Brian menyenderkan tubuhnya di badan kursi besar miliknya. Siang ini ia tak bisa kemana-mana, pekerjaannya masih menumpuk. Ingin rasanya ia segera menemui wanita yang selalu ia pikirkan siang ataupun malam. Namun, sepertinya ia harus menundanya untuk kali ini. Lantas, Brian segera memberi kabar agar Alisya bisa mengerti dan tidak salah paham terus menerus mengenai dirinya. Brian tersenyum saat mendapat balasan pesan itu. Ia merasa lega, sebab Alisya tidak mempermasalahkannya dan sudah mengerti akan posisinya saat ini. "Huff ..." Brian menghela napas panjang kembali. Perutnya kini sudah mulai demo. Ini waktunya jam makan siang. Brian pun membuka pintu ruangan itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat seseorang di sana. "Nabila?" Seorang perempuan itu namp

