Part 1: Hari Pertama

1505 Kata
“Hallo Nad, bagaimana kantor barunya?” Senyuman cantik Nadia tersungging tipis begitu mendapatkan pertanyaan dari ujung panggilan itu. Perempuan cantik dengan lesung pipit itu keluar dari kendaraannya, ia berjalan ke arah lobi dengan langkah yang begitu anggun, setelahnya ia memindai area lobi sesaat sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya menuju lift yang berada di salah satu sudut tempat itu. “Seperti yang anda katakan Pak, lebih dekat dari rumahku dan tempatnya lebih nyaman. Di sini juga terasa lebih modern daripada kantor yang lain.” Di ujung panggilan kekehan kecil terdengar. Dia adalah Jatmiko Mahadana Rajaswa, pemilik sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi di The Royal’s Group yang dulu merupakan boss-nya secara langsung. Tapi tertanggal hari ini ia di alih tugaskan untuk menjadi sekretaris utama di anak perusahaan yang akan dipimpin langsung oleh sulung dari keluarga Rajaswa, James Palevi Rajaswa. “Bagus kalau kamu suka. Tapi kamu harus ingat, meskipun di sana nyaman banyak sekali yang harus dibenahi, dan akan menjadi tugas yang cukup berat untukmu, terutama urusan kedisiplinan karyawan. Aku akan sangat mengandalkanmu untuk hal itu Nadia.” “Saya akan berusaha sekuat tenaga mendisiplinkan mereka Pak, tapi tentu saja saya tidak akan bisa melakukannya secara instan, saya akan mencaritahu penyebabnya terlebih dahulu kemudian menyelesaikannya tanpa ada yang dirugikan.” “Good, segera buat laporan agar bisa segera diatasi.” “Baik Pak.” Nadia melirik jam di pergelangan tangannya. Memperkirakan pengiriman laporan. “Saya akan segera mengirimkan laporan tersebut secepatnya Pak.” “Oh ya Pak. Terkait kedatangan Pak James, apakah pihak kantor harus melakukan penyambutan yang mewah? Seperti pesta penyambutan atau hal lainnya?” “Tidak perlu Nadia, cukup sambut secara sederhana saja. Jangan sampai ada pesta. Dia keenakan nanti.” Ujar Jatmiko. “Satu lagi Nadia. Jangan biarkan satu orang pun memanggilnya Pak, anak itu tidak suka di panggil seperti itu. Kamu juga harus banyak bersabar. Emosi James setipis kertas, jangan sampai ada yang membuat masalah dengannya. Dia tidak segan memecat siapapun yang menurutnya pengganggu.” “Baik Pak akan saya ingat dan akan segera saya sampaikan pada seluruh karyawan.” “Katakan padaku apapun yang kamu butuhkan Nadia. Aku akan mempertimbangkannya dengan baik jika memang itu untuk kebaikan perusahaan.” “Baik Pak. Terima kasih.” “Kalau begitu sudah dulu, good luck Nadia.” “Terima kasih banyak Pak.” Perempuan pemilik tubuh semampai dan kaki jenjang bak seorang model itu menghela napas panjang begitu panggilan berakhir. Mata tajam itu fokus menatap pantulan dirinya sendiri di dinding lift, dengan isi kepala yang terus berputar memikirkan cara tercepat untuk awal penyelesaian dari masalah di kantor ini. Apalagi jika mengingat tempramen pemimpin baru di perusahaan ini dari cerita yang ia dengar, rasanya akan sangat buruk jika masalah mendasar itu belum teratasi sebelum kedatangannya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nadia untuk sampai di lantai teratas gedung tempat dimana ruang kerjanya berada. Sayangnya, begitu sampai hanya ada dua dari sepuluh staff di ruangan ini yang sudah datang. Seharusnya ia tidak heran lagi, tapi tetap saja ia merasa terkejut. Belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, sebab di kantor pusat biasanya justru hanya ada satu atau dua orang yang belum datang. “Selamat pagi Bu Nadia. Selamat datang. Perkenalkan saya Rani.” Ucap perempuan berambut pendek sebahu. “Saya Anita.” Ucap perempuan dengan rambut bergelombang sampai di bawah bahu. Nadia tersenyum, lalu menjabat satu persatu di antara keduanya. “Saya Nadia. Semoga mulai sekarang kita dapat bekerja sama dengan baik.” ujarnya diiringi dengan senyuman yang semakin mempertontonkan kecantikan wajahnya. “Sudah biasa seperti ini ya?” “Maaf?” tanya Anita. Nadia tersenyum lagi. “Banyak yang terlambat padahal seharusnya di menit-menit akhir menuju jam kerja dimulai semua karyawan sudah ada di kantor.” Ucap Nadia mulai membuka percakapan dengan kedua perempuan itu, mulai melakukan investigasi dan mencari sumber masalah. Tidak banyak yang Nadia dapatkan dari percakapan itu, keduanya mengatakan beberapa hal yang hampir sama persis dan sebenarnya hanya alasan klasik yang hanya bisa di tangani karena kesadaran sendiri. Seperti alasan terkena macet, tertinggal kendaraan umum atau kendaraan yang mendadak mogok. “Ada juga karyawan yang terlambat karena harus mengantarkan anaknya terlebih dahulu ke daycare Bu. Sisanya memang hanya alasan tidak mendasar seperti bangun kesiangan, namun itu pun jarang ditemukan.” Nadia mengangguk kecil, mulai mendapatkan poin penting dari perbincangan mereka. “Terima kasih untuk informasinya Bu Rani dan Bu Anita. Kalau begitu saya permisi dulu ya? Ada beberapa orang yang sekarang harus saya temui.” “Baik Bu. Jika membutuhkan bantuan, jangan sungkan menghubungi kami.” “Terima kasih.” Nadia kemudian beranjak meninggalkan ruangan tersebut. “Aku pikir Bu Nadia itu galak, ternyata tidak ya? Selain cantik dia juga sangat ramah, tidak sombong juga seperti sekretaris bos yang dulu.” “Benar Bu. Aku juga baru pertama kali melihat perempuan berhijab bisa secantik itu, Bu Nadia seharusnya menjadi model saja.” “Kamu benar! Semuanya terlihat sangat menjanjikan untuk Bu Nadia menjadi seorang model ya? Tubuh tinggi, wajah cantik, putih bersih. Ugh! Kalau aku akan memilih jadi model daripada kerja di kantor begini. Aku sangat iri.” Anita mengangguk kecil. “Tidak heran jika nanti akan banyak yang menyukai Bu Nadia.” “Termasuk bos baru kita?” “Hm, maybe?” ujar kedua orang itu kemudian terkekeh kecil. “Kita lihat saja nanti.” *** “Mulai besok tidak boleh ada satu pun karyawan yang terlambat. Saya rasa kalian sudah sangat dewasa untuk memikirkan cara datang ke kantor lebih cepat tanpa harus saya jelaskan secara rinci bukan? Saya rasa kalian juga sudah paham dengan seluruh pekerjaan yang harus kalian kerjakan. Maka dari itu selanjutnya kerjakan pekerjaan kalian masing-masing sesuai dengan job desctiption. Jangan sampai saat Mr. James bertanya tentang perusahaan seperti yang saya lakukan tadi kalian tidak bisa menjawab secara mendetail. Ingat kalian harus bertanggung jawab atas pekerjaan kalian masing-masing.” “Baik Bu Nadia.” Hari pertama bekerja yang cukup melelahkan bagi Nadia. Entah dirinya yang terlalu perfectionist atau memang karena terlalu banyak masalah di kantor ini. Tapi hari ini benar-benar terasa menguras tenaga dan emosinya. Ternyata masalah di kantor ini tidak hanya perkara kedisiplinan, tapi juga senioritas yang begitu kental, terutama di divisi-divisi yang jarang sekali bisa dijangkau untuk diawasi secara langsung oleh seseorang di posisinya. Beruntung hari ini diam-diam ia melakukan sidak, sehingga dengan mudah ia bisa mengetahui akar-akar kecil permasalahan di kantor ini. Teguran secara langsung sudah ia lakukan, peringatan secara tertulis sudah terkirim, laporan untuk perusahaan pusat pun sudah ia buat, disertai rekomendasi untuk penyelesaian masalah pun sudah ia pikirkan matang-matang. Sekarang ia hanya berharap mereka mau mendengarkannya dan kemudian tidak membuat masalah yang lebih besar lagi. Terutama nanti, saat pemimpin baru perusahaan ini datang. “Baru jadi sekretaris saja belagu, sombong sekali. Dia pikir dia siapa? Dia juga sama-sama hanya pegawai. Kita selalu bekerja seperti ini dan tidak terjadi apapun. Kenapa sejak dia datang jadi ribet sekali?” “Benar. Sok sekali seolah perusahaan ini miliknya. Mentang-mentang pernah bekerja di kantor pusat. Cih.” Nadia hanya bisa menghela napas saat samar-samar mendengar perkataan itu dari kerumunan pegawai perempuan. Memang, banyak yang mulai menggunjingnya, banyak yang mulai membicarakannya, mencibir dan sebagainya. Tapi apakah ia peduli? Tidak. Sebab nanti masalah yang lebih berat akan terjadi jika saja mereka masih bermasalah. Sekarang ia melakukan ini semua hanya ingin sesegera mungkin meminimalisir permasalahan yang akan mereka hadapi di kemudian hari, karena ia pun tidak tahu permasalahan seperti apa yang akan mereka hadapi ketika bos baru mereka sudah berada di kantor ini. Bisa dikatakan selain demi perusahaan, ia juga melakukan ini hanya karena peduli pada mereka. Sayangnya hal buruk yang Nadia takutkan justru benar-benar terjadi. Seorang karyawan datang terlambat, dia datang tepat di saat bos baru mereka sudah tiba di lobi kantor, di tengah upacara penyambutan dari seluruh karyawan. Langkah Nadia pun terhenti ketika melihat pemandangan tersebut, napasnya seketika tertahan, suaranya pun tercekat ditenggorokan, terlebih saat lelaki itu menghunuskan tatapan tajam pada karyawan tersebut. Tubuhnya mendadak kaku, ketakutan dalam dadanya pun semakin membesar saat ia melihat dengan jelas rahang lelaki itu mengatup tajam. Ia takut terjadi sesuatu dengan karyawan itu! “Ingin kupecat?” Pekikan kecil terdengar dari beberapa karyawan. Nadia pun mengedarkan pandangan sesaat sebelum menatap ke arah lelaki itu lagi. Benar yang semua orang katakan tentang lelaki itu. James Palevi Rajaswa, sulung dari keluarga Rajaswa itu benar-benar berbeda dengan keluarga Rajaswa lain yang terkenal dengan kerendahan hati dan kebaikan mereka. Lelaki dihadapannya ini sangat pongah dan congkak. Sangat kejam, sadis, tanpa ampun dan tanpa belas kasih. “Jawab pertanyaanku! Ingin kupecat?!” “T—tidak Pak.” Jawab karyawan itu dengan gugup. “Siapa yang kau bilang Pak?!” “M—maaf Mr. James.” James mendengus. Lelaki itu menyeringai kecil. Hawa dingin pun seketika menyelimuti lobi perusahaan itu. Semua orang membeku, meneguk ludah kasar, gugup sekaligus ketakutan saat merasakan intimidasi yang tidak main-main dari bos baru mereka ini. Semua orang berkeringat dingin dengan benak yang diselimuti pertanyaan penuh ketakutan. Termasuk Nadia, yang masih berdiri mematung ditempat, terkejut. Ia tidak menduga, James sungguh kejam, bahkan lebih kejam dari dugaannya. Apakah ia akan sanggup menghadapi bos seperti James?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN