Bab 10 - Terciduk oleh Krystal

1574 Kata
Setelah menyelesaikan kelas yang sangat membosankan itu, Jaehan langsung keluar dan berjalan-jalan di koridor MSS seraya mencari-cari aura yang sejak kemarin mengganggunya. Namun sampai saat ini dia belum menemukan titik temunya. "Jae, tolong antar buku-buku ini ke ruangan Bu Zei."  Jaehan menatap buku-buku yang disodorkan ketua kelasnya itu, bernama Gio atau Iog, entahlah dia lupa. Setelahnya laki-laki itu langsung pergi meninggalkan buku-buku anak kelas di tangan Jaehan.  "Kurang ajar," keluh Jaehan. Namun bagaimana pun juga posisinya di sini sebagai anak baru dengan usia remaja. Bukan Gumiho yang telah hidup berabad-abad. Sesaat Jaehan memikirkan solusinya saat melihat tempat sampah. Akan tetapi urung saat Kaezn berdeham melewatinya, saat mengangkat kepala dan mengedarkan pandangannya, hampir semua pasang mata tertuju pada Jaehan. Rata-rata mempertanyakan tindakan Jaehan yang ingin memasukkan buku-buku itu ke tempat sampah. Maka demi tak menimbulkan masalah baru, Jaehan akhirnya menarik diri dan melangkah santai menuju ruangan guru yang disebut ketua kelas. Tidak sulit baginya menemukan ruangan yang bertuliskan Zei Arndya.  Tangan Jaehan menggantung di udara saat ingin mengetuk daun pintu. Dia merasakan aura berbeda, aura yang sangat dikenalinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jaehan langsung mendorong pintu itu hingga orang di dalamnya terlonjak kaget. "Kau mengagetkanku," keluh Bu Zei sambil mengusap da*da.  "Sedang apa kau di sini?" tanya Jaehan sambil menghempas buku-buku yang dia bawa.  Guru yang bernama Zei itu lantas tersenyum. Dia melangkah mendekati Jaehan, tangannya terulur menyentuh kulit wajah laki-laki itu sambil tersenyum simpul. "Ternyata kau tak memiliki banyak perubahan ya." Dia menepuk-nepuk bahu Jaehan. "Masih seperti dulu," ucapnya tanpa berniat membuat jarak. Pandangan Jaehan turun menyusuri wajah Zei, lalu mendengkus samar.  "Sedang apa kau di sini?" tanya Jaehan mengulang pertanyaannya. Banyak spekulasi yang timbul dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apa lagi wanita di depannya ini tidak berbeda jauh dengannya. "Mencari mangsa, mungkin?" Zei terkekeh saat Jaehan menyorotnya tajam. "Auramu sangat lemah." Ada nada mengejek dari nada ucapan Jaehan. "Apa yang terjadi?" Zei mengalungkan tangannya di leher Jaehan. "Aku hanya berusaha bertahan hidup di tengah manusia." "Jadi kau sedang menjalankan misi bertahan hidup, ya," cibir Jaehan sambil mendorong tubuh Zei hingga menabrak meja, langsung saja perempuan itu menaikkan boko*ngnya ke atas meja dengan tangan masih melingkar di leher Jaehan. "Sejak kau menginjakkan kaki di sini, aku langsung mengenalimu. Tapi aku tidak menyangka kita bisa bertemu secepat ini. Apakah ini disebut takdir?" pancing Zei. Alih-alih menanggapi pancingan Zei, Jaehan memilih mengedarkan pandangannya ke ruangan yang dipenuhi buku itu, lalu kembali menatap Zei yang tak melepas tatapannya. "Siapa saja selain kita?" tanya Jaehan. Zei mengedikkan bahu. "Hidup berdampingan dengan manusia, membuatku malas memikirkan yang lain. Ini terlalu nikmat Jae. Bebas." Zei mengulum senyum. "Seperti yang kau ketahui, aku terlalu lemah untuk merasakan energi kalian," lanjutnya. "Lalu bagaimana dengan siswi-siswi yang hilang?" Tatapan Zei sontak memicing, tidak lama kemudian dia tersenyum miring dengan sorot datar. "Kau menjalani hukuman, huh. Sudah kuduga, kau masih breng*sek seperti Jaehan tiga ratus tahun yang lalu." "Dan kau sedang memeluk si breng*sek itu." Alih-alih melepasnya, Zei malah menarik dasi Jaehan hingga laki-laki itu semakin dekat dengan tubuhnya. Sedang ke dua tangan Jaehan bertumpu pada pinggir meja. "Bagaimana rasanya hidup dalam hukuman?" bisik Zei sambil berbisik di telinga Jaehan. Jaehan langsung tersenyum miring, dia lantas mendekatkan bibirnya di telinga Zei sambil berkata, "Tidak seburuk menjadi Gumiho lemah sepertimu." "Hm, breng*sek kau Jae," kekeh Zei.  "Kurasa kau tak ingin mendapat citra buruk sebagai Guru nakal." Jaehan melirik pintu. "Ada banyak langkah yang siap menuju kemari." "Seorang Gumiho sepertimu tak akan membiarkannya," ucap Zei percaya diri.  Sedangkan Jaehan langsung mengulum senyum sambil mengangguk pelan seraya membalas pelukan Zei. Sekarang atau besok, ada masanya dia membutuhkan perempuan ini demi memperlancar perburuannya.  ***** Usai bell berdering, Krystal langsung merogoh ponselnya di saku rok dan mengecek pesan masuk dari seseorang yang dari kemarin dia hubungi. Nihil. Tak ada balasan atau pun tanda pesannya telah dibaca.  "Belum ada kabar dari Lais?" tanya Giiz sambil menyodorkan sebotol minuman dingin ke arah Krystal. Gadis itu menggeleng sambil memutar tutup minumannya.  "Kalau aku, sih, mikirnya dia lagi bersenang-senang dengan pacarnya." Giiz menggerutu. "Dia yang hilang, kenapa harus kau yang repot, sih?"  Krystal menggeleng sambil menatap sahabatnya dengan raut malas. "Dia sepupuku." "Ya aku tau. Tapi selama ini dia nggak pernah berprilaku baik ke dirimu, Krys." Krystal terdiam, sepupunya itu seperti memiliki dendam tersendiri padanya. Tapi bagaimana pun juga, mereka berdua tetaplah saudara. "Aku akan mencarinya." Krystal mendorong kursi yang di dudukinya. "Nanti," lanjutnya dengan nada ragu. "Ya, ya, terserah kau saja." Giiz mengibaskan tangannya tanpa minat. Terlepas kelakuan Lais yang tidak bersahabat dengan Krystal, ada hal lain yang membuat Giiz membenci gadis itu meski mereka teman sekelas. Tanpa menanggapi ucapan sahabatnya, Krystal beranjak mengambil tumpukan buku PR yang harus diantar ke ruangan gurunya. Saat melangkah di koridor sekolah, melewati perpustakaan kosong yang tak digunakan lagi, Krystal merasa ada yang mengamatinya. Saat dia menoleh, tak ada seorang pun di sana.  Hal itu pun membuat Krystal berdecak pelan dan melangkah cepat ke ruangan guru yang ditujunya, dan tanpa pikir panjang, dia langsung mendorong pintu dan masuk begitu saja tanpa mengetuknya lebih dahulu. "Maaf Bu, ini buk—" Krystal berkata dengan napas memburu karena perasaan tidak enaknya saat menuju kemari, namun ada hal yang lebih membuatnya tercekik dengan bola mata melotot. "—ku PR," lanjutnya bersamaan dengan jatuhnya buku di tangannya ke lantai hingga menarik perhatian dua orang di ruangan itu. Krystal mengerjap beberapa saat, lalu buru-buru memungut buku-bukunya. "Maaf Bu ...." "Kau terlalu dekat," ujar Zei sambil mendorong da*da Jaehan dan melepas kalungan tangannya di leher laki-laki itu.  Sudut bibir Jaehan berkedut samar saat menyadari raut terkejut Krystal, kendati demikian dia tetap memundurkan tubuhnya dan melangkah mendekati gadis itu. "Kenapa?" Hanya itu kata yang bisa terucap di bibir Krystal saat Jaehan menipiskan jarak di antara mereka hingga punggungnya menyentuh tembok. "Mengambil ini," kata Jaehan santai sambil merebut buku-buku yang dibawa Krystal, kemudian menaruhnya ke atas meja dengan senyum tertahan. Di sisi lain, Zei memperbaiki kemejanya akibat perbuatannya sendiri. Lalu tersenyum ke arah Krystal yang masih bergeming. "Kau ingin pergi begitu saja setelah kekacauan ini?" tegur Zei saat Jaehan melangkah ke arah pintu. Laki-laki itu menoleh. "Kau yang melakukannya," kata Jaehan enteng, karena Zei memanglah yang terus mendekatinya. "Maksudku ... dia melihatnya, Jaehan!" Ada naga tegas di ucapan Zei. Krystal semakin terpaku dengan raut bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan guru dan murid di depannya ini? "Kau yang memelukku. Aku tidak melakukan apa pun." Tampaknya Jaehan sangat puas melihat raut geram Zei. "Buat dia melupakan semuanya." Tersadar jika dia tengah di situasi tak mengenakkan, Krystal cepat-cepat menunduk sopan, lalu izin beranjak dari saja. Si*alnya, Jaehan menahan pintu dengan tubuhnya, membuat Krystal kesulitan untuk keluar meski gadis itu telah mendorong sekuat tenaga. "Lepas!" geram Krystal. Alih-alih menurut, Jaehan malah memajukan tubuhnya sambil berbisik di telinga Krystal hingga napasnya menerpa hangat kulit leher gadis itu. "Dia yang memulai," bisiknya ambigu, lalu mempersilakan Krystal keluar dari sana. Di sisi lain, Zei melihat semua itu dengan tangan bersidekap. "Kurasa kau dalam masalah," ledek Zei, lalu kembali berkutat dengan laptopnya. Jaehan tak mampu menggunakan sihirnya pada gadis itu. Itulah kesimpulan Zei. ***** Krystal langsung meraup oksigen sepuasnya saat menjauh dari ruangan gurunya itu. Sejenak dia mengatur napasnya sambil membungkuk dengan tangan memegang ke dua lututnya. Seumur hidup, baru kali ini Krystal melihat hal seperti tadi. Apakah gurunya memiliki hubungan dengan anak baru itu? Kedekatan mereka terlihat sangat intim, membuat Krystal bergidik ngeri saat teringat adegan tadi. Tampak ke dua tangan Zei melingkar di leher Jaehan, sedangkan ke dua tangan laki-laki itu bertumpu di pinggir meja, dari belakang tampak berpelukan. Mengerikan. Akan tetapi, belum sempat Krystal menormalkan rasa terkejutnya, dia kembali dibuat syok saat sebuah tangan menariknya dan membawanya ke balik tembok perpustakaan kosong. "Diam," bisik Jaehan sambil menutup bibir Krystal dengan tangannya. Tubuh laki-laki itu tepat di depan Krystal, sedang kepalanya mengamati sekitar. Dirasa aman, laki-laki itu melangkah pelan ke pintu perpustakaan kosong itu. "Diam," ulang Jaehan sambil melepas tangannya dari bibir Krystal. Kemudian menarik tangan Krystal dan menggenggamnya erat. Pintu perpustakaan itu jelas tergembok rapat. Tapi itu bukanlah masalah karena hanya dengan menyentuhnya gembok itu langsung terbuka. "Ada apa?" tanya Krystal heran. Jaehan tak menjawab. Dia membuka pintu perpustakaan itu hingga menimbulkan derit aneh, lalu melangkah masuk diikuti Krystal yang menatapnya aneh. "Ck, sebenarnya ada apa?" tanya Krystal. Tersadar jika aura yang sedari tadi mengganggunya kini telah pergi, Jaehan langsung menatap Krystal yang menyorotnya tajam. Satu hal yang pasti, pemilik aura itu telah menyadari kedatangan Jaehan ke sekolah ini. Membuatnya lebih berhati-hati dan waspada. Di sisi lain, ada satu hal yang mengganggu. Pemilik aura itu seperti mengikuti dan mengamati Krystal. "Tadi kau melewati ruangan ini saat ke ruang guru, kan?" tanya Jaehan. Mendengar ruang guru yang disebutkan Jaehan, Krystal langsung teringat kejadian tadi dan langsung melepas genggaman Jaehan di tangannya, lantas menyorot laki-laki itu dengan pandangan aneh. "Kau gila, ya?" "Saat melewati tempat ini, apa kau merasa ada yang mengamatimu?" tanya Jaehan lagi. Dia butuh pengakuan lebih jelas dari gadis ini mengenai spekulasinya yang berkaitan dengan Krystal.  Jika benar, pasti gadis ini dalam bahaya dan menjadi korban selanjutnya. Krystal menggeleng meski raut serius Jaehan mengusiknya. "Tidak. Tidak ada yang aneh atau seperti yang kau pikirkan itu," ucapnya ketus seraya keluar dari sana. "Lalu bagaimana yang di ruangan Zei?" pancing Jaehan sambil tersenyum miring. Krystal menarik napas panjang lalu mengembuskanya pelan. Dia lantas menghadap Jaehan dan menatap laki-laki itu tanpa keraguan. "Lain kali pilihlah ruangan yang tepat." Krystal mendengkus. "Kalian terlihat sangat aneh," lanjutnya dan melangkah pergi meninggalkan Jaehan yang langsung menormalkan ekspresinya, datar. "Aku harus bergegas."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN