Kami berhenti di pinggir pantai, di bawah jembatan yang menurutku sangat aestetic untuk berfoto. Namun, menjadi sangat jelek karena mood buruk akibat Walter sangat tidak bersahabat, ketika menurunkanku dari bahu. Benar-benar kasar, sehingga aku bisa mendengar bagaimana suara tulang persendianku saat menghantam pasir. Bukan. Walter tidak melemparku seperti karung beras ketika sampai di gudang sembako, tapi jika aku tidak kuat-kuat dalam hal keseimbangan, maka tetap saja akan terjatuh seperti karung beras. Aku mendengkus kesal kemudian melipat kedua tangan di bawah d**a, sembari menolak menatap Walter dengan lebih memandang laut lepas yang dihiasi gelombang ombak. Namun, Walter memutar wajahku agar aku bersedia menatapnya. "Apa kau sengaja melakukan ini?!" Walter memulai perbincangan den

