Mike kembali sebelum makan siang dengan tangan penuh luka. Jari telunjuk kirinya mungkin berdarah beberapa saat yang lalu, karena kulihat ada darah yang telah mengering di sana. Sementara itu telapak tangannya penuh goresan, mungkin bila tersiram air akan sangat pedih, dan salah satu sudut dalam telapak tangan kanannya melepuh. “Apa saja yang kau lakukan tadi? Melukai dirimu sendiri?” tanyaku sambil memeriksa tangannya. “Ini pekerjaan lelaki, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir,” seringainya bangga. Kutarik dirinya menuju ruang keluarga dan meminta salah seorang pelayan untuk mengambilkan kotak obat. “Ouch… pelan-pelan, ma’am, itu menyakitiku,” protes Mike saat aku membersihkan lukanya dengan alkohol. “Sorry.” Kutiup lukanya lalu mengecup tangannya untuk menghilangkan rasa sakit. “Mmm

