44. Penyesalan, Sia-sia

1841 Kata

Sepi meraja. Tak ada yang membuka suara. Sepasang suami-istri itu kompak menjatuhkan pandangan, pada sosok yang kini tengah terlelap damai dengan posisi telungkup di atas tempat tidur. Keduanya seolah sepakat mengatupkan bibir. Atau mungkin, tak ada satu pun kata yang berhasil tercuri keluar, semenjak sang Dokter yang tadi memeriksa pamit undur diri. Pendingin ruangan sudah disesuaikan agar tak terlalu dingin. Mengingat, sosok yang terlelap di atas tempat tidur tak mengenakan atasan. Dengan selimut yang menutupi hingga sebatas pinggang. Sementara tubuh terbukanya memperlihatkan luka memanjang dibagian punggung. Tak hanya satu, tapi tiga. Luka-luka mengerikan itu sudah diobati. Semua yang melihat prosesnya menatap iba dan meringis ngilu, seolah ikut merasakan perih dan sakitnya. Tapi s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN