"Flo!" Galang tak menyangka akan bertemu gadis itu di sini. Sudah tiga belas tahun, tak ada perubahan yang berarti pada gadis itu. Hanya badannya lebih tinggi dan lebih berbentuk. Wajah galak tapi manisnya yang dulu selalu polosan kini berpoles make up tipis. Ia juga masih suka mengikat rambut panjangnya dengan model kuncir kuda.
"Flo?" Diandra menatap Galang heran. "Namanya Kinara, bukan Flo."
"Flo itu nama an-"
"Aduh!" Kepalan tangan Kinara lebih dulu mendarat di lengan kanan Galang, sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. Kinara masih ingat siapa flo yang dimaksud. Anjing betina bunting milik tetangga Galang yang katanya mirip Kinara saat lagi marah. Kurang ajar!
Diandra menatap dua muda-mudi di hadapannya dengan takjub. “Kalian sudah saling kenal?”
"Teman SD, Kak." Sebenarnya Kinara ingin mengatakan kalau mereka bukan teman melainkan musuh bebuyutan, tapi ia sungkan pada Diandra.
Ya, bagi Kinara, Galang itu musuh. Ia yang dengan mulus selalu medapatkan peringkat satu sejak kelas satu sampai empat SD, tiba-tiba posisinya dilengserkan oleh Galang si murid baru di kelas lima. Setelah itu ia harus lebih keras belajar untuk merebut posisinya kembali.
Galang yang rupawan ditambah prestasinya yang memukau tentu saja menarik perhatian hampir seluruh siswi di sekolahan. Di usia itu ketertarikan dengan lawan jenis mulai muncul. Wajar. Mereka berlomba-lomba mencari perhatian Galang, membuat Kinara menjadi bertambah muak dengan anak lelaki itu. Sebaliknya Galang, selalu santai menghadapi Kinara, bahkan tak jarang ia membalas makian Kinara dengan menggoda gadis itu, sampai wajahnya memerah. Hiburan yang lebih lucu dari stand up comedy, menurutnya.
"Lang, ibu ketua kelas, ngamuk, tuh!" seru Akbar sewaktu Kinara berteriak memanggil nama Galang sambil mengacungkan gagang sapu.
Bagaimana gadis kecil dengan kuncir kuda itu tidak murka. Pagi-pagi seluruh siswi sudah mengerubungi meja Galang, yang katanya sedang bagi-bagi coklat oleh-oleh dari ayahnya yang baru pulang dari luar negeri. Tak ada yang sadar akan tugas piket kebersihan kelas pagi itu, padahal bel masuk tinggal lima menit lagi. Sebagai ketua kelas, Kinara merasa berkewajiban menertibkan mereka.
"Galang! Kamu pikir ini tempat jumpa fans, hah?" Kinara memukulkan ujung gagang sapu pada meja Galang, membuat kerumunan sedikit melonggar.
"Bubar! Siapa yang piket hari ini?"
Kerumunan pun bubar, keder dengan bentakan Kinara si bintang kelas kesayangan guru-guru. Jika Kinara melapor, tentu mereka akan kena hukuman wali kelas.
Para petugas piket buru-buru mengambil peralatan kebersihan, sementara siswa lainnya memilih keluar, menyisakan tiga siswa lelaki yang masih duduk di sekitar Galang.
"Kepala preman kasih jatah dulu lah Lang, biar nggak ngamuk!" ujar salah satu diantara mereka.
"Bukan kepala preman, istri pertama Galang, tuh! Nggak terima Galang dideketin cewek-cewek."
Semua tertawa. Sementara Kinara sudah siap dengan sapu di tangan ingin menghajar mereka semua.
"Mulai sekarang akan kupanggil dia Flo." Galang berujar tiba-tiba sambil menatap Kinara lekat.
Ketiga temannya memandang Galang penuh tanda tanya. Kenapa Flo?
"Anjing betina bunting milik tetangga gue, namanya flo, galaknya ... persis Kinara."
Dan ujung gagang sapu mendarat dengan mulus di kepala Galang.
???
"Maaf, Kak, sepertinya, lamaran kerjanya batal saja." Kinara menunduk, merasa tak enak hati pada Diandra. Tapi tentu saja lebih tak enak lagi jika ia harus menjadi asisten Galang. Selama ini ia bersaing untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari Galang dan sekarang ia harus menjadi bawahannya? Sungguh hina.
"Lho, kenapa? Kalian sudah saling kenal, bukannya bagus? Aku jadi lebih mudah mempercayaimu sebagai asisten adikku."
"Kakak salah, justru harusnya Kakak lebih waspada, ia bisa saja menaruh racun pada makanan atau minumanku." Meski hanya bergurau saat mengatakan ini, Galang tahu, Kinara dari dulu membencinya. Mungkin sampai sekarang.
Diandra spontan menutup mulutnya yang menganga. "Hah?"
"Lebay!" Kinara meninju d**a bagian atas Galang, membuat lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang karena tak siap.
"Lihatlah, Kak, belum jadi asisten saja ia sudah menganiayaku begini."
Diandra malah tertawa. Entah mengapa, menurutnya pertengkaran keduanya justru terlihat begitu romantis. Tawanya terhenti ketika mendengar tangisan si bungsu dari dalam kamar.
"Aku masuk dulu Kinara, pikirkan lagi baik-baik. Aku sudah lelah mengurus anak itu." Diandra menunjuk Galang.
"Semenjak asistennya pulang kampung dan tak kembali, tiap hari aku yang mengingatkannya barang yang perlu dibawa, menelponnya agar tak lupa makan, bahkan menyuapinya. Dia seperti bayi saja."
Sambil melangkah menuju kamar, Diandra terus mengomel. Galang hanya geleng-geleng kepala sembari tertawa. "Kakak sendiri yang mau datang, bukan aku yang minta, kan."
Sejak seminggu yang lalu Diandra datang ke Jakarta demi adik semata wayangnya. Baru saja lepas dari rumor tak sedap menghamili anak orang, lalu jatuh sakit karena kelelahan mengurus kafe ayahnya di Sydney, Galang malah mengambil pekerjaan main di sinetron stripping.
Aroma Cinta, sinetron yang dibintanginya dan sangat booming itu akan memasuki season dua. Ia sudah menandatangi kontrak bahkan sebelum season satu selesai, Galang beralasan. Lagipula ia harus banyak berkegiatan untuk melupakan patah hatinya ditinggal nikah oleh Nadia, karyawan kafenya di kota Atlas yang sempat membuatnya jatuh cinta.
"Mengapa harus dibatalkan, Flo?" tanya Galang begitu kakaknya hilang dari pandangan.
"Panggil Flo lagi, kuhajar!" Kinara mengepalkan tangan yang hanya ditanggapi dengan gelak tawa oleh Galang.
Flo kecilnya dulu sudah menjelma menjadi gadis dewasa, tapi galaknya tetap sama.
"Padahal, kalau kau mau bekerja sebagai asistenku, itu artinya sedikit lagi kau bisa mewujudkan cita-cita masa kecilmu."
"Hah, maksudnya?" kening Kinara berkerut, tak mengerti dengan ucapan teman, ops musuh semasa kecilnya itu.
“Ya, bukankah, cita-citamu dulu ingin menjadi astronot, agar kau bisa menginjakkan kaki ke bulan dan menyentuh bintang-bintang?”
Impian konyol itu, mengapa Galang masih mengingatnya? Untuk mengolok-olokku kah?
"Bintangnya, sekarang sudah ada di hadapanmu." Galang menepuk d**a.
"Aww!" Lagi-lagi, tinju Kinara mendarat di tubuh Galang. Kali ini lengan kiri Galang yang menjadi sasaran.
"Nah, kau bahkan bisa memukul bintang sekarang!" Sembari mengusap lengannya yang sedikit sakit, Galang tertawa."
Ternyata penyakit narsismu semenjak dulu belum sembuh!" desis Kinara, tangannya dilipat ke depan d**a.
Galang merebahkan badannya di sofa, melepaskan jas lalu membuka kancing kemeja paling atas yang membuatnya gerah. "Oh, ya, mengapa tak ada di grup SD?"
Saat dimasukkan ke grup chat alumni sekolah dasarnya di Solo beberapa waktu lalu, ia langsung teringat pada Kinara. Apalagi setelah salah satu kawan mereka membagikan foto sewaktu kegiatan class meeting di pertengahan kelas enam. Ada Kinara juga di foto itu.
Sudah tiga belas tahun lamanya tak bertemu, bahkan tak pernah tahu bagaimana kabarnya. Sempat berharap bisa saling bertegur sapa di grup chat, namun yang ditunggu tak jua muncul di grup.
"Hapenya penuh!" Kinara berbohong. Alasan sebenarnya adalah, ia memang sengaja menghindari teman-teman lama. Khawatir, jika mereka tahu, Kinara si bintang kelas ternyata hanya tamatan SMA dan menjadi penjual nasi uduk di pasar. Sialnya, sekarang ia malah berhadapan dengan Galang.
"Jadi, bagaimana tawaran kakakku?" Galang kembali bertanya.
Kinara tersenyum sinis. "Kau pasti ingin sekali aku menjadi asistenmu, supaya posisiku ada di bawahmu dan kau merasa menang atasku, iya kan?" tuduh Kinara.
"Flo, sampai kapan mau bersaing seperti ini?" Galang tertawa kecil, tak disangka persaingannya dengan Kinara jaman sekolah dasar masih juga berlanjut hingga sekarang.
“Mau posisimu di atasku? Nanti kalau sudah halal gampang, mau di atas atau di bawah, aku oke saja."
Edan! "Itu mulut apa comberan?"