11 CEMBURU

1012 Kata
"Icaaaal."   "Marsha"   Tentu saja Marsha langsung membuka matanya. Kantuk masih menahan matanya untuk membuka lebih lebar lagi. Dia menguap dan menggeliat. Tapi merasakan bahunya terasa berat. Dan merasakan ada hawa panas yang menerpa lehernya.   "Apa yang kamu lakukan di sini?"   Suara berat papanya membuat Marsha berusaha untuk menegakkan tubuhnya. Tapi kemudian dia tersadar. Di dalam pelukannya ada Dokter Melani yang masih tertidur pulas.   Astaga!   Marsha langsung menatap kedua orang yang kini sudah ada didepannya dan menatapnya dengan curiga.   Papanya mengangkat satu alisnya, dan Wina. Marsha langsung menegakkan tubuhnya saat tersadar hari sudah pagi, bahkan mungkin siang saat ini.   Wina nampak cantik berdiri di depannya. Tapi wajahnya muram menatapnya.   Dia merasakan Melani menggeliat di sampingnya. Lalu wanita itu membuka matanya. Dan menatap bingung ke arahnya.   "Owh.."   Melani menyadari dia tertidur di atas bahunya dan kini langsung menjauh.   "Pah Ical bisa jelasin. Semalam..."   Marsha mengusap wajahnya. Mencoba mengingat kejadian semalam. Dia mengajak Melani untuk beristirahat di dalam ruangannya. Sementara dia mencari berkas yang ditinggalkan papanya. Tapi karena malam telah begitu larut dan dia sendiri juga sangat lelah.   Akhirnya dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh dan matanya sejenak. Apalagi saat melihat Melani yang juga tertidur pulas di sampingnya. Dan begitulah. Semuanya langsung hilang begitu saja saat dia tertidur.   Melani langsung beranjak dari duduknya. Dia membenarkan bajunya.   "Kenapa aku bisa ketiduran. Pasienku di bangsal. Astaga."   Melani menggumam gak jelas. Wanita itu memang sepertinya tidak senang mendapati dirinya sudah tertidur   Marsha langsung menoleh ke arah Melani dan tersenyum.   "Kamu memang perlu tidur. Kamu itu butuh istirahat."   Melani langsung menatapnya dengan kesal. Tapi kemudian beralih ke arah papanya yang masih menunggu jawabannya   "Maaf Pak. Saya permisi ya. Ada pasien yang menunggu saya". Marsha melihat sang papa mengangguk dan tersenyum kepada Melani. Lalu melihat wanita itu langsung pergi dari ruangannya   Kali ini Marsha menoleh ke arah Wina yang sepertinya sudah tampak ingin menangis.   Astaga! Dia lupa. Bukankah Wina sekarang sudah menjadi pacarnya?   "Ya sudah Cal, kamu mandi dulu sana. Lalu nanti temui papa si ruangan papa ya. Ini Dokter Wina juga ada perlu sebentar sama kamu. Papa tinggal ya."   Sang papa langsung berbalik dan meninggalkannya hanya berdua dengan Wina yang masih berdiri di depannya dengan tubuh kaku dan tatapan kesal.   "Owh Win. Aku bisa jelaskan."   Marsha langsung beranjak dari duduknya. Melangkah mendekati Wina dan menariknya untuk duduk di atas sofa.   "Kamu semalam ke sini lagi?"   Wina kini menatapnya dengan penuh selidik.   Marsha akhirnya mengusap wajahnya dan mengangguk.   "Papa meneleponku untuk mencarikan berkas yang tertinggal. Tapi ternyata aku terlalu lelah dan yah.."   Marsha mengangkat bahunya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Dia sendiri juga bingung.   "Dan dokter Melani?"   Marsha langsung menepuk bahu Wina dan kini menatap Wina yang cemburu itu.   "Kamu cemburu sama Melani ya?"   Tentu saja Wina langsung merona. Dan sepertinya tidak nyaman dengan pertanyaannya.   "Enggak. Hanya saja..."   Cup   Ucapan Wina terhenti saat Marsha tiba-tiba mengecup pipi Wina.   "Aku sayangnya sama kamu."   Tentu saja hal itu membuat Wina akhirnya tersenyum.   "Aku juga sayang sama kamu."   "Ehem."   Suara deheman dari arah pintu membuat keduanya akhirnya mengalihkan pandangannya. Marsha melihat Melani yang kali ini sudah tampak segar itu bersedekap di ambang pintu.   "Maaf menyela waktu pacaran kalian. Dokter Wina ini sudah shift kamu. Jadi kamu harus segera visit ke bangsal anak. Dan langsung ke poli. Pasien kita banyak hari ini."   Perintah ketus dari Melani membuat Wina tampak muram. Tapi kemudian wanita itu beranjak berdiri. Marsha juga mengikuti Wina.   "Sampai jumpa nanti waktu istirahat ya?"   Marsha menyentuh lengan Wina untuk menarik perhatian wanita itu. Dan Wina tentu saja mengangguk dan tersenyum dengan manis.   "Aku permisi dulu ya?"   Marsha mengangguk dan kini melihat Wina yang langsung melangkah pergi meninggalkannya dan Melani yang masih berdiri di ambang pintu.   "Ehm jadi sudah berhasil mendapatkan hatinya? Kamu berikan apa? Berlian atau batu permata?"   Sindiran pedas mulut Melani membuat Marsha menggelengkan kepalanya. Kenapa wanita itu sepertinya sangat membenci Wina?   Marsha melangkah mendekati Melani yang kini bersedekap di depannya.   "Aku lupa membelikan Wina berlian sebagai tanda telah menjadi kekasihku. Tapi...aku..."   Marsha menyentuh rambut Melani tapi kemudian langsung ditepis oleh wanita itu.   "Sepertinya kamu yang membutuhkan berlian itu. Kamu akan terlihat cantik saat mengenakannya."   Tentu saja Melani mengerjapkan matanya. Marsha sendiri awalnya hanya ingin menggoda Melani. Tapi entah kenapa saat kini sudah ada di depan Melani dia tidak bisa berkutik.   Wanita itu membuatnya mati kutu saat ini.   "Aku tidak butuh berlian. Sisihkan saja uangmu buat mereka yang membutuhkan. Aku ke sini ingin memberikan daftar pasien yang butuh operasi tapi tidak mampu. Ini rumah sakit swasta tapi aku ingin yang terbaik untuk pasien aku. Jadi aku ingin meminta pertimbangan dari kamu. Biayanya bisa di beri yang lebih ringan kan?"   Marsha tentu saja menunduk dan melihat map yang di bawa Melani.   "Aku coba lihat. Bawa ke mejaku sekarang."   Marsha langsung berbalik. Saat ini dia harus bekerja. Dan Melani mengikutinya.   *****   "Tapi biaya itu sangat besar Dokter Melani."   Setelah satu jam berkutat dengan daftar pasien-pasien yang butuh perawatan intensif tapi tidak mampu kini Marsha menatap Melani yang mengajukan diri untuk membayar biaya 3 pasien anak yang butuh operasi segera.   "Aku yang akan membayar semuanya. Kalau Anda tidak bisa memberikan keringanan yang lebih lagi. "   Marsha menatap Melani yang kini sudah bertekad ingin membayar itu sendiri.   "Kondisi keuangan keluarga mereka sangat memprihatinkan. Dan saya sebagai dokter tidak bisa hanya diam saja. Mereka masih sangat kecil, masa depannya masih sangat panjang."   Marsha melihat Melani berkaca-kaca saat ini. Tentu saja hatinya juga ikut tersentuh   "Baiklah. Persiapkan operasi buat mereka bertiga. Biayanya aku yang akan memberikannya. Dari uangku sendiri."   Tentu saja ucapannya membuat Melani terkejut. Wanita itu kini duduk di seberang mejanya dan menatapnya lekat.   "Saya juga bisa..."   Tapi Marsha mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Melani.   "Aku pemilik rumah sakit ini. Nanti aku bicara dengan papa. Kamu tinggal lakukan yang terbaik untuk mereka saja."   Senyum cerah tiba-tiba menghiasi wajah Melani. Senyum yang belum pernah di tampilkannya selama ini.   "Terimakasih. Saya akan segera mengabarkan ini kepada mereka."   Melani beranjak dari kursinya dan tersenyum lagi sebelum berpamitan.   Marsha menyandarkan tubuhnya di kursinya. Menatap pintu yang baru saja tertutup. Pagi ini dia melihat sisi lain dari Melani. Wanita itu sungguh sangat mementingkan kepentingan pasiennya. Entah kenapa hati Marsha tiba-tiba menghangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN