“Damar! Ayuk, naik!” teriak Kanayna dari atas bukit pada Damar yang masih berada di bawah. Damar tersenyum. Dia bahagia ketika melihat gadis itu juga bahagia. “Iya,” Sekarang ini, Damar dan Kanayna sedang berada di puncak bukit yang tidak jauh dari villa keluarga Rahardja. Mereka berdua duduk di atas rerumputan memandangi keindahan langit. Kanayna menutup matanya sambil merasakan semilir angin yang sangat sejuk itu menyapa kulitnya. Gadis itu menarik napas, lalu menghembuskan secara perlahan. “Lo mau nggak jadi pacar gue?” tembak Damar secara tiba-tiba seraya menoleh dan menatap Kanayna dengan sendu. “Hm?” Kanayna langsung membuka matanya, lalu menatap Damar heran. Wajar saja Kanayna bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba bicara seperti itu. “Jatuh cinta itu mudah. Tapi j
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


