Sudah lebih dari tiga puluh menit, wanita yang sering disapa Kinan hanya diam menunduk, dihadapannya seorang lelaki keturunan Belanda sama-sama diam. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka sendiri, tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka diri. Sesekali Kinan melirik pada arena bermain anak yang disediakan ditempat tersebut, saat melihat anak jagoan itu baik-baik saja, Kinan tersenyum tipis dan kembali sibuk mengamati jus jeruk dihadapannya.
"Nan.."
Kinan mendongak mendapati tatapan teduh dari Mario, pria yang sudah 2 tahun ini ada disampingnya, lebih tepatnya memaksa disampingnya.
"Bagaimana?" Lanjut Mario.
Kinan mendesah dan mencondongkan tubuhnya, ia menggenggam tangan Mario yang ada diatas meja.
"Sepertinya aku belum bisa Mar."
Mario terkekeh pelan, ia melepaskan tangannya yang di genggam Kinan lalu berbalik menggenggam tangan mungil itu.
"Selama apapun nan, selama apapun aku bakal nunggu kamu."
"Maafin aku Mar, aku belum bisa balas perasaan kamu." Karena dia masih terpatri mantap dihatiku, entah sampai kapan.
"Mami...." Kinan menoleh pada anak lelaki berumur 4 tahun yang memanggilnya. Kinan mengambil anak itu kepangkuannya.
"Vano Capek?" Vano mengangguk dan mengucek matanya dengan tangan, Kinan mengusap kepala Vano penuh sayang.
"Kayaknya kamu harus segera kembali ke kantor, aku juga harus segera ke Bandara."
"Aku antar kamu---"
"Kamu mau terlambat masuk kantor? Masa bapay manajer telat? Malu dong sama jabatan."
Mario tersenyum lalu mengambil Vano, menggendongnya dengan hati-hati karena anak itu sudah mulai tertidur.
"Kalau gitu aku antar kalian sampai taksi."
Kinan mengangguk dan mengikuti langkah Mario, andai... Andai saja hatinya bisa berkompromi, ia akan menerima Mario dengan senang hati, namun nyatanya rasa cinta pada lelaki itu belum juga hilang sampai saat ini, walau sudah 5 tahun berselang, walau sudah 5 tahun tak berjumpa.
...
Suasana kota Jakarta siang ini sungguh padat, ditambah hujan yang mengguyur tiada hentinya, Kinan masih setia bertahan didalam taksi menuju Bandara, entahlah perasaan Kinan tak menentu, karena hari ini ia akan bertemu dengannya, bertemu dengan lelaki yang sudah ia tunggu selama ini, selama lima tahun, padahal lelaki itu meminta.
Satu bulir air mata buru-buru ia seka saat jatuh ke pipinya, Kinan mencoba tersenyum, walau hatinya sebenarnya menangis, menangis karena masih mencintai lelaki itu. Satu jam berselang, ia sampai di dibandara, dengan kaki mungil ia terus melangkah sambil menggendong Vano yang masih betah dengan tidurnya.
Kinan berdiri dipintu kedatangan, demi tuhan hatinya berdebar, ia sungguh tidak sabar, andai ia masih boleh mengucapkan rindu, sungguh ia ingin berteriak rindu pada orang itu, orang yang berhasil mencuri dan mematahkan hatinya, membawa hatinya pergi bersamanya.
Mata Kinan beredar, namun orang itu masih belum terlihat, sampai matanya terkunci pada sosok lelaki gagah dengan rambut cepak ala militer Indonesia.
Scorpio Andrew Kusuma, lelaki yang sudah mencuri hatinya, lelaki yang sudah memilih menetap di Paris dan meminta Kinan melupakannya,
Nyaris saja Kinan tidak menyadari sosok itu jika saja ia lupa akan tatapan mata yang nyatanya masih sama teduhnya dengan tatapan 5 tahun yang lalu.
Lelaki ini memang sepenuhnya berubah, terlihat lebih rapi dan lebih dewasa, berbeda dengan Pio yang ia kenal dulu, Pio yang terkesan berantakan namun keren.
"Anjing, Lo berubah gini!"
Kinan mengerjapkan saat lelaki itu tertawa karena telah dipeluk oleh ke tiga Sahabatnya, Bara, Damar dan Coki.
"Gila lo kesambet apa jadi kayak gini?"
"Nan.." Kinan menoleh pada Nasya yang sudah berdiri disampingnya sambil mengelus perut buncitnya.
"Pah.." Bara menoleh dan tersenyum pada Nasya, Nasya memberikan isyarat pada bara dan bara mengangguknya.
"Biar gue yang gendong Nan." Bara mengambil alih Vano dari gendongan Kinan, membuat Vano terjaga dari tidurnya yang panjang.
"Mami..." Rengek Vano dan ingin kembali digendong Kinan.
"Engga boleh, Mami tangannya udah sakit, kamu berat." Jawab Bara, disertai wajah cemberut dari Vano tapi kembali tertidur.
Demi tuhan Pio memandang Kinan dengan perasaan tidak karuan, ada perasaan sesak di dadanya pada saat ada anak kecil yang memanggilnya mami, jadi wanita ini sudah menikah. Padahal Pio sudah menyiapkan hatinya akan semua kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi, termasuk bila wanita dihadapannya ini ternyata sudah memiliki pendamping.
...
"Apa kabar?" Tanya Pio pada Kinan saat dirinya hanya tinggal berdua, mereka saat ini sedang berada di cafe dekat Bandara bersama Nasya dan Bara, sedangkan Ciko dan Damar sudah pergi karena memiliki kesibukan masing-masing.
"Baik, kamu?" Jawab Kinan dengan suara rendah, sebetulnya ia merasa canggung duduk kembali bersama dengan lelaki ini, padahal dulu lelaki ini adalah lelaki yang paling sering memeluknya, membuat Kinan sering mengigil kala mengingat saat-saat itu.
"Seperti yang kamu lihat."
"Kamu lebih dari baik pastinya." Jawab Kinan dengan senyumannya, membuat Pio semakin ingin memeluk wanita ini.
Pio memalingkan wajah demi mengusir pemikiran buruk, Pio sudah tahu bahwa ia salah mengira, anak yang digendong Kinan dan memanggil Kinan mami adalah anak Nasya dan Bara, tapi bukan berarti juga wanita ini masih sendiri kan?
Tiba-tiba ponsel Kinan bergetar, membuat kedua manusia itu menoleh pada ponsel yang disimpan dimeja, Pio meneguk ludah saat layar ponsel Kinan menampilkan foto seorang pria yang lumayan tampan.
"Ya Mar?"
"..."
"Astagfirullah.."
"..."
"Kamu tunggu aku, aku segera kesana."
Kinan menyesap teh manis hangat sampai kandas, sebelum ia memasukan ponselnya ke tas, "Pio maaf bisa kita lanjut ngobrolnya nanti?"
"Ada apa?"
"Ini.. Mario kecelakaan, aku harus segera ke Apartemennya."
Dan dunia Pio seakan berhenti saat itu juga, sekuat tenaga ia menahan perasaan yang ada dihatinya, bukankah semua kesalahannya karena meminta Kinan melepaskannya dan mencari penggantinya?
Pio mengangguk saja, walau bibirnya gatal ingin bertanya lebih lanjut atau hanya sekedar menawari diri untuk mengantarnya, kali ini dia cukup tau diri.
"Sampai ketemu lagi." Kinan bangkit dan berjalan menuju Nasya, mereka berpelukan sebentar lalu Kinan pergi begitu saja.
Pio masih saja memandangi punggung Kinan, punggung yang dulu terlihat rapuh namun sekarang terlihat kokoh dan kuat.
"Masih cinta dia, Lo b*****t?"
"Gila! Untung gue ga jantungan!"
"Paling Lo mati!"
"Sialan lo!"
"Lo masih cinta sama dia?"
Pio berdecak, "kepo Lo!"
"Oke gue anggap Lo masih cinta." Balas Bara ringan dan bersandar sambil menikmati kopi hitam yang ia pesan.
"Dia udah punya pasangan ya Bar?"
Bara malah terkekeh, ia menyimpan cangkir setelah dirasa cukup menyesap kopi, "siapa bilang?"
"Dia buru-buru ketemu Mario, bahkan dia rela ninggalin gue disini."
"Cih siapa Lo yang harus dia perioritaskan?"
"Bar.."
"Denger Io, Lo itu ga lebih dari cowok b******k yang udah ambil keputusan terbodoh, ngilang gitu aja dan Ngebung harapan dia, Lo gak tau gimana terpuruknya dia bahkan gue nikah aja Lo ga pernah tau karena Lo Mutus akses komunikasi kami semua sama Lo!"
"Gue punya alasan Bar, gue gak mau bikin dia nunggu, gue gak mau karena berkomunikasi dengan kalian gue makin ingin pulang ke Indonesia dan ninggalin Mama."
"Tapi Lo malah nyakitin semua kan?"
"Iya gue emang salah."
"Padahal Lo ga harus kayak gini, duit Lo banyak io, setahun sekali kesini Lo pasti mampu, bahkan rasanya Lo mau tiap hari bulak balik Paris Jakarta duit Lo gak bakalan abis."
"Tapi gue pengen ada yang jagain dia."
"Lo tau kan, Lo punya sahabat yang bisa Lo mintain pertolongannya."
"..."
"Akhirnya Lo kecolongan karena selama ini Mario yang jagain Kinan."
Pio membeku, ia memejamkan mata lama, lalu mengembuskan nafas kasar.
"Cowok itu udah sering lamar Kinan io."
Pio membelalakkan mata, "jadi bener Mario Mario itu pacar Kinan?"
Bara menggeleng, "setau gue mereka temenan"
Barulah Pio merasa sedikit tenang, setidaknya wanita itu benar-benar sendiri sekarang.
"Kalau Lo beneran mau balik sama Kinan, Lo harus gerak cepet karena cepat atau lambat kalau situasi kayak gini dibiarin terus gue yakin Kinan bakalan jatuh ke tangan Mario."
...
Mario meringis saat tangannya dibalut perban, ia benar-benar ceroboh sehingga bisa nyaris menabrak orang seperti ini bila ia tidak menghindar.
"Kamu tuh ngebut-ngebut hobinya." Omel Kinan sambil mengocek teh hangat pahit.
"Aku cuma takut telat ke Bandara."
"Untuk apa sih Mar?" Kinan memutar bola mata malas dan segera duduk disamping Mario.
"Aku cuma mau ada disisi kamu saat kamu bertemu sama dia."
Kinan menegang, ia merasakan sesak di dadanya kala mengingat Pio, lelaki yang ia tinggalkan saat mendengar kabar mengenai Mario.
"Kamu sudah bertemu dengannya kan?"
Gadis ini hanya mampu mengangguk sambil menyesap teh hangat yang ia buat, Mario menghembuskan nafas.
"Nan? Lalu bagaimana?"
"..."
"Kinanti please.. jawab aku, apa yang kamu rasakan?"
"Aku gak tau."
"Apakah harus aku menunggu kamu lebih lama lagi?"
"Aku ga pernah minta kamu nunggu Mar." Sama seperti dia yang ga ingin aku menunggunya.
Kinan tahu betul bagaimana sakitnya menunggu, Kinan tahu betul bagaimana lelahnya menunggu tapi ia tahu betul kalau pura-pura dicintai berkali-kali lipat lebih menyakitkan dibanding menunggu.
"Percaya sama aku, cinta bakalan tumbuh karena terbiasa, asal kamu mau buka hati kamu sedikit aja buat aku Nan."
Kinan memijit pelipisnya, seketika ia merasa pening.
"Oke jangan terlalu difikirkan, yang jelas aku masih selalu ada disini, selama apapun itu." Ucap Mario sambil mengusap puncak kepala Kinan sayang.
Maafin aku Mar, karena yang selalu ada akan kalah dengan yang selalu di hati.
...