"Faz, minggu besok jalan, yuk?" Irva yang sedang mengemudikan mobil untuk mengantar Faz ke tempat kerja melirik Faz sambil terus menyunggingkan senyum lebarnya. Sebenarnya senyum sumringah itu terus mengembang di wajahnya seharian ini. Sejak Faz mengirimkan pesan berupa gambar hati kecil, kebahagiaan Irva seperti meledak tak terkendali. Meski bukan kata cinta secara langsung, tapi Irva mengartikan itu sebagai ungkapan bahwa Faz mencintainya. Peduli setan dengan jadian. Yang penting satu sama lain sama-sama tahu bahwa mereka saling mencintai dan memegang komitmen itu, batin Irva.
"Aku ada kajian, Irva." Faz tetap tenang di bangku samping kemudi. Ia bahkan tak menyadari kebahagiaan yang meluap di dalam d**a Irva. Memang sikap Irva hari ini sedikit berlebihan dibanting sebelumnya, tapi Faz tidak menganggap itu hal yang aneh karena memang Irva sering melakukan hal-hal tak terduga. Seperti, bebarapa waktu lalu saat cowok itu datang ke tempat kerjanya sambil membawa coklat berukuran besar dan sekuntum mawar berwarna pink atau ketika dia memaksa menyuapi dirinya ketika berada di rumah sakit padahal sebenarnya dirinya bisa makan sendiri.
Seharian ini pun begitu, tapi sedikit berlebihan. Cowok itu memaksa untuk membawakan tasnya yang tidak berat saat mereka berjalan ke tempat parkir, menuntun tangannya ketika menuruni undakan di lobi depan sekolah, menjadikan jaket ya seperti payung untuk menutupi dirinya dari terik panas matahari ketika mereka menyeberangi halaman menuju tempat cowok itu memarkir mobilnya.
Faz hanya tertawa tanpa protes melihat tingkah Irva yang memang kadang suka nyeleneh, berbanding terbalik dengan sepasang mata yang menatap dirinya dan Irva dengan ekspresi masam dari jendela di ruang kepala sekolah.
"Aku tau. Maksudku sepulang kajian."
"Ya udah, mau janjian di mana?" Faz tak sampai hati untuk menolak keinginan Irva.
"Nggak janjian di mana-mana. Aku jemput kamu di tempat kajian." Irva terus fokus memperhatikan jalan hingga tak melihat perubahan ekspresi di wajah Faz.
Faz mendesah pelan. Ia bingung bagaimana cara menjelaskan pada Irva agar tidak lagi mengantar dan menjemput dirinya ke tempat kajian. Mungkin bagi Irva hal itu bukan merupakan masalah yang besar, tapi bagi Faz dan teman-teman di kajiannya, hal itu adalah masalah yang sangat besar. Bahkan dirinya sudah beberapa kali diperingatkan untuk tidak lagi berhubungan dengan Irva karena hal itu sangat bertentangan dengan ajaran agamanya.
"Faz?"
Faz gelagapan kemudian buru-buru menjawab bahwa minggu setelah kajian dirinya masih ada beberapa keperluan dengan teman-teman kajiannya jadi tidak bisa dipastikan akan pulang jam berapa. Jika, Irva ingin mereka keluar sebaiknya Irva menunggu saja di rumahnya nanti ia yang akan datang ke tempat Irva.
"Mana bisa aku biarin kamu datang sendiri?" Irva masih tidak rela jika Faz harus pergi sendiri, tapi dirinya menaruh kecurigaan bahwa sebetulnya itu hanya alasan Faz saja karena gadis itu merasa tidak enak dengan teman-teman kajiannya. Apalagi beberapa waktu lalu dia juga pernah didatangi oleh guru ngaji dan temannya. Jika mengingat kejadian saat Faz diminta untuk mengakhiri hubungan dengannya meski hanya sekedar teman, emosi Irva rasanya ingin meledak saat itu juga. Namun, dirinya berusaha untuk tetap tenang dan berkepala dingin karena untuk saat ini ia belum siap kehilangan Faz lagi.
Sebuah ide tiba-tiba saja melintas di benak Irva. Ia tidak ingin membuat posisi Faz sulit, jadi ia pun berkata bahwa minggu besok dirinya menunggu Faz di rumah saja. Ia akan menunggu sampai Faz datang dan bersumpah tidak akan datang ke tempat kajian gadis itu.
"Nah, gini kan enak." Faz tersenyum cerah.
"Tapi awas ya kalau sampai kau tak datang." Irva menyeringai mengerikan. "Aku bersumpah akan menggeledah tempat kajianmu."
Faz tertawa mendengar kelakar Irva. Ia tahu cowok itu hanya bercanda, tapi bisa jadi serius sepertinya jika dirinya benar-benar tidak datang. "Kamu tidak akan bisa. Kau bisa dilaporkan ke polisi karena mengacau."
"Biar saja."
"Kamu tidak takut dipenjara?"
"Tidak!" Irva menjawab tegas. "Selama ini saja aku sudah merasa dipenjara dan aku malah senang."
Faz syok mendengar perkataan Irva. Ia menoleh dan menatap cowok itu dengan kening berkerut. "Serius kau sudah pernah dipenjara?"
"Serius, dong."
"Kapan?" Faz menggelengkan kepala beberapa kali. Sulit baginya memercayai bahwa Irva pernah melakukan tindakan kriminal. "Kenapa sampai dipenjara?"
Irva mengulum senyum melihat Faz kebingungan dengan candaannya. "Sejak kapan ya?" Irva memiringkan kepala berpura-pura untuk mengingat sesuatu. "Aku sendiri lupa tepatnya kapan dan aku tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Kamu menjadi korban salah tangkap?" Faz mendesah lega. Ia merasa bersyukur jika memang karena salah tangkap karena penilaiannya tentang Irva sudah begitu liar biasa hingga sulit rasanya membayangkan cowok itu memiliki sisi kelam dalam dirinya.
"Aku tidak suka disebut salah tangkap karena itu berarti ini sebuah kesalahan. Mungkin, memang takdir kita seperti ini."
Faz mencubit lengan Irva gemas. "Irva, ihh, aku serius tau!"
"Iya, kan kau yang sudah memenjarakan hatiku. Apa itu salah tangkap?" Irva menoleh ke samping kemudian mengedipkan sebelah matanya pada sambil sambil menyengir lebar.
Faz melongo sesaat sebelum akhirnya tersadar bahwa lagi-lagi Irva menjahili dirinya. Ia pun berteriak kesal sambil memukul lengan Irva. Bukannya meminta maaf, cowok itu justru tertawa semakin keras membuat dirinya tak bisa untuk cemberut terlalu lama dan akhirnya ia pun ikut tertawa bersamanya.
Sampai di depan rental, seperti biasa, Faz langsung turun sendiri tanpa menunggu Irva membukakan pintu mobil untuknya. Jalan raya di depan rental terlalu kecil, sementara kendaraan yang lewat cukup padat dan rawan macet, maklum saja karena memang kawasan kampus.
Faz melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam rental. Di sana teman lawan shift-nya sudah menunggu.
"Sudah baikan?" Tantri—teman Faz— terkejut melihat Faz tiba-tiba saja muncul.
"Sudah." Faz tersenyum seraya meletakkan tasnya di atas meja.
"Bu Ayu mikirnya kamu masih sakit, jadi ini tadi aku diminta untuk lembur lagi buat gantiin kamu."
"Ohh," ujar Faz bingung. "Jadi, gimana nih sekarang? Maaf banget ya, Mbak Tantri, aku nggak kasih kabar. Mabuk sendiri tau, aku nggak ada ponsel."
"Iya, nggak papa, kok." Tantri mengangguk maklum. "Untuk hari ini, aku aja dulu yang jaga nggak papa. Kamu istirahat aja, gimana?"
"Aku udah baikan, kok." Faz meyakinkan temannya itu. "Aku temenin Mbak Tantri jaga aja nggak apa-apa, kan?"
"Ehh, jangan gitu dong. Aku kan jadi nggak enak."
Faz tersenyum menenangkan. "Nggak apa-apa, Mbak. Lagian aku juga nggak ada kerjaan di rumah."
"Ya udah, terserah kamu aja." Tantri menjawab sambil tersenyum simpul. "Ini masih sepi sih, jadi nggak terlalu banyak kerjaan. Tadi cuma ada beberapa yang print makalah, tapi belum diambil."
"Hmm," jawab Faz singkat. "Mbak Tantri hari ini nggak ada kelas?"
"Kebetulan, nggak ada." Tantri menyandarkan kepalanya di atas tangan yang ia letakkan di atas meja. "Kalau kemarin, rental terpaksa tutup karena aku harus kuliah. Kamu sakit apa sih?"
Faz tersenyum malu. "Sakit biasa aja."
Tiba-tiba saja Tantri menegakkan badan dan duduk miring menghadap Faz. "Tapi, sumpah ya cowokmu itu perhatian banget. Dia sampai telpon Bu Ayu buat izinin kamu, loh."
"Sahabat, Mbak." Faz meralat ucapan temannya itu.
Tantri memicingkan mata, "nggak mungkin. Semua yang liat juga tahu kalau kalian pacaran."
"Enggak, kok."
Tantri memajukan wajah untuk mengamati eskpresi di wajah Faz. "Wajahmu memerah, itu artinya kalian beneran pacaran." Sesaat kemudian Tantri terlihat menyesal sudah mengatakan hal itu karena tepat setelah ia mengatakan itu, wajah Faz berubah murung. "Kalian bertengkar?"
Faz mendesah pelan kemudian menggelengkan kepala lemah. "Kami beneran cuma sahabat, Mbak."
Tantri diam dan tidak mendesak lagi, tapi ia bisa melihat sekelumit kesedihan di wajah Fazluna. Sedikit banyak, ia sudah tahu bagaimana sifat dan watak Faz yang lebih suka memendam sendiri masalah dan kesedihannya, tapi sebagai seorang teman apakah dirinya harus diam saja?
"Faz, mumpung rental lagi sepi, kalau ada yang mau kamu ceritain, aku siap dengerin, kok." Ia meraih tangan Faz dan menggenggamnya erat. "Apa dia PHP-in kamu?"
"Nggak ada yang PHP, mbak. Kami nggak bisa jadian karena beda agama." Faz akhirnya memilih jujur daripada Tantri terus menduga yang tidak-tidak. Benar saja, setelah dirinya mengatakan hal itu, Tantri langsung diam dengan mulut menganga lebar.
"Faz, aku sungguh minta maaf." Tantri benar-benar merasa bersalah. "Aku paham sekarang. Kalian saling mencintai, tapi tidak bisa bersama dalam satu hubungan yang serius."
Kali ini Faz tidak membantah ucapan Tantri. Meski tidak pernah mengakui, tapi Faz memendam perasaan lebih untuk Irva. Ia hanya terlalu takut untuk mengungkapkan hal itu dan berusaha terus menyangkal. Dirinya tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Yang jelas, semakin hari kebutuhannya akan kehadiran Irva semakin besar seperti manusia yang membutuhkan oksigen untuk bernapas.
"Apa tidak ada jalan keluar?" Tantri bertanya ragu. Ia khawatir jika pertanyaannya bisa membuat Faz semakin bersedih dan ketika kepala di hadapannya itu menunduk dalam, ia pun tahu jawabannya. "Yang sabar, ya."
"Kakak sulung Irva menjadi mualaf tanpa berunding dengan kedua orang tuanya. Hal itu sempat membuat mama dan papa Irva marah, kecewa dan sedih meski belakangan keduanya sudah bisa menerima hal itu. Irva tidak ingin membuat orang tuanya mengalami hal yang sama."
Tantri menghela napas berat. Ia menatap Faz prihatin. "Tapi aku bisa melihat dia begitu peduli padamu, Faz. Apakah benar-benar tidak ada solusi? Misal kalian jalani saja dulu sambil mencari jalan keluar?"
"Kami sempat ribut beberapa hari lalu." Faz menjelaskan pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Irva beberapa waktu lalu dan bagaimana hasil dari pertengkaran itu adalah mereka menjadi semakin dekat. Ia juga mengatakan bahwa dirinya menjadi sulit untuk menjauh dari Irva, meski itu adalah hal yang harus ia lakukan sejak awal. "Untuk saat ini, aku hanya punya Irva, Mbak."
Tantri berkaca-kaca. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya berada di posisi Faz. Di satu sisi, ia harus taat pada ajaran agamanya yang jelas-jelas melarang untuk berhubungan dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan yang sah, tapi di sisi lain, Faz tidak memiliki siapa-siapa dan hanya Irva yang seolah bisa memahami kebutuhan gadis itu.
"Maaf, Mbak. Aku tidak seharusnya terlalu banyak bicara seperti ini." Faz mendesah pelan. "Aku tidak tahu kenapa menjadi lemah begini."
"Nggak ada salahnya kok sekali waktu curhat. Faz, bahkan orang terkuat sekalipun terkadang ada saatnya dia butuh untuk dikuatkan."
Beruntung saat itu beberapa orang masuk ke dalam rental untuk mengambil makalah dan juga mengedit naskah hingga Faz tidak perlu melanjutkan curhatannya. Sejujurnya dirinya tidak pernah curhat pada siapa pun. Selain merasa malu dan tidak nyaman, ia juga tidak ingin dikasihani.
Sambil mengamati Tantri melayani beberapa pelanggan rental, Faz duduk di depan meja kasir sambil merebahkan kepalanya di atas meja. Ia pun tertidur dan ketika baru bangun ketika merasakan tepukan lembut di pipinya.
"Faz, bangun. Udah nyampe nih."
Faz membuka matanya yang masih terasa berat. Ia memicing untuk menyesuaikan dengan pencahayaan sekitar. "Ehm, di mana ini?" tanyanya masih setengah mengantuk.
"Di rumahmu."
Selama beberapa saat, Faz hanya diam sambil mengingat kembali sedang berada di mana dirinya. Ingatan terakhirnya hanyalah rental. Ya, selesai sesi curhat dadakan bersama Mbak Tantri, ia merebahkan kepalanya di meja kemudian ....
Seketika Faz menegakkan badan dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kesadarannya sudah pulih sepenuhnya dan ia bisa mengenali halaman kosong di samping rumahnya yang biasa dijadikan Irva tempat parkir. Ia menggerakkan kepalanya ke samping dan melihat Irva tersenyum geli menatapnya. Cowok itu tidak lagi memakai seragam, hanya kaus berwarna merah bergambar gitar di depannya dengan rambut tetap berantakan seperti biasa. "Kamu kok bisa ada di sini?"
Irva tergelak melihat kebingungan Faz. Ia tidak menjawab dan hanya mengangkat bungkusan kresek di tangannya. "Buruan bukain pintu, aku lapar."
"Kamu jemput aku di rental?" Faz bertanya, tapi diabaikan oleh Irva. Cowok itu malah berjalan terus sampai ke depan teras rumahnya, membuat Faz akhirnya bergegas keluar dari dalam mobil dan menyusul. Sambil berjalan menyusul Irva, kepalanya memikirkan beberapa kemungkinan mengapa cowok itu ada di sini dan yang paling masuk akal adalah cowok itu memang menjemputnya di rental saat dirinya sedang tertidur. Lalu, apa itu berarti Irva juga yang menggendong dirinya sampai ke dalam mobil?
"Faz!"
Faz yang baru saja menaiki undakan teras rumahnya menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. "Pak RT?" Faz membalikkan badan dan menghampiri Pak RT yang berdiri di tepi jalan masuk. Entah memang kebetulan lewat di depan rumahnya atau sengaja datang karena ada keperluan.
"Begini," ujar Pak RT tanpa basa-basi, "Minggu besok warga kampung mau adakan kerja bakti di sepanjang jalan ini sampai di ujung jalan raya sana. Karena kamu nggak mungkin bantuin kerja bakti, jadi siapkan saja minuman di depan rumahmu sini, teh atau kopi begitu saja cukup."
"Baik, Pak RT. Mohon maaf sekali ya, dari keluarga di sini tidak ada yang mewakili." Faz merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Faz. Kami semua maklum, kok. Jadi ya begitu saja, kamu siapin minum saja nanti area di sekitar rumahmu juga biar ikut dirapikan."
"Kalau saya saja yang jadi wakil keluarga, Faz, boleh tidak, Pak?" Irva yang semua berdiri di depan pintu masuk tiba-tiba saja sudah mendekat dan ikut nimbrung. "Yah, buat latihan, siapa tahu nanti saya jadi warga sini juga."
Pak RT pun tertawa mendengar kelakar Irva. "Boleh saja, kok. Malah bagus kalau dari keluarga Faz ada yang mewakili ya, meski cuma calon bojo."
"Bukan, Pak!" Faz buru-buru menyanggah pernyataan berbahaya itu. "Kami cuma sahabatan."
Pak RT kembali tertawa. "Apa pun hubungan kalian yang penting tetap bertanggung jawab dan tau batas, ya. Kamu perempuan, Faz." Ia menasehati Fazluna karena memang gadis itu hidup sendiri dan tidak ada orang tua yang mengontrol dan menasehati. Jadi, sebagai ketua RT di kampung sini, ia pun merasa perlu untuk menasehati dan mengawasi Faz. "Dan kamu, siapa namamu?" Tatapannya beralih pada pemuda yang berdiri di samping Faz.
"Saya Irva, Pak," jawab Irva sopan.
"Nah, Irva. Jaga Faz baik-baik ya. Laki-laki yang baik tidak akan merusak perempuan yang disuka. Kamu mengerti?"
Irva mengangguk mantap. "Siap, Pak."
Pak RT pun tertawa renyah sembari menepuk lengan Irva. "Bagus. Ya sudah, saya lanjut dulu ya, masih ada urusan di kelurahan."
"Baik, Pak." Irva dan Faz menjawab bersamaan. Ketika Pak RT sudah menghilang dari pandangan, Faz protes pada Irva, kenapa cowok itu berkata yang tidak-tidak di hadapan Pak RT.
"Apanya yang tidak-tidak? Aku serius mau bantu kerja bakti, kok."
"Bukan soal itu, tapi untuk kerja bakti itu seharusnya kamu nggak perlu ikut repot menjadi wakil dariku, Irva."
Bukannya menjawab, Irva malah merebut kunci pintu di tangan Faz dan membuka pintu depan yang mulai seret engselnya. "Ahh, aku lupa terus mau bawa oli," ujarnya pada diri sendiri.
Faz mengekor di belakang Irva dengan wajah cemberut. Ia malu pada Pak RT sekaligus tak enak hati pada Irva yang seolah merasa bertanggung jawab atas apa pun yang berhubungan dengan dirinya. "Irva, aku serius. Kamu tidak perlu merasa perlu untuk—"
"Lapar nih," ucap Irva seraya mengusap perutnya. "Makan dulu, yuk. Aku udah bawain ayam bakar, nih."
Faz mengembuskan napas keras kemudian masuk ke dalam kamar untuk berganti baju. Setelahnya, ia mengambil piring, sendok dari dapur, segelas air putih di botol dan membawanya ke ruang tamu di mana Irva sudah menunggu.
Irva membantu Faz membuka kemasan dus yang berisi ayam bakar utuh satu ekor dan memisahkan sambal serta sayuran lalapnya, sementara Faz membagi bungkusan nasi ke dalam dua piring, porsinya sendiri tiga kali lipat porsi nasi Faz.
"Kenapa belinya banyak sekali?" Faz mendelik melihat ayam bakar utuh yang sudah dipindahkan Irva dari dalam dus ke piring.
"Kan, makanku banyak." Irva menjawab sekenanya dan mulai makan agar Faz berhenti bertanya dan ikut makan. "Biasanya kerja bakti dimulai jam berapa?"
Kekesalan Faz menguap melihat keseriusan Irva untuk membantu kerja bakti di kampungnya. "Pagi, sih. Tapi kan kamu harus ibadah."
"Gampanglah, bisa diatur. Besok aku datang pagi."
"Kamu serius?" Sekali lagi Faz ingin memastikan bahwa Irva tidak sedang bercanda.
"Memangnya, aku terlihat bercanda?"
Faz menggeleng. "Aku hanya tidak habis pikir, kenapa kamu mau repot-repot begini."
Irva berhenti mengunyah dan menatap Faz serius. "Karena aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, Faz. Apa pun itu. Aku serius."
***