“Kau bilang apa? Gugurkan?” Mataku melebar tak percaya. Badanku gemetar akibat terlalu shock. Mike menatapku tanpa ekspresi. “Ya, gugurkan.” jawabnya dengan suara sedingin es. Jantungku seperti ditusuk sebuah belati berkarat. Aku tidak pernah membayangkan jika Mike akhirnya berkata seperti itu. Kupikir kami akan saling berpelukan saat mendengar kabar bahagia ini. Tapi apa? Dia sama sekali tidak menginginkan bayi kami. Dia kembali menjadi Mike yang kutakuti, sama seperti saat pertama kali bertemu. Sorot matanya, aku benci ditatap seperti itu. Sebegitu bencinyakah dia mengetahui ada darah dagingnya yang mulai tumbuh di rahimku? Mike mengalihkan pandangannya pada Ronald yang sejak tadi menatapku iba. “Ronald, beri dia obat untuk menggugurkan kandungannya,” perintahnya dan Ronald terlihat e

