siuman saat di periksa tapi kemudian tertidur.   Hari sudah malam memang, saat Melani benar-benar terbangun. Marsha sendiri sejak tadi tidak beranjak dari sisi Melani   "Kamu ada di rumah sakit."   Melani membelalak dan kini langsung ingin beranjak bangun. Tapi Marsha mencegahnya.   "Jangan bergerak dulu. Kamu butuh istirahat."   'Tapi rumah?"   Melani kini mengusap keningnya dan memijatnya sendiri. Tentu saja Marsha langsung mengulurkan tangan untuk membantu memijit keningnya.   Tapi Melani kembali menepis tangannya yang membuat Marsha mengangkat tangannya.   "Aku ingin sendiri."   Suara penuh kesedihan itu membuat Marsha menghela nafasnya. Lalu menggeleng.   "Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu dalam keadaan tidak bisa di tinggal sekarang ini."   Melani kini menatapnya dengan muram. Tapi kemudian membalikkan tubuhnya dan membelakangi Marsha.   "Terserah."   Ucapan ketus itu membuat Marsha menatap punggung Melani yang tegang itu.   Dan untuk beberapa saat Marsha hanya menatap. Membiarkan wanita itu untuk merenung sendiri.   Marsha batu saja akan beranjak dari kursinya saat mendengar isakan yang sangat lirih. Dan melihat bahu Melani bergetar.   Marsha yakin kalau Melani menangis untuk saat ini.   "Mel."   Marsha mencondongkan tubuhnya. Dan melongok Melani yang kini tengah meringkuk menyembunyikan wajahnya di balik lekuk tangannya. Hati Marsha berdarah melihat itu semua.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN