Mama

1654 Kata
"Faz, seharusnya kamu istirahat. Kenapa malah bersih-bersih kamar Irva begitu?" Faz menoleh dan melihat mama Irva sudah berdiri di ambang pintu kamar. Ia tersenyum malu sambil berkata bahwa dirinya bosan jika tidak melakukan apa pun. Mama Irva masuk ke dalam kemudian duduk di kursi meja belajar putranya. Ia memperhatikan Faz yang sedang menata lemari baju Irva yang kembali berantakan padahal beberapa waktu lalu Faz sudah merapikannya. Gerakan Faz sangat luwes menunjukkan bahwa gadis itu sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Memang Irva sudah pernah bercerita bahwa Faz sudah sejak lama hidup sendiri karena dua orang tuanya berpisah. Sulit baginya memercayai ada orang tua yang tega meninggalkan putrinya sendiri demi mencari kebahagiaan masing-masing. Menurutnya, orang tua wajib bertanggung jawab atas anak mereka sampai kelak sang anak bisa berdiri sendiri, bukan meninggalkan tanpa perasaan seorang gadis yang masih membutuhkan banyak bimbingan dan kasih sayang seperti Faz. "Tante, butuh bantuan?" Faz bertanya sambil menutup pintu lemari yang sudah ia tata. Ia tetap duduk di lantai dengan kepala mendongak menatap mama Irva. Mama Irva ikut duduk di lantai bersama Faz. Ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Hatinya selalu terasa pedih setiap memikirkan kehidupan gadis itu. Ia tak bisa membayangkan, seorang gadis belia harus bertahan hidup sendiri, sekolah dan bekerja untuk memenuhi segala kebutuhannya sendiri. Ohh, tentu dirinya sudah menawarkan untuk membiayai sekolah Faz, tapi Irva berkata bahwa Faz tidak suka dikasihani atau menerima bantuan secara cuma-cuma. "Kau tahu, kau bisa memanggilku Mama sama seperti Irva." Faz tergugu di tempat. Ia menatap mama Irva bingung sekaligus tak percaya. Wanita berparas ayu dengan rambut ikal sebahu dan mata yang selalu terlihat tersenyum itu meminta dirinya untuk memanggilnya 'Mama'? "Kau tidak mau?" "Bu-bukan begitu," jawab Faz gagap. "Mama ... Itu ...." Faz berkaca-kaca. Dirinya sudah lama tidak memanggil seseorang dengan sebutan itu, bahkan sudah sejak lama dirinya tidak lagi memimpikan untuk memiliki seorang ibu yang bisa memberikan kasih sayang padanya. Ia tak ingin terluka dan bersedih ketika memikirkan orang tuanya yang pergi meninggalkan rumah, melupakan dirinya. Untuk itulah, sebisa mungkin dirinya mengubur dalam-dalam harapannya tentang sosok orang tua dalam hidupnya. Saat ini, seseorang yang belum lama ini ia kenal menawarkan hal itu padanya. Mama Irva menarik Faz ke dalam dekapannya. Tangannya mengusap lembut rambut hingga punggung gadis itu. Memang, gadis itu memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya, tapi dalam ajaran agamanya pun selalu diajarkan tentang kasih, jadi menurutnya hal ini bukanlah masalah besar. "Kamu tidak sendirian lagi sekarang. Ada masalah apa pun, kamu bisa bercerita pada Mama." Faz terisak semakin kencang. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Hatinya pedih mengingat sosok mamanya sendiri sekaligus senang karena Mama Irva bersedia menganggap dirinya sebagai bagian dari keluarga. Meski begitu, tetap saja ada yang kosong ketika itu bukan orang tuanya sendiri. Dalam hatinya yang paling dalam, ia sangat merindukan orang tuanya: ayah, ibu dan juga papa biologisnya. "Mama," lirihnya di antara isak tangisnya. Mama Irva menengadahkan wajah untuk menghalau air matanya yang juga akan tumpah. Bukan dirinya tidak merasakan kesedihan Faz, ia hanya tidak ingin membuat gadis itu semakin berduka. Dirinya harus bisa menahan diri agar tidak membuat Faz terlalu larut pada kesedihan yang dirasakan. "Sudah dong nangisnya." Ia melepas pelukan Faz agar bisa mengusap air mata di wajah gadis itu. "Kami semua di sini keluargamu. Jadi, jangan pernah bersedih lagi." Faz mengangguk dan kembali menghambur ke dalam pelukan Mama Irva. Meski tidak sepenuhnya bisa mengobati rasa rindu pada ibunya sendiri, setidaknya kasih sayang dan perhatian dari Mama Irva bisa menjadi pelipur lara dari kesepian dan kesedihannya selama ini. "Pada ngapain, sih?" Baik Faz maupun Mama Irva terkejut dan seketika menoleh ketika mendengar suara Irva. Cowok itu melenggang santai memasuki kamarnya, melempar ranselnya begitu saja ke atas meja belajar, melepas sepatu dan kaus kaki ya kemudian melemparnya ke sudut kamar, kemudian duduk di lantai, merebut Faz dari pelukan mamanya. "Mama apain dia sampai nangis begini?" Irva memicingkan matanya ke arah sang mama sambil memeluk Faz dengan erat. "Kamu dimarahin ya sama Mama?" "Enggak, kok." Faz memukul d**a Irva. "Jangan asal tuduh. Mama cuma lagi nemenin aku beres-beres kamarmu aja." Sementara itu, Mama Irva melipat kedua tangannya di depan d**a sambil tersenyum sinis pada putranya. "Faz nangis karena kecapekan habis beres-beres kamarmu yang nggak pernah ada rapinya!" "Hah?!" Irva pura-pura tidak mendengar ucapan mamanya. Kepalanya menunduk untuk melihat wajah Faz. Ibunya jarinya terulur untuk mengusap sisa-sisa air mata di wajah gadis itu. "Kan kamu harus banyak-banyak istirahat, kenapa malah beberes?" Mama Irva mendengus melihat sikap sok pahlawan putranya. "Mana bisa istirahat kalau kamarmu berantakan dan bau begini. Lagipula, ini baru jam berapa kok kamu sudah ada di rumah?" Ia berkata sambil melirik jam kecil di atas meja belajar Irva. "Makan siang pun belum Mama siapkan." Irva merengut menatap mamanya, tapi tetap saja ia menjelaskan kenapa dirinya pulang lebih cepat. Ia jujur pada mamanya jika sejak pagi memang dirinya tidak mengikuti pelajaran di kelas karena kepala sekolah memanggil untuk menyelesaikan kasus Faz. Ia juga menjelaskan bahwa kasus ini hampir saja diserahkan pada pihak polisi jika saja dirinya tidak memiliki ide untuk memancing pelaku yang mengunci Faz di kamar mandi. "Lalu, bagaimana sekarang?" Mama Irva menutup mulut dengan dua tangannya. "Seharusnya biarkan saja mereka dibawa ke kantor polisi. Untung saja Faz cepat ditemukan, jika tidak ...." Irva mengembuskan napas dengan keras. "Jika ngikutin emosi, ya, Irva mah setuju aja kalau urusan ini diserahkan ke polisi, tapi Irva nggak tega jika nanti Faz harus terlibat dan bersaksi ke sana kemari. Irva hanya memikirkan Faz." "Bener juga sih," ucap Mama Irva setuju. "Ya sudah, Mama ke dapur dulu siapin makan siang." Ia menambahkan sambil berdiri. "Faz bantuin, Mama." Faz berusaha membebaskan diri dari pelukan Irva, tapi bukannya melepaskan, cowok itu malah memeluknya semakin erat sambil tergelak. "Nggak usah," jawab Mama Irva dengan lembut. "Biar Irva yang bantuin, kamu istirahat saja ya." Irva mengerang mendengar ucapan mamanya. "Mama kan tau, Irva nggak suka masak." Mama Irva tersenyum jahil. "Mama nggak nyuruh kamu masak, tapi cuci piring!" Setelah mengatakan itu, Mama Irva langsung berjalan cepat keluar dari kamar putranya. Sebelum sampai di dapur, ia kembali berteriak agar Irva buru-buru cuci piring atau tidak ada makan siang. Beberapa saat kemudian, Irva sudah berada di dapur untuk mencuci piring, tapi ia tidak sendirian karena ada Faz yang membantu di sebelahnya. Sementara Irva yang mencuci piring, Faz yang mengeringkan dan menatanya di rak. Mereka berdua melakukan kegiatan itu sambil bersenda gurau. Sesekali Irva dengan sengaja menempelkan busa cuci piring ke pipi Faz membuat gadis itu menjerit dan mencubit pinggangnya. Bukannya jera, Irva malah semakin menjadi-jadi menggoda Faz, mengurai sanggul gadis itu, meniup telinganya, menyiram Faz dengan air sabun dan macam-macam lagi. Terakhir yang membuat Faz akhirnya ngambek dan meninggalkan Irva untuk menyelesaikan cucian piring itu sendiri adalah ketika Irva kembali mencuri ciuman di pipi gadis itu. "Beib, jangan marah dong. Kan cuma becanda aja." Irva membungkuk di samping Faz yang duduk di meja makan tak mau menatap ke arahnya. Telinganya bisa mendengar mamanya tertawa bahagia sambil terus meledeknya, "sukurin!" Faz tetap tidak menggubris permintaan maaf Irva. Ia marah bukan hanya pada Irva, tapi pada dirinya sendiri yang sejujurnya merasa berbunga-bunga ketika Irva menciumnya. Akal sehatnya berkata bahwa itu salah! Namun, hati kecilnya menyukai hal itu. "Sebaiknya aku pulang saja," ujarnya sambil bangkit berdiri dan melangkah cepat ke kamar Irva untuk mengemasi barang-barangnya. "Jangan!" Irva memeluk Faz dari belakang. "Aku sungguh minta maaf. Aku janji hal itu tidak akan terjadi lagi." "Kemarin kamu juga berjanji begitu, tapi hati ini tetap saja—" "Tidak!" Irva memotong ucapan Faz. "Kali ini aku sungguh-sungguh. Kau bisa pegang janjiku. Jika, sekali saja kau mengetahui dengan mata kepalamu sendiri bahwa aku mencium dirimu, aku rela diinjak seribu gajah." Irva berusaha terlihat meyakinkan dengan janjinya. Ohh, dirinya akan menepati janji itu. Faz memejamkan mata dengan hati pedih. Selalu sulit jika tentang Irva. Padahal, seharusnya ia marah dan tidak terus melanjutkan hubungan tanpa statusnya bersama Irva, tapi seperti sebelumnya, ia tidak bisa mengambil keputusan itu karena untuk saat ini hanya Irva yang ia punya. "Beneran, ya, jangan seperti itu lagi." "Janji," bisik Irva di telinga Faz. "Tapi kalau peluk dan lainnya masih boleh dong?" Setelah mengatakan itu, Irva berlari kembali ke dapur sambil tergelak, sementara Faz mengejarnya di belakang. Gadis itu mengayun-ayunkan kepalan tangan ke arahnya dan ia berpura-pura terus menghindar untuk membuat Faz jengkel. "Irva!" Faz akhirnya berhenti mengejar, meraih bantal di ruang dan melemparkan bantal itu ke arah Irva yang tentu saja berhasil menghindar dengan sangat mulus. Selama beberapa saat lamanya, baik Irva maupun Faz tidak ada yang mau mengaku kalah. Keduanya masih saling mengejar dan membalas sampai Mama Irva menghentikan keduanya. "Makan siang sudah siap. Kalian mau bantu menata meja makan, atau tidak usah makan siang sekalian?" "Maaf, Ma." Faz meminta maaf dan melemparkan tatapan sengit ke arah Irva untuk terakhir kalinya sebelum membantu Mama Irva. Irva sendiri hanya menyengir lebar melihat Faz terlihat kesal padanya. Menurut pendapatnya, Fazluna terlihat lucu dan menggemaskan ketika marah atau kesal. Itulah mengapa ia senang sekali menggoda gadis itu. Tak lama berselang, ketiganya makan siang sambil bersenda gurau di ruang keluarga. Faz, Irva dan Mama Irva. Mama Irva menceritakan masa kecil Irva yang membuat Faz tertawa terbahak. Bagaimana tidak, jika ternyata semasa kecil, Irva ternyata pemalu dan seringkali bersembunyi di dalam rok mamanya ketika berada di tempat asing atau tempat baru. Bahkan ketika hari pertama masuk sekolah TK pun, Irva tak mau keluar dari dalam rok mamanya. "Mama, jangan permalukan anak sendiri, dong." "Lha, kenapa malu, itu kan kenyataannya?" Mama Irva membalas tanpa perasaan. Keseruan mereka tiba-tiba saja berhenti ketika mendengar suara bel berbunyi. Mama Irva dengan sigap berdiri untuk melihat siapa yang datang dan meminta Irva dan Faz untuk melanjutkan makan saja. Beberapa saat kemudian, Mama Irva kembali dengan wajah cemas sambil meremas jari jemarinya sendiri "Kepala sekolah kalian datang. Bagaimana ini?" "Si Brambang itu datang kemari?!" Irva membanting sendoknya dengan kesal sambil berlari ke ruang tamu untuk memastikan bahwa mamanya tidak salah orang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN