09 PULANG

884 Kata
Marsha bersikeras mengajak Melani pulang. Wanita itu butuh istirahat total. Selama 3 hari di Bandung, Melani sepertinya terlalu memforsir tenaganya. Kemarin setelah dia tertidur di atas sofa, Marsha hanya menyelimutinya. Dan membiarkan dia tertidur di situ. Tidak membangunkannya saat room service sudah memberitahu kalau lampu di kamar Melani sudah benar.   Dan saat paginya Marsha keluar dari kamarnya. Melani sudah tidak ada di atas sofa. Marsha akhirnya ke rumah sakit dan mendapati Melani sudah berkutat lagi dengan pasien-pasiennya.   Hal itu membuat Marsha tersentuh. Dedikasi Melani untuk pasien sangat tinggi. Padahal Melani sendiri tangannya tengah terluka.   Seperti sore ini, akhirnya acara amalnya selesai. Marsha banyak mendapatkan ucapan terimakasih dari berbagai pihak yang mendukung karena telah mengadakan acara ini.   Tapi pikirannya tidak fokus dan hanya terus memikirkan Melani yang sampai sore begini belum juga bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.   Akhirnya Marsha mencarinya ke bangsal anak. Dan mendapati Melani ada di sana, sedang menghibur seorang anak yang tengah diinfus.   "Tidak sakit kan? Di minum obatnya pasti besok sudah bisa lari-lari lagi ya?"   Marsha menghentikan langkahnya dan kini mengamati Melani yang sedang berbicara dengan lembut kepada anak kecil itu. Padahal ini bukan tugas Melani tapi Melani dengan sangat sabar merawat anak itu.   "Pak Marsha, sudah mau kembali ke Jakarta ya?"   Sapaan Dokter Rino, salah satu dokter anak di sini membuat Marsha tersenyum. Dia mengangguk tapi tatapannya kini beralih ke Melani lagi.   "Nungguin dokter Melani ya? Dia sangat sabar ya. Rumah sakit sini pasti akan sangat senang mendapati dokter seperti Dokter Melani."   Marsha kembali mengangguk.   "Dia memang sangat sabar."   Jawabannya bersamaan dengan Melani yang tiba-tiba saja menoleh ke arahnya. Lalu tersenyum sopan. Benarkah wanita itu tersenyum kepadanya?   Tapi dering ponsel membuat Marsha akhirnya permisi kepada Dokter Rino. Dia keluar dari bangsal anak dan kini merogoh saku celananya.   Mengambil ponsel lalu tersenyum saat melihat siapa yang meneleponnya.   "Halo, sore Wina."   Sapanya saat mengetahui Winalah yang meneleponnya.   "Marsha. Hari ini pulang kan ya? Hati-hati di jalan ya?"   Marsha kembali tersenyum mendengar perhatian dari Wina. Dia memang sudah tidak canggung lagi kepada Wina. Hampir 3 hari ini komunikasi mereka sangat lancar. Bertelepon dan saling mengirimi pesan. Marsha yakin setelah sampai di Jakarta dia akan langsung melamar wanita itu untuk jadi kekasihnya.   Aroma strawberry menguar di sekitarnya. Marsha langsung menoleh ke arah sampingnya dan mendapati Melani sudah berdiri di sebelahnya.   "Ya sudah ya. Aku mau berangkat dulu. Sampai jumpa besok."   Dia mendengar Wina mengucapkan salam dan langsung menutup ponselnya.   "Aku mau menginap di sini selama satu malam lagi. Pasien di bangsal anak masih butuh perawatanku."   Ucapan Melani itu membuat Marsha memberengut. Dia menunggu sampai sore begini karena Melani. Tapi kenapa wanita itu malah tidak ingin pulang sekarang?   "Di sini kan sudah ada Dokter Rino dan yang lainnya. Lagipula kamu punya kewajiban di Jakarta. Pasienmu yang dialihkan ke Wina juga butuh perhatianmu."   Ucapannya tentu saja langsung membuat Melani tersenyum sinis. Wanita itu kini mengulurkan jemarinya untuk menyentuh d**a bidangnya.   "Owh jadi kamu khawatir aku membuat tuan putrimu itu kelelahan karena pasienku ya?"   Marsha menggelengkan kepalanya. Dia tidak suka Melani selalu menyebut-nyebut Wina sebagai tuan putrinya.   Dia ingin menyingkirkan jemari Melani saat dia melihat pergelangan Melani yang terluka kemarin masih bengkak dan belum sembuh.   "Ini kenapa tidak kamu obati?"   Marsha menyentuh lengan Melani itu dan membuat Melani merintih kesakitan.   "Kamu bilang ini tidak sakit? Kamu pikir kamu..."   Marsha sangat marah karena Melani keras kepala. Marsha marah karena Melani tidak mempedulikan dirinya sendiri.   "Bukan urusanmu. Sudahlah kamu pulang sana sana. Aku mau menginap di sini."   Melani tiba-tiba menarik dirinya. Lalu berbalik dan kini melangkah mendahului Marsha. Stilettonya menghentak keras di lantai rumah sakit itu.   Hati Marsha menjadi muram. Dia mengikuti langkah Melani. Jadi kenapa juga dia peduli dengan wanita di depannya ini?   Harusnya dia sekarang pulang dan bisa bertemu lagi dengan Wina yang akan menjadi kekasihnya itu. Dokter lemah lembut yang sangat baik dan cantik.   Bukannya mengikuti langkah kaki wanita yang keras kepala dan sinis di depannya ini.   Tapi Marsha memang mengikuti. Bahkan sampai masuk ke hotel dan masuk ke dalam lift untuk menuju kamar mereka.   "Kenapa masih mengikuti ku?"   Pertanyaan Melani membuat Marsha mengangkat alisnya. Mereka kini ada di dalam lift yang bergerak. Marsha bisa melihat Melani kini menjaga jarak.   "Asal kalau kamu masih ingat, kamarku juga ada di lantai yang sama dengan kamarmu. Jadi mungkin kamu sudah amnesia karena pembengkakan di tanganmu itu."   Celetukannya membuat Melani melihat tangannya yang membengkak itu.   "Aku tidak bodoh. Luka begini tidak bisa membuat otakku jadi rusak."   Lalu pintu lift terbuka dan Melani melangkah terlebih dahulu. Marsha hanya tersenyum mendengar celetukan Melani.   Kini Marsha mengamati Melani mencari kartu untuk membuka pintu kamarnya. Tapi karena tangannya sakit, wanita itu tampaknya kesusahan untuk mencari kartu itu yang ada di dalam tasnya.   "Butuh bantuan?"   Marsha merasa iba juga. Dan kini mendekati Melani. Wanita itu tapi kini menjauh lagi.   "Aku bisa sendiri. Sudahlah kalau kamu mau pulang sana! Aku tidak mau kamu kamu bantu. Atau kamu berubah pikiran dan mau di sini karena ingin berada di dalam kamarku?"   Godaan itu lagi. Tapi Marsha kini bisa memahami Melani. Rupanya wanita itu bertindak seperti w*************a kalau dirinya terancam. Melani mungkin berpikir Marsha akan lari tunggang langgang saat dia memamerkan kesinisannya itu. Tapi kini Marsha sudah paham.   Dia bukannya melangkah mundur tapi kini melangkah maju. Mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap Melani.   "Kalau aku memang ingin bersama di dalam kamarmu, kamu akan melakukan apa? Tidur denganku?"  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN