Part 12: Rencana Busuk

1415 Kata
“Nadia kau—jangan bilang kau menyukaiku hanya karena insiden tadi?” “Jangan bermimpi. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada perempuan sepertimu.” “Saya juga tidak akan pernah jatuh cinta pada lelaki seperti anda. Jangan-jangan anda yang sudah tertarik pada saya Mr. James.” James mendelik. “Darimana asalnya rasa percaya diri itu?” “Saya cantik?” Nadia mendongakkan wajah. “Orang-orang bahkan mengatakan saya pantas menjadi model. Saya tidak akan heran jika anda jatuh cinta lebih dulu pada saya.” “Yakin? Bukan sebaliknya?” James maju satu langkah. “Mau bertaruh?” Mata Nadia mengerjap, segera mundur satu langkah. “Allah tidak menyukai hal seperti itu.” James terkekeh pelan. “Bilang saja takut. Aku tahu kok pesonaku memang tidak bisa ditolak.” “Aku tidak takut!” James hanya berlalu seraya mengedikkan bahu. Menyebalkan! James benar-benar terverifikasi sebagai orang paling menyebalkan dan menjengkelkan yang ada di bumi ini. Memang siapa juga yang mau jatuh cinta pada lelaki pengoleksi sifat buruk seperti James? Tidak akan. Ia juga masih waras. Tidak mungkin ia mau bertahan hidup dengan lelaki seperti James. Lagipula ia juga memiliki standar yang tidak ada dalam diri lelaki itu. Dia pikir dia lelaki terbaik di dunia ini? Nadia menghempaskan kapas di tangannya, masih kesal dengan perkataan James saat di kantor tadi. Tapi—tatapan mata tajam, iris mata sekelam malam, alis tebal, hidung runcing, bibir penuh dan rahang yang tegas. Lalu genggaman singkat tangan lebar itu... Nadia menggeleng cepat. Apa yang sedang kau pikirkan Nadia? Stop! Apa kamu sudah gila? Berhenti memikirkan lelaki bukan mahram! Apalagi lelaki seperti Mr. James yang narsis-nya tidak ada dua. Beberapa kali Nadia mengatur napas. Menetralkan kembali perasaannya yang mulai kacau. Oke. Nadia. Kamu bisa menghadapi Mr. James. Setidaknya sampai utangmu lunas. Ya... Nadia mengangguk kecil. Sampai utang lunas. Ulangnya dalam hati. Lamunan Nadia terintrupsi oleh ponselnya yang bergetar. Perhatiannya teralihkan, sebuah pesan ia dapatkan. Senyuman Nadia kini mengembang sempurna diiringi dengan semburat merah dikedua pipi. Jamal: Assalamu’alaikum, Nadia. Sudah pulang dari kantor? Nadia mengulum bibir, menahan senyumannya agar tidak semakin mengembang. Wa’alaikumsalam Mas. Alhamdulillah Mas sudah. Jamal: Alhamdulillah. Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apa Bos-mu jahat lagi padamu? Letupan kembang api dalam hatinya bagai sebuah pesta tahunan, rasa hangat pun perlahan menjalar memenuhi rongga d**a, membuat bunga dalam dadanya bermekaran, bersuka cita. Tidak menyangka ia akan mendapatkan perhatian seperti ini dari lelaki yang sangat ia kagumi. Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Tidak Mas, Mr. James hari ini cukup baik meskipun cukup menyebalkan. Seperti biasa. Jamal: Jadi baik atau menyebalkan? Ya begitulah. Jamal: Jangan ragu katakan padaku jika dia menjahatimu lagi ya, Mas tidak suka jika ada lelaki yang tega menganiaya perempuan. Baik Mas, terima kasih. Jamal: Bagus, kalau begitu bergegaslah istirahat. Mas juga ya Hm oh ya Mas Jamal: Kenapa Nadia? Terima kasih sudah memperhatikanku ya Mas Maksudnya terima kasih atas perhatiannya. Aduh maaf mas. Intinya terima kasih. Jamal: haha lucu sekali kamu Nadia. Sudah sana cepat istirahat. Besok bekerja lagikan? Iya Mas. Kalau begitu sampai nanti. Jamal: iya. Nadia menggenggam erat ponselnya seraya menggigit bibir bagian dalam, menahan pekikan bahagia. Sungguh! Ia tidak pernah merasa sebahagia ini. Jamal pun tidak biasanya memberi perhatian seperti ini. Ini benar-benar membuatnya gugup. Tapi tidak apa-apa, ia senang, ia bahagia akhirnya bisa bertukar kabar dengan lelaki impiannya seperti ini. Jamal benar-benar berbeda, lelaki itu begitu baik, tatapannya teduh, sikapnya begitu lembut, nada bicaranya juga sangat baik. Tidak seperti seseorang yang selalu saja memarahinya, melemparnya dengan kata-k********r dan suara tinggi. Sudah jelas, ia tidak mungkin jatuh cinta pada lelaki pengoleksi sifat buruk itu. Sangat tidak mungkin. Saat Nadia hendak beranjak ke kamar mandi ponselnya kembali berdering, pertanda sebuah panggilan masuk. Miss Qiqi Mr. Huang’s Secretary is Calling... “Hallo selamat malam Miss Qiqi.” Sapa Nadia dalam bahasa Mandarin. “Selamat malam Miss Nadia, saya ingin memberi kabar kalau penanda tanganan kontrak dengan Mr. Huang diundur sementara waktu karena Mrs. Huang kecelakaan. Kami meminta maaf karena mengabari hal ini secara mendadak karena secara kebetulan kecelakaan terjadi saat Mr. Huang akan berangkat siang tadi.” “Saya turut prihatin Miss, baik akan saya up segera pada Mr. James. Terima kasih atas informasinya Miss Qiqi.” “Baik, kalau begitu saya akhiri. Terima kasih Miss Nadia.” Pundak Nadia turun, suka citanya berkabar dengan Jamal seketika hilang, digantikan dengan rasa malas dan kesal. Kenapa sih ia baru dapat kabar ini sekarang? Sungguh, ia sedang sangat malas menghubungi James. Ia malas mendengar suaranya! Haruskah ia hubungi James sekarang juga? *** Sampai di apartemen pribadi James menghabiskan waktu melihat pemandangan malam kota. Melihat bagaimana hiruk pikuk kota yang terlihat begitu sibuk. Tangannya memegang botol tanpa penutup, sesekali meneguk dan detik berikutnya hanya di genggam. Isi kepala James berkecamuk. Pikirannya benar-benar terganggu dengan wajah cantik Nadia, terutama bagian matanya. Tidak hanya itu. Tingkah Nadia yang mendadak aneh setelah insiden itu pun terasa mengganggunya. Apakah benar Nadia bertingkah aneh karena insiden itu? Atau Nadia mendengarkan percakapannya dengan Dokter Indra? Namun meskipun kedua jawabannya benar, tingkahnya benar-benar tidak masuk akal. Kenapa Nadia harus banyak melamun karena insiden itu? Terbawa perasaan hanya karena bertatapan dan bergenggaman tangan? Karena kasihan padanya? Kilas balik insiden tabrakan itu kembali dalam benaknya. Insiden dimana hidungnya bergenturan dengan kepala perempuan itu. Deg! Apa yang baru saja ia ingat tadi? Apa tidak salah? Ia mencium kening Nadia? Kepala James menggeleng cepat, lalu menghembuskan napas kasar. Menyangkal bayangannya sendiri. Tapi... bagaimana jika Nadia justru mendengar percakapannya dengan Indra? Tidak jangan sampai. Apalagi Nadia dekat dengan ayahnya. Bisa-bisa perempuan itu melaporkan semua hal yang selama ini ia tutupi. Tidak. Jangan sampai dia tahu tentang itu. Aku harus memastikannya besok. “Saya tidak menduga harus menemani anda lagi saat di Indonesia Mr. James.” James mengerjap menyadari Mario telah sampai. Ia menghela napas kemudian duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. “Kalau tidak mau pulang saja sana.” Mario mendesis kecil. “Bisa-bisanya Anda mengusir saya begitu saya sampai di sini.” “Lama-lama bergaul dengan Nadia kau ketularan menyebalkannya Mario.” Bahu Mario mengedik pelan. “Mungkin kami jodoh?” “Sepertinya memang begitu. Sama menyebalkannya, tukang mengomel.” “Ucap dia yang memiliki kesabaran setipis tisu.” Balas Mario. James mendelik. “Yang terpenting aku sukses, dan aku yang menggajimu.” “Oke, baiklah... untuk hal itu aku kalah.” James duduk menghadap Mario. Baru saja ia ingin mengungkapkan keresahannya pada Mario. Ponselnya berdering. Nadia memanggilnya. “Assalamu’alaikum Mr. James.” “Hm.” “Menjawab salam itu wajib Mr. James.” “Jika kau menghubungiku hanya untuk mengomel sebaiknya tutup.” Nadia mendesis pelan. “Sumbu pendek sekali. Saya cuma mengingatkan.” “Ada apa?” tanya James, malas berbasa-basi lagi. Ingat... kekesalannya pada Nadia masih bersarang dalam hatinya. Ia masih berniat membalaskan dendamnya ini. “Mr. Huang tidak dapat hadir untuk menandatangani kontrak, karena istrinya mengalami kecelakaan Mr. James. Pihak Mr. Huang mengatakan pertemuan akan diundur sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.” James terdiam. Seringaian tiba-tiba muncul di wajahnya. “Kalau begitu aturkan pertemuan kami lagi. Aku yang akan terbang ke China.” “Baik Mr. James. Kalau begitu akan saya aturkan segera.” “Hm.” “Kalau begitu saya akhiri Mr. James. Selamat malam. Selamat istirahat.” “Kamu juga. Jangan lupa mimpikan aku.” “Maaf?” James mengakhiri panggilannya sepihak kemudian terkekeh kecil. Saat ini Nadia pasti sedang sangat kesal setelah mendengar ucapannya. Rasakan! Tidak bisa tidur, tidak bisa tidurlah. Nadia perempuan kurang ajar itu. Ia masih ingat betul bagaimana tatapan orang-orang yang memandangnya seperti penjahat kelamin hanya karena tingkah perempuan itu. Ia juga ingat betul bagaimana orang-orang mencemoohnya dan berbisik-bisik tajam di depannya. Padahal ia ingat betul, ia hanya tanpa sengaja menyentuh Nadia, ia hanya berniat membantu. Tapi apa yang ia dapatkan? Akibat reaksinya yang berlebihan ia jadi tercela. Lihat saja Nadia, ini baru permulaan. Aku pastikan akan benar-benar membuatmu tidak bisa tidur semalaman. Senyuman puas tersungging di bibir James setelah mendapatkan banyak ide untuk menyingkirkan perempuan itu. “Mario.” “Ya, Mr. James.” “Booking-kan aku penthouse terbaik di China.” “Baik Mr. James. Karena anda akan berangkat dengan Miss Nadia jadi aku akan memesan penthouse dengan du—.” “Satu kamar.” “Mr. James?” James mendelik menatap Mario. “Ikuti saja permintaanku.” “Tapi Mr. James.” “Tidak ada tapi Mario.” Mario menghembuskan napas. “Baik Mr. James.” James kembali tersenyum penuh kemenangan membayangkan balas dendamnya akan segera terbalaskan. Kita lihat Nadia. Setelah ini apakah kamu masih akan tetap bertahan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN