Faz berdiri menatap rumah Irva dari kejauhan. Esok pagi dirinya akan berangkat ke Batam. Alhamdulillah setelah sekitar satu Minggu menjalani berbagai macam tes seperti, tes tulis, wawancara dan medical akhirnya ia dinyatakan lolos dan diterima di sebuah peruhasaan yang cukup ternama di Batam. Dari sekitar seratusan peserta, hanya ada enam orang yang akan terbang ke Batam besok. Mereka semua diharuskan berkumpul di kantor Disnaker pukul setengah enam pagi kemudian berangkat bersama-sama menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Batam. Meski pesawat dijadwalkan berangkat pukul sepuluh lebih lima belas, tapi pihak penyalur tenaga kerja meminta agar mereka berangkat lebih pagi demi menghindari macet. Sore ini, Faz berencana untuk pamit pada Mama dan Papa Irva. Namun, ketika sampai di

