Ini benar-benar di luar batas. Dalam hitungan detik, Walter menyentuh pipiku sembari mendekatkan wajahnya dan secepat kedipan mata hormon adrenalinku pun melonjak sampai menimbulkan efek tergesa-gesa pada aliran di pembuluh darah kecil area wajah, hingga aku memerah sepenuhnya. "Apa kau baik-baik saja?" Walter bertanya tanpa perlu menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. "Maksudku, aku tahu kau kesal padaku karena menawarkan sesuatu yang--mungkin--merupakan kubangan neraka bagi setiap gadis sepertimu. "Tapi benarkah kau bisa menikmati liburan musim panas sendirian, di mana Divtia pun lebih sibuk dengan teman-temannya daripada menjadi tour guide gratismu." Suara Walter terdengar tepat di telingaku, bersamaan dengan jemarinya yang mencubit kecil pipiku. "Kau memerah, padahal aku hanya ing

