Melihat Fugaku berjalan masuk, Nurul yang tadinya masih menangis seketika berhenti menangis, menatapnya dengan tatapan bersinar. Dan bu guru Wenny, dan tiga orang Keluarga Negoro, Shandy, juga menatap Fugaku dengan takjub. "Ayah!" Nurul tersenyum, berteriak dengan semangat, memeluk Fugaku, ia tidak mau melepaskannya. Fugaku tersenyum menatap Nurul, membantunya menyeka air mata, kemudian menggendongnya, berkata dengan lembut, "Nurul jangan menangis, ayah datang menjemputmu." "Sudah lihat? Dia adalah ayahku!" Setelah Fugaku datang, Nurul sudah berhenti menangis, berkata dengan keras pada semua orang di kantor. Bu guru Wenny, Shandy, beserta orang tuanya, membesarkan matanya, menatap Fugaku seperti sedang melihat hantu. "Ayah? Sejak kapan ia memiliki ayah? Bukankah dia tidak memiliki aya

