Chapter 4

2003 Kata
Lagi-lagi aku terbangun tanpa Mike di sampingku. Lelaki itu selalu kembali ke kamarnya sendiri setelah kegiatan panas kami. Hatiku masih mendongkol mengingat semalam Mike memaksaku hingga beberapa sesi, membuatku kelelahan dan akhirnya jatuh terlelap tanpa sempat menanyakan perihal mengenai suara jeritan yang terdengar semalam. Aku tahu itu merupakan rencana busuk Mike untuk menghentikanku yang tak berhenti bertanya. Lelaki itu tidak mengizinkanku berbicara sedikit pun dengan terus menciumi bibirku hingga membengkak dan melakukan hal-hal yang membuatku lupa untuk bertanya-tanya lagi sepanjang malam. Sambil berencana untuk terus meneror Mike dengaan pertanyaan mengenai suara semalam, aku berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi sambil menatap tubuhku. Bekas-bekas love bite menyebar hampir di sekujur tubuh. Tepat di bagian leher bawah telinga, bagian luar kelenjar tiroid, di atas tulang selangka, di hampir seluruh d**a, bahu, perut dan paha bagian dalam. Sialan! Pria itu memang tidak main-main dengan ucapannya. Tapi aku juga bertekad di dalam hati meskipun semalam Mike berhasil membuatku berhenti bertanya, tapi tidak untuk hari ini. Setelah sekian lama mengaduk-aduk isi lemari, aku berakhir dengan sebuah jeans berwarna hitam dan sebuah kemeja tipis tak bermotif. Apalagi yang bisa meyelamatkanku dari bekas hickey kalau bukan kemeja? Setelah berpakaian, aku segera keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, Mike selalu bisa masuk ke dalam kamarku sesuka hati. Kali ini pria itu sudah siap di depan meja bundar dengan sarapan yang telah tersaji di atasnya sambil menyesap kopi. Ia mengenakan pakaian santai, sebuah atasan lengan panjang berwarna abu-abu yang mana bagian lengannya ditumpuk sampai siku dan sebuah celana jeans hitam senada dengan yang aku kenakan. Oh ya ampun! Ini hari liburnya. Ketika aku melangkah, Mike mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki dari balik gelas kopinya. “Kenapa kau di sini?” tanyaku yang sebenarnya sudah tahu dengan jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya, tapi tetap saja menanyakannya. “Karena aku menginginkannya,” jawabnya santai. “Kemarilah, makan sarapanmu juga.” Bukannya mendekat, aku malah berjalan menuju meja rias dan menyisir rambut, mengabaikan Mike dengan sarapan yang terhidang di hadapannya. “Jika dalam dua menit kau tidak juga memakan sarapanmu, akan kupastikan kau menyesalinya nanti,” ancam Mike geram karena diabaikan. Aku melirik bayangan Mike yang terpantul di cermin. Wajahnya terlihat serius dan mengancam. Membuatku bergidik ngeri. Setelah merapikan rambut, aku langsung bergegas mengambil posisi duduk berseberangan dengan Mike. Sarapan kami pagi ini adalah segelas kopi untuk Mike, s**u untukku, serta roti croissant yang bagian dalamnya diisi dengan sayuran, irisan tomat, dan daging asap. Ide siapa ini? Tanyaku pada diri sendiri saat melihat sarapan itu. Aku sedikit ragu untuk mencoba menu baru ini. Akan tetapi aktivitas semalam yang sangat melelahkan membuatku merasa sangat lapar. Kutatap roti tersebut sambil menimbang-nimbang apakah harus membongkar isinya dan memakan sayuran yang ada di dalamnya lebih dulu, atau langsung menggigitnya saja dalam satu kali gigit, yang berarti aku harus membuka mulut lebar-lebar agar tidak membuat isinya tercerai berai. “Apa kau butuh bantuan untuk memasukkannya ke dalam mulutmu?” Mike menatapku yang hanya diam menghadap piring. “Kau ingin aku suapi dari mulut ke mulut atau….” Mendengar hal itu, buru-buru kuangkat roti tersebut dan mengigitnya, lalu mengunyah dengan terburu-buru. Merasa tidak nyaman dengan tatapan Mike yang jelas-jelas seakan ingin menelanjangiku. Merasa sedikit rileks setelah akhirnya Mike juga menyantap sarapannya sendiri, aku memberanikan diri untuk melancarkan aksi. “Katakan padaku jika semalam kau juga mendengar jeritan itu,” ucapku sambil menatap Mike yang sedang menikmati rotinya. Aku tidak boleh takut, aku harus berani. Mike menatapku dengan tatapan tidak suka. “Kurasa kau hanya berhalusinasi saja karena terlalu banyak membaca buku,” jawabnya sambil melirik buku-buku yang ada di rak. “Aku mendengarnya dengan jelas. Tentu saja itu bukan halusinasiku.” “Dan suara apakah itu? Suara jeritan banshee?” ledeknya. “Apa selanjutnya kau akan beranggapan bahwa salah seorang penghuni rumah ini akan segera mati?” Pria itu lalu menyesap kopinya lagi sambil menatapku dengan tatapan mengejek. “Aku yakin itu bukan suara banshee. Ini Amerika, bukan daratan Eropa. Tidak ada yang seperti itu,” balasku tak mau kalah. “Lantas apa?” tanyanya balik. “Aku sangat yakin kau terlalu banyak membaca buku cerita.” Ia masih saja berpura-pura tidak tahu, membuatku mendadak kehilangan semangat untuk terus bertanya. Akhirnya aku hanya sibuk dalam pikiran sendiri, memikirkan suara jeritan semalam yang terasa ambigu. Tidak tahu apakah itu jeritan perempuan ataupun laki-laki. Yang jelas itu merupakan jeritan akan rasa sakit. Ya, pasti jeritan akan rasa sakit. Angin pagi musim panas masuk melewati jendela dan mengelus pipiku. Saat menoleh keluar kulihat seorang tukang kebun tengah sibuk menyirami barisan bunga-bunga. “Mike,” panggilku tiba-tiba. “Kenapa aku tidak diizinkan mengunjungi sayap barat?” Kutolehkan kembali wajah ke arahnya. Mike lagi-lagi menatapku dengan tatapan tidak suka. “Karena aku tidak mengizinkannya.” “Kenapa?” “Karena itu keputusanku.” “Atas dasar apa?” tanyaku lagi. “Pasti ada alasannya?” Mike hanya diam lalu menghabiskan sarapannya, mengabaikanku yang menantikan jawaban. Aku menunggu hingga Mike menyantap habis seluruh makanannya, lalu bertanya lagi. “Jadi kau akan memberitahuku alasannya?” Mike membersihkan mulutnya dengan serbet, kemudian menatapku lurus. Menusuk masuk menembus kepalaku. “Kau merusak suasana. Kurasa ini akhir dari diskusi.” Ia lalu berdiri dan keluar dari kamar, membuatku menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu dengan dahi berkerut. Apa yang kau senyembunyikan dariku, Mike? ***   Aku berjalan bersama Jane mengitari taman bunga. Musim panas bisa disebut juga sebagai musim untuk bunga Gaillardia, karena bunga itu tumbuh dengan sangat indah pada musim ini. Sore hari merupakan waktu yang baik untuk berjalan di alam bebas. Seharian tadi aku mengurung diri di kamar, membaca beberapa buku dan bahkan meminta makan siang diantar ke kamar saja. Ketika tiba di taman pada sisi barat mansion, aku kembali lagi duduk di bawah pohon yang kemarin kukunjungi. Jane dengan cekatan membentangkan sebuah selimut untuk aku duduki. “Hei, Jane, apa semalam kau mendengar suara jeritan?” tanyaku membuka pembicaraan saat mulai mengambil posisi nyaman untuk duduk. “Jeritan? Saya tidak mendengar apa-apa semalam, Nyonya.” “Apa kau yakin?” tanyaku penuh selidik. Bisa saja pelayan ini berbohong atas perintah master Michael-nya yang terhormat itu. “Tentu saja. Untuk apa saya berbohong,” jawab Jane sungguh-sungguh. Apakah yang dikatakan Mike tadi benar? Apa aku hanya berhalusinasi? Tapi suara itu terdengar sangat nyata. Kurebahkan diri menelentang menatap langit. Rasanya nyaman sekali setelah beberapa kejadian tak menyenangkan beberapa hari lalu merusak hidupku. Suami dingin yang hanya mucul untuk bersamaku pada malam hari. Seorang dominan yang tak suka dibantah, sulit ditebak, sangat cerdas, dan yang pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Aku kembali teringat pesan Rhez untuk membuat Mike jatuh hati padaku. Sejak kemarin aku sudah berusaha untuk pasrah menerima keadaan, menjadi istri dari lelaki yang baru kukenal dalam hitungan hari itu. Tapi sikap Mike yang seolah-olah memperlakukanku hanya sebagai seorang pemuas nafsu membuatku enggan berdamai dengan pria itu. Jika Mike bisa melunak sedikit saja, mungkin ini akan menjadi lebih mudah. Apa yang bisa kuperbuat bila suamiku itu hanya datang saat malam hari untuk memenuhi hasrat duniawinya dan kembali ke kamarnya sendiri setelah mendapatkan apa yang ia cari. Bahkan kalimat yang muncul dalam obrolan kami pun bila dihitung mungkin hanya berjumlah puluhan, mengingat kami tidak pernah memiliki riwayat obrolan yang sangat panjang selain di atas tempat tidur yang rata-rata hanya sebuah erangan dan desahan saja. Aku menebak-nebak apakah karena selama ini terbiasa hidup seorang diri, Mike menjadi pribadi yang seperti itu. Tiba-tiba saja muncul rasa iba dalam hatiku, membayangkan Mike yang selama ini hidup tanpa keluarga dan mungkin saja tidak memiliki seorang teman karena sifat buruknya itu. Kata-kata Rhez mendadak memotivasiku kembali. Aku merasa harus bisa membuat Mike melunak, menghargai keberadaanku. Aku tidak berharap pria itu harus berubah jika memang begitulah sejatinya sifat asli Mike. Tapi jika lelaki itu bisa menatapku dengan lebih baik sedikit saja, mungkin sudah membuatku merasa sangat senang, mengingat aku akan menghabiskan sisa usia terkurung di mansion besar yang aku tidak tahu letak persisnya di mana ini. Setidaknya dengan berdamai dengan orang yang telah menjadi suamiku kini, mungkin aku bisa mati dalam keadaan tenang nantinya. Aku menghela nafas panjang sambil mengamati awan yang bergerak di atas. Apakah mungkin suatu hari nanti Mike bisa tersenyum penuh cinta sambil menatapku? Apakah mungkin kami bisa menghabiskan waktu bersama dengan tenang tanpa adanya aura menegangkan? Dalam hati aku berdoa semoga saja hal itu dapat terjadi. Saat sedang merapalkan harapan, aku merasa seseorang tengah mengamatiku dari arah jendela lantai dua sayap barat. Tapi saat menoleh tak seorang pun kulihat tengah berdiri di jendela tersebut. Hanya ada tirai putih yang menutupinya. Siapa itu tadi?                          *** “Nyonya… Nyonya,” suara Jane membuatku membuka mata. Langit telah berubah warna menjadi jingga, pertanda malam akan segera datang. Entah telah berapa lama aku tertidur. “Kita harus segera kembali sebelum Anda masuk angin dan jatuh sakit.” “Sudah berapa lama aku tertidur?” tanyaku. “Mmm… saya rasa mungkin hampir satu jam,” jawab pelayan itu sambil membantuku untuk bangkit. “Saya akan menyiapkan bak mandi untuk Anda.” “Terimakasih. Kau kembalilah dulu, aku masih merasa belum selesai mengumpulkan nyawa sepenuhnya,” ujarku pada Jane yang membereskan alas tidurku lalu mencoba untuk berdiri. “Aku akan berkeliling sebentar.” Kulangkah kan kaki menuju barisan pohon. “Nyonya,” Jane mengikuti di belakang. “Kau siapkan saja bak mandinya, aku akan menyusulmu segera. Aku hanya ingin berjalan-jalan kecil sebentar untuk melihat barisan pohon-pohon ini sebelum kembali ke dalam.” “Tapi,” pelayan itu tampak ragu, takut bila salah memberi izin dan membuat tuannya marah besar. “Hanya sebentar. Aku akan kembali saat kau telah selesai menyiapkannya.” Jane masih diam, tampak sedang mempertimbangkan. “Kau tidak berpikir aku akan kabur kan?” tanyaku dengan senyum meyakinkan. “Oh ayolah, apa kau tidak bisa mempercayaiku?” Pelayan itu menjadi salah tingkah mendengar kata-kataku. “Begini saja, jika dalam waktu lima menit aku tidak segera kembali, kau boleh menyusulku lagi. Jika memang aku berusaha untuk kabur, akan lari kemana aku dalam waktu lima menit yang singkat itu. Ataukah kau takut bila aku celaka nantinya karena ada sesuatu yang mengancam dan berbahaya di sini?” “Te-tentu tidak, Nyonya. Baiklah, saya akan masuk duluan,” katanya seraya membungkuk. “Berjanjilah Anda akan segera kembali ke kamar.” Sepeninggalan Jane, aku segera melangkah menuju ke balik pepohonan. Sebenarnya keinginanku untuk ditinggal sendirian adalah karena tadi melihat sosok perempuan dengan pakaian putih yang duduk di dekat pohon di dalam hutan. Jane sepertinya tidak menyadari hal itu. Merasa pelayan itu tidak bisa memberiku informasi apa pun, aku berencana untuk bertanya pada gadis itu. Rambutnya berwarna sandy blonde, panjang dan bergelombang. Ia sedang memetik bunga-bunga liar yang tumbuh di bawah pohon. Gaun putihnya sepanjang betis, dan ada sebuah keranjang rotan di tangannya. “Hai,” sapaku yang kemudian membuat gadis itu sedikit terkejut. “H-hai, Nyonya,” jawabnya terbata. “Apa yang sedang kau lakukan?” Gadis ini terlihat sebaya denganku atau mungkin saja lebih muda. “S-saya sedang memetik bunga dan beberapa rumput liar ini,” tunjuknya ke dalam keranjang. “Apa kau bekerja di sini? Aku belum pernah melihatmu,” tanyaku antusias. Jane dan pelayan lain jelas sekali menolak untuk terlalu akrab denganku, kuharap aku bisa berteman dengan gadis ini. “Ya, saya bekerja di sini. Senang bertemu Anda, Nyonya.” Ia kemudian berdiri lalu membungkuk dan berjalan menjauh ke dalam hutan. “Hei, tunggu,” panggilku untuk menahan kepergiannya. Gadis itu menghentikan langkah dan kembali menoleh. “Siapa namamu?” “Annabelle, Nyonya. Panggil saya Anna saja,” jawabnya lalu membungkuk sekali lagi. Ketika gadis itu membungkuk, kulihat ada noda darah di sekitar bagian samping ujung gaunnya. Darah yang tampaknya masih baru dan belum mengering. “Apa kau terluka?” Gadis itu tersenyum kikuk. “Tadi saya terpeleset, hanya tergores saja. Bukan apa-apa, Nyonya.” “Dari darahmu kulihat itu tidak hanya seperti luka gores biasa. Ayo, kemarilah. Aku akan mengobati lukamu.” Kuulurkan tangan agar ia mendekat. “Tidak apa-apa, Nyonya. Saya harus segera kembali.” Gadis itu membungkuk lalu berjalan cepat-cepat ke dalam hutan. “Tunggu! Hei...” Aku berusaha mengejarnya tapi sebuah suara dari arah belakang membuatku menoleh. “Nyonya... Nyonya...” Jane berjalan di luar sana sambil meneriakkan namaku. “Aku di sini, Jane,” sahutku berbalik dan melangkah keluar dari barisan pohon. “Oh ya Tuhan, saya pikir telah terjadi sesuatu pada Anda.” Jane lalu berlari menghampiriku. “Apa yang Anda lakukan di sana, Nyonya?” liriknya ke belakangku. “Aku bertemu dengan seorang pelayan bernama Annabelle dan ia terluka. Aku menawarkan diri untuk mengobati lukanya, tapi ia malah pergi dan masuk ke dalam hutan,” jelasku. “Ayo kita susul dia. Kurasa gadis itu butuh pertolongan.” “Nyonya,” Jane menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Saya rasa Anda butuh mandi untuk menyegarkan diri. Tidak ada pelayan yang bernama Annabelle di sini.” “Apa kau yakin?” tanyaku tak percaya. “Apa kau tidak melewatkan sebuah nama?” “Saya sangat yakin, Nyonya. Kami para pelayan makan dan minum di ruangan yang sama, tentu saja kami saling mengenal walaupun mungkin tidak terlalu akrab. Tidak ada yang bernama Annabelle di sini.” Kata-kata Jane benar-benar membuatku terkejut. Jika bukan seorang pelayan, lantas siapa gadis yang kujumpai tadi? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN