6

1198 Kata
  Tok tok tok Terdengar suara ketukan pintu kelas X lima ketika KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sedang berlangsung. Selang beberapa detik, masuk seorang siswi yang wajahnya sangat tidak asing bagi Kanayna. Ya, cewek berambut hitam pekat itu, cewek yang baru dia lihat kemarin. Setelah memberi sebuah buku pada Bu Danti, cewek itu kembali keluar. “Yailah, sok cantik banget!” ketus Sera sambil memutar bola matanya. Kanayna berhenti menulis, seraya melirik Sera kemudian bertanya, “Lo kenal sama dia?” “Kenal-lah, dia itu calon kapten cheers SMA Tunas,” jawab Sera sambil terus menulis. “Namanya siapa?” bisik Kanayna lagi. Baiklah, sepertinya dia makin penasaran tentang cewek itu. “Andara Margaretta Leonard,” desis Sera singkat. Mata Kanayna makin membulat ketika mendengar nama belakang Andara. “Dia dari keluarga Leonard?” “Hm,” jawab Sera sambil mengangguk. “Cucunya Pak Albert Leonard?! Kepsek SMA Tunas?!” “Yaiyalah, masa iya cucunya Mang Juki.” Sera menimpali sambil melirik Kanayna kesal. “Dia anak baru? Kok gue baru lihat dia kayaknya,” “Jelas aja lo baru lihat, hampir setiap hari lo nongkrongnya di perpus. Sedangkan setahu gue, dia aja nggak pernah ke perpus,” “Kok lo bisa tahu banget gitu tentang dia?” Kanayna mencondongkan wajahnya meyelidik. “Siapa coba yang nggak tahu tentang dia? Cewek most wanted di SMA Tunas. Dia ngelakuin apa aja bakal jadi trending topic di sekolah kita. Dia itu buruan kakak kelas. Banyak kakak kelas yang ngincer dia,” “Gue nggak tahu apa-apa tentang dia,” “Ya karena lo terlalu kebanyakan baca buku Kanayna Vaneyla Rahardja,” Kanayna membulatkan mulutnya. Setelah beberapa pertanyaan keluar dari mulut Kanayna, Sera baru merasa kalau dirinya seperti sedang diinterogasi. “Tunggu deh, sejak kapan lo jadi kepo tentang orang lain?” tanya Sera balik menyelidik Kanayna sambil menyipitkan matanya. Sera baru sadar kalau sahabatnya itu memang bukan tipe orang yang penasaran tentang orang lain. Terlebih jika dia sama sekali tidak mengenal orang tersebut, ataupun orang tersebut tidak mengenal dirinya. “Kepo? Gue nggak kepo, cuma nanya doang nggak boleh?” jawab Kanayna dengan gelagat yang tiba-tiba salah tingkah. “Hm gitu,” timpal Sera sambil memanggut-manggutkan kepalanya. “Berisik lo berdua! Gue lagi serius belajar nih. Jadi nggak konsen, kan!” protes Hellen. “Gaya lo, pake sok-sok-an belajar,” balas Sera. “Gue belajar, salah. Nggak belajar, juga salah. Jadi serba salah kayak Raisa,” katanya mendramatisir keadaan. Lima detik seusai bel istirahat berdering, Kanayna, Sera, dan Hellen langsung beringsut ke kantin. Hellen dan Sera asyik dengan obrolan mereka. Sedangkan Kanayna dari tadi hanya diam sambil memandangi layar ponselnya. Sera melirik, seraya berseru, “Wah foto siapa, tuh? Lihat dong!” Baru saja Sera ingin merampas, Kanayna keburu menariknya. “Bukan siapa-siapa elah. Cuma artis!” jawab Kanayna sekenanya. Tiba-tiba datang Nata, Gilang, Yoga, dan kali ini bersama Damar. Walaupun sosok mereka belum terlihat, namun kerusuhan mereka sudah bisa didengar oleh orang-orang yang berada di kantin. “Untuk hari ini gue traktir kalian bakso,” kata Gilang seraya tersenyum simpul pada tiga temannya. Empat cowok itu berjalan menuju pojok kiri kantin, tempat yang mereka jadikan singgasana alias basecamp tersendiri. Ya, karena di sana jauh dari pengawasan guru-guru. Kalau bolos jam pelajaran mereka biasanya kumpul di situ, merokok, makan, dan tidak lupa bahas tentang cewek, kadang juga mereka bahas pertandingan sepak bola. Nata mengangkat tangannya untuk mengecek suhu udara. “Ada angin apa nih lo traktir kami?” “Tahu lo! Pasti ada maunya nih,” tuduh Yoga seraya menyipitkan matanya. Gilang yang tadinya ingin beranjak, kembali duduk. “Lo mah pada curiga aja sama gue. Gue lagi baik nih, mau nggak? Nggak mau yaudah, gue nggak maksa.” “Mau lah, yang namanya gratisan mana mungkin gue tolak!” seru Nata. “Bang Sat, gue pesen bakso sama es teh manisnya empat, ya!” teriak Gilang. “Sip,” sahut Bang Sat dengan kedua tangan yang lihai menuangkan kuah bakso yang panas itu. Damar menoyor kepala Gilang, “Nggak sopan lo, masa orangtua dibilang bangsat.” “Wah jangan salah paham dulu, Mar. Namanya Satrio, biar gampang jadi kami manggilnya Bang Sat,” jelas Gilang. “Nggak apa-apa kok, Dek, nama saya Satrio. Hampir semua murid SMA Tunas biasa panggil saya Bang Sat. Biar lebih akrab gitu.” ucap Bang Sat sambil mengantarkan nampan yang di atasnya terdapat empat mangkok bakso sekaligus es teh manisnya. Damar menganggukan kepalanya. Setelah makan, Yoga, Damar, dan Gilang asik merokok sambil mengobrol. Entah apa yang mereka bahas, yang pasti mereka paling berisik di kantin. Tak lama Andara datang dan mendekati Damar, mereka berdua mengobrol dan terlihat lebih dekat. Bahkan keduanya memisahkan diri dari Nata, Gilang, dan Yoga. “Guys, gue duluan, ya!” ujar Kanayna yang tiba-tiba kehilangan nafsu makannya, dan ingin buru-buru menjauh dari tempat itu. “Lho? Mau ke mana?” tanya Sera heran. “Ehm ... mau ke perpus, gue lupa belum pulangin buku,” jawabnya bohong, karena sebenarnya dia tidak tahu harus jawab apalagi. “Oh gitu, yaudah.” Sera mengangguk. “Gue ke perpus dulu ya Len, Ser, bye!” “Iya Nay,” tanggap Sera. Hanya Sera yang menanggapi Kanayna. Karena kalau Hellen mana bisa diganggu kalau lagi ngunyah. *** Tadi, di menit-menit terakhir Bu Danti mengajar, beliau meminta Damar untuk menemuinya di ruang guru sebelum pulang sekolah. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan, katanya. Jadi sore ini, Damar sedang berada di ruang guru. Duduk berhadapan dengan wanita paruh baya itu. “Damar, karena kamu baru masuk di pertengahan semester, jadi saya pikir kamu ketinggalan banyak mata pelajaran,” ucap Bu Danti―selaku wali kelas X lima―di ruang guru. “Iya, Bu. Nanti saya usahakan buat ngejar semuanya,” “Harus. Apalagi UAS tinggal menghitung bulan.” Bu Danti diam sejenak dari kegiatannya yang sedang memasukkan nilai. “Saran ibu sih, kayaknya kamu mesti minta bantuan temanmu untuk mengejar semua mata pelajaran yang tertinggal.” “Iya, Bu. Nanti saya coba,” “Baiklah, itu saja. Kamu boleh kembali latihan,” katanya seraya melanjutkan kembali kegiatannya. Saat keluar dari ruang guru, Damar mencoba untuk mengingat kira-kira siapa orang yang tepat untuk membantunya. Damar menghentikan langkahnya ketika melewati ruang ekstrakurikuler sastra bahasa. Di ruangan itu, hanya ada Kanayna tengah membereskan beberapa buku dan kertas-kertas. “Gue boleh minta tolong, nggak?” tanya Damar tidak pakai basa-basi lagi. Kanayna menoleh ke sumber suara, “Tolong apa?” “Tadi Bu Danti bilang, kalau gue banyak ketinggalan mata pelajaran. Tolong bantu gue buat ngejar semua materi-materi itu,” Kanayna berpikir sejenak, “Kenapa minta tolongnya ke gue?” “Ya, karena nilai-nilai lo yang tinggi di semua pelajaran. Buat gue ngerasa, kalau lo orang yang paling pas buat ngajarin gue.” Damar diam sesaat, lalu melanjutkan omongannya, “Gimana? Mau, kan?” tanya Damar seraya memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Kanayna yang lebih pendek darinya. “Hm?” Seketika jantung Kanayna berdegup kencang sekali. “Gue sih, mau aja. Tapi jangan malem, ya? Tiap minggu sore aja.” “Oke. Tiap hari Minggu jam 3 sore. Thanks, ya.” Damar menyunggingkan senyuman. Kanayna menatap punggung Damar yang semakin menjauh. Ada perasaan senang yang terselubung saat mendengar permintaan Damar tadi. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN