Faz termangu sambil menatap map yang berisi data, riwayat dan foto Pak Bram yang diserahkan Ustadzah Hani padanya hingga tidak menyadari bahwa ponselnya berdering sudah lebih dari lima kali. Kepalanya terus memikirkan Pak Bram. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Pak Bram atau mungkin sekarang dirinya tidak perlu memanggilnya dengan sebutan 'Pak' lagi—karena sudah bukan kepala sekolahnya—belum juga menyerah untuk mempersunting dirinya. Faz menggeleng beberapa kali kemudian menghirup napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia sungguh berpikir bahwa Pak Bram benar-benar sudah menyerah karena setelah dirinya mengabaikan lamaran pria itu beberapa bulan lalu, Pak Bram bahkan tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Ternyata menurut penjelasan Ustadzah Hani tadi, Pak Bram sedang berusaha mem

