Realita; aku ayah, kamu ibu. Aku suka kenyataan kita yang sekarang. . . "Bercanda, kok. Takut banget diapa-apain, ya?" Tania sampai memeluk selimut dan agak menjauh. Tahu, kan, soal apa? "Ya, jelas. Abang, kan, lihat aku lahiran kayak gimana. Jahitanku sampe ngilu denger Abang bilang soal mau ditidurin." Mars terkekeh, meminta maaf lagi. "Udah, sini tidur. Abang usap-usap bekas jahitannya biar—" Wajah tampan itu Tania libas dengan bantal, dia pukulkan spontan. Kesal, jujur. Bodoh amat kalau tak sopan. Eh, kekehan Mars malah terdengar semakin menggelitik. Yang katanya bercanda, tetapi Tania justru emosi mendengarnya. Dia bilang, "Bercanda itu dua arah, yang dibercandainnya juga harus ikut ketawa. Kalau kayak Abang gini, perundungan namanya. Sumpah, ya. Aku beneran marah kalau Aba

