Sejak hari dimana Mike menjelaskan segalanya padaku, kami berdua—atau lebih tepatnya Mike yang menggunakan kegemarannya untuk memaksakan kehendak—memutuskan untuk menjadikan kamar yang selama ini kutempati sebagai kamar untuk calon bayi kami. Sejak saat itu pula aku resmi pindah ke kamarnya, atau mungkin kini lebih tepatnya “kamar kami”. Malam pertama saat aku hendak tidur di kamarnya, aku dikejutkan oleh sesuatu yang membuat mataku terbelalak lebar saat merebahkan kepala ke atas bantal ketika tanpa sengaja melirik langit-langit kamarnya. Dari plafon itu kulihat potret diriku dalam ukuran yang sangat besar, memenuhi hampir separuh luas kamar, dimulai dari dinding di belakang tempat tidur hingga tepat ke tengah-tengah kamar. Ini sungguh sangat TIDAK NORMAL untuk seseorang seperti Mike

