BAB 8

3578 Kata
CHRISEON Wanita di sampingku ini terlihat sangat tegang, bahkan jelas sekali dia juga sangat ketakutan. Aku sengaja menyuruhnya untuk melingkarkan tangannya ke lenganku, agar dia tahu bahwa aku ada di sampingnya. Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu merasa ketakutan seperti itu, karena masih ada aku. Tapi tentu saja aku tidak akan mengatakan hal seperti secara langsung. “Sen, kenapa kita harus meeting dengan dandanan seperti ini?” bisiknya padaku tepat saat seorang pelayan membukakan pintu untuk kami. Seketika aku berdecak pelan melihat pemandangan di hadapanku. Aku sudah sering, bahkan mungkin dulu setiap minggunya Dad dan Mom akan mengajakku untuk pergi ke sebuah restaurant mewah di kawasan London, entah itu makan malam keluarga ataupun pertemuan bisnis mereka. Tapi, restaurant ini adalah salah satu restaurant favoritku. Lihat saja ornamen khas Yunani yang terbuat dari batu-batu pualam putih itu. Aku bahkan yakin, karya seni itu benar-benar didesain khusus dan tentu saja tidak murah. “Karena kita diajak makan malam di restaurant mewah seperti ini. Mana mungkin aku ataupun kamu mengenakan pakaian kerja. Memalukan sekali,” balasku dengan sama berbisiknya kepadanya. Mr. Maxwell, pria dengan berjuta kejutan yang bahkan aku sendiri benar-benar kaget dibuatnya. FAL pernah sempat beberapa kali bekerja sama dengan Singapore Bank ataupun C2M Orchard dan kali ini Mr Maxwell mau bekerja sama lagi dengan FAL. Cukup mengejutkan juga dengan email yang beliau kirimkan padaku tadi pagi. Aku membaca emailnya, beliau mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku dan juga sekretarisku. Mengadakan meeting di Singapura pula, untung saja aku bisa membatalkan seluruh meeting hari ini. Lalu, yang paling mengejutkan adalah beliau memintaku untuk tidak mengatakan pada sekretarisku di mana rapat akan diadakan sebelum kami sudah berada di dalam pesawat. Anehnya, Mr Maxwell benar, aku sengaja menuruti beliau dan baru mengatakan ke mana kita pergi saat setelah kami berada tepat di bawah jet pribadiku. Benar saja Rysta langsung menolak untuk pergi, untung saja dia tidak bisa kabur. Setelah kami sampai, beliau mengirimkan email lagi kepadaku untuk mengajak bertemu di Restaurant mewah miliknya dan dia juga menyuruhku untuk berbelanja di salah satu Mall miliknya. Intinya dia seolah-olah begitu mengenal sekretarisku, Rysta, padahal Rysta sendiri baru bekerja padaku dan proyek antara FAL dengan salah satu perusahaan Mr. Maxwell telah selesai berjalan beberapa bulan yang lalu sebelum aku menggantikan Mr. Rafe. “Kita mau ke mana, Sen?” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku tentang Mr. Maxwell. Aku ingat tadi beliau memintaku untuk menuju ke lantai dua, katanya tempat khusus yang selalu Mr. Maxwell gunakan saat berada di restaurant ini. Restaurant dengan pemandangan laut. Ketika menemukan sebuah pintu di hadapanku, segera saja aku membukanya perlahan. Sedikit terkejut dengan perbedaan yang mencolok di dalam ruangan ini. Jika seluruh ruangan di restaurant tadi terkesan elegant berwarna putih gading dan merah, tetapi ketika memasuki ruangan ini terkesan maskulin dengan d******i warna hitam. Begitu kontras dengan desain di luar tadi. Seorang pria tengah duduk di kepala meja makan. Wajahnya menunduk menatap iPad miliknya. Entah apa yang sedang beliau lakukan saat ini, karena aku sama sekali tidak bisa membaca pikiran seseorang seperti Rysta. Bahkan, beliau sepertinya tidak menyadari keberadaan kami. Dengan terus menggenggam erat tangan Rysta, kami berjalan mendekati beliau. Rysta semakin terlihat gugup. Mr. Maxwell menengadah setelah beberapa langkah kami berjalan. Dia menatap kami sekilas, lalu kembali menatap iPadnya. Dia bergumam pelan dengan bahasa Mandarin kepada lawan bicaranya. Pria itu segera mematikan iPadnya, lalu meletakkannya di meja. Beliau berdiri, Aku cukup kaget ketika dia langsung tersenyum kepada Rysta bukan kepadaku yang notabennya adalah calon partner bisnisnya. Mr. Maxwell lalu menatapku. “Mr Maxwell,” sapaku padanya sembari mengulurkan tanganku. “Chriseon Kendrick,” balasnya sembari tersenyum kepadaku dan membalas jabat tanganku. Pria itu terdiam cukup lama sembari memperhatikanku dari atas hingga ke bawah. Sepertinya dia tengah menilaiku mungkin dan hal itu sedikit menjengahkan. Pasalnya, sejak kecil aku selalu diperlakukan bak seorang pangeran oleh semua orang, mengingat nama Kendrick yang kusandang dan bagaimana pengaruh Dad dan Mom di Inggris. Tapi, sekarang ketika aku berusaha untuk lepas dari mereka dan menemukan seseorang menilaiku, rasanya cukup tidak nyaman. Tiba-tiba pria tersenyum penuh arti kepadaku. Lalu, menoleh kembali kepada Rysta. Pria itu tersenyum sangat lebar kepada wanita di sebelahku. Dengan penuh percaya diri, Pria setengah baya itu mengulurkan tangannya dan dibalasnya uluran tangan tersebut oleh Rysta. Wanita ini sedikit bergetar, aku merasakannya. “Rysta,” gumamnya pelan. Seketika aku mendengar Mr Maxwell bergumam pelan kepada Rysta menggunakan bahasa Mandarin. Lagi-lagi aku tidak tahu apa yang beliau ucapkan. Tapi setelah ucapan singkat Mr Maxwell kepada wanita di sampingku, aku merasakan ikatan tangannya yang berada di lenganku sudah dia lepas. “May I wash my hand?” tanyanya, namun tanpa menunggu jawaban, Rysta sudah berlari menuju ke sebuah pintu yang berada di sudut ruangan. Bagaimana wanita itu bisa mengetahui bahwa di sana adalah toilet, padahal tidak ada tulisan toilet di sana. Seketika aku teringat dengan kemampuan rahasiannya itu, ya pastinya karena kemampuannya itu, dia jadi tahu di mana letak toilet ruangan ini berada. “Silahkan duduk, Mr. Kendrick,” ajak Mr. Maxwell padaku. Pria itu sudah kembali berbicara dengan bahasa Inggris. Pria itu segera kembali ke tempat duduknya dengan Aku yang mengekori. Aku mengambil posisi di sisi kiri. Aku memperhatikan ruangan ini sekilas, ruangannya yang bisa dibilang adalah sebuah ruang perjamuan makan malam keluarga besar atau mungkin perjamuan dengan para mitra bisnisnya. Benar-benar tempat makan yang luas. Setelah kepergian Rysta ke kamar mandi. Aku serta Mr Maxwell memulai rapat tanpa wanita itu. Pembicaraan kami benar-benar menyenangkan, beliau benar-benar mengingatkanku dengan Dad. Hingga aku tidak sadar bahwa sudah hampir setengah jam wanita itu menghilang di balik pintu itu. Membuatku tiba-tiba sangat khawatir terhadapnya, bahkan jika dia tidak keluar tepat setengah jam kepergiannya, aku berniat untuk masuk ke kamar mandi dan melihat keadaannya. Tiba-tiba wanita itu keluar. Rysta terlihat habis menangis hebat. Kedua matanya merah dan juga sembab. Tuhan, apa yang wanita itu tangiskan di dalam sana? Aku segera bangkit di tengah perbincangan bisnisku dengan Mr Maxwell tanpa memedulikan apakah itu sopan atau tidak kepadanya. Di otakku hanyalah meraih tubuh Rysta dan memeluknya erat. “Rys,” bisikku sembari meraih wajahnya dengan kedua tanganku. “Sen,” balasnya lemah tapi dia tetap tersenyum kepadaku. “Are you okay?” Rysta mengangguk pelan. “Kenapa menangis?” “Aku baik-baik saja. Lebih baik lanjutkan rapatmu dan kumohon setelahnya kita bisa pergi dari sini.” Aku mengangguk patuh, lalu menggiringnya untuk duduk di sisi kanan Mr Maxwell. Setelah yakin dia sudah duduk dengan baik di kursinya, aku duduk kembali di tempatku semula. Mr Maxwell menatapku sembari tersenyum. Kedua tangannya dilipat di atas d**a dan badannya dia senderkan di kepala kursi. “Maaf sir, saya tidak bermaksud tidak sopan tadi,” ucapku kepadanya. Mr Maxwell mengangguk mengerti. “Terkadang memang susah jika kekasihmu adalah asistenmu sendiri, son. Tapi saya mengerti sekali dan tidak mempermasalahkannya.” “Terima kasih, sir.” Aku menatap Rysta kembali. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya. Dia benar-benar terlihat sangat sedih. Ada apa dengan wanita ini? Jangan katakan karena dia merindukan mantan kekasihnya atau mungkin dia merasakan betapa dia menyesal melepaskan kekasihnya itu. Jika memang itu alasanya, aku bersumpah akan membuat wanita ini bersyukur dengan keputusannya bersamaku. Tapi, jika ada alasan lain terhadap air matanya, aku benar-benar ingin tahu. ***** Malam indah di sekitaran pantai Silosis Singapura dengan langit malam dipenuhi dengan jutaan bintang, sangat jarang sekali aku temukan dikeramaian Jakarta. Tempat ini terasanya tenang dan nyaman. Sangat pas juga karena mengetahui siapa yang menemaniku. Wanita ini tiba-tiba saja memintaku untuk menemaninya berjalan di pantai sekitaran restauran setelah kami selesai rapat. Lalu, aku mengangguk setuju. Kami terus berjalan bersisian. Tanpa sepatah kata yang kami keluarkan dan hanya ditemani oleh suara deburan ombak. Moment yang rasanya pas, tidak kurang dan lebih. Sejujurnya, aku masih tidak mengerti kenapa Rysta menangis tadi. Lalu, kenapa aku tiba-tiba refleks mendekatinya saat menyadarinya baru saja menangis. Seperti bukan Sen yang selama ini dikenal dingin. Wanita ini sudah mengubahku, aku merasakannya. Tapi anehnya aku menyukai perubahan ini. Rasanya benar bagiku. “Terima kasih,” bisiknya. “Untuk apa? Aku tidak melakukan apa pun kepadamu.” Tiba-tiba Rysta menghentikan langkahnya. Aku memutar tubuhku menghadapnya dan mendapatinya tengah tersenyum tipis. Tubuh Rysta langsing dan seksi dalam balutan gaun maroon tipis selutut tanpa lengan. Heels merah yang sejak tadi dia kenakan, telah dia jinjing. Dia pasti kedinginan, pikirku. Segera saja aku melepaskan jasku dan menyampirkannya ke pundaknya. “Pakailah,” ucapku. Dia hanya mengangguk dan mengenakan jasku. Dia bergumam pelan mengucapkan terima kasihnya sekali lagi. “Entahlah, aku hanya ingin mengatakan terima kasih kepadamu, itu saja.” Aku menghela napas. “Kenapa kamu menangis?” “Memangnya terlihat jelas bahwa aku baru saja menangis?” “Tentu saja. Kamu mudah sekali dibaca, Rys. Matamu yang memerah setelah keluar dari kamar mandi. Wajahmu yang selalu kamu tundukkan selama meeting berlangsung seolah-olah kamu sedang menyembunyikan kesakitanmu. Sebenarnya ada apa?” Rysta mengangahkan mulutnya, lalu mengantupkannya kembali. Dia seperti kehilangan kata-kata. Yeah, sepertinya aku bisa mengalahkan Rysta dalam hal membaca pikiran seseorang. Aku bisa begitu mudah membacanya tapi dia tidak. Aku bukan bisa membaca pikiran, melainkan karena aku merasa semua yang dia rasakan terbaca jelas di kedua mata cokelat terangnya. “Rys,” bisikku. “Aku baik-baik saja, tidak perlu mengkawatirkan apa pun.” Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, kata-kata yang malah dengan suksesnya membuatku lebih khawatir. Ck, sebenarnya ada apa sih denganku. Kenapa aku begitu khawatir dengan wanita ini padahal dia bukan siapa-siapa dan demi Tuhan, kami baru kenal. Berbaliklah Sen dan tinggalkan dia! “Sebenarnya apa masalahmu dengan Mr. Maxwell?” Tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Aku saja kaget mendengar ucapanku sendiri, tapi aku merasa memang ada yang salah sejak kami di sini, ditambah lagi dengan reaksi dia setelah aku mengatakan siapa calon investor baru FAL. Wanita itu terdiam selama mungkin lima menit sembari menatapku, lalu menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba saja teringat … Papa,” bisiknya pelan ketika mengucapkan kata Papa. Aku mengerjap pelan. Kenapa aku baru sadar bahwa gadis ini sendiri, sebatang kara padahal aku sudah mengenalnya beberapa minggu terakhir. “Di mana mereka?” tanyaku. Rysta berbalik sembari menatap lautan luas di hadapan kami. Hamparan laut tak berujung dan gelap di langit cerah penuh bintang. Aku menatap sisi wajahnya. Terlihat jelas dia semakin sedih ketika aku bertanya tentang kedua orang tuanya. “Somewhere,” balasnya pelan. “Kenapa kamu tidak pulang dan menemui mereka?” “Ingin, tapi tidak bisa. Aku pernah mengatakan bahwa aku ingin membuktikan sesuatu pada mereka sebelum aku kembali.” Aku memperhatikannya menyeka air matanya yang menetes. “Aku merindukan mereka,” isaknya. Tanpa sadar kedua kakiku bergerak mendekatinya, mengikis jarak. Kedua tanganku memeluk pinggulnya erat dari belakang. Kepalaku kuletakan tepat di atas kepalanya. Lalu, berbisik pelan. “Aku yakin mereka juga merindukanmu. That’s okay you’re not alone anymore. You have … me.” ***** Sekarang di sinilah aku berada. Disebuah ruang kerja di salah satu apartment uncle Dex yang tersisa. Meminum white wine ku seorang diri dan memikirkan apa saja yang terjadi sejak tadi siang hingga detik ini. Aku masih di Singapura dan memutuskan untuk kembali besok, mengingat semalam sudah pukul sebelas dan adik kembarku menyabotase penerbanganku. Lalu, ketika aku menghubungi salah satu sepupuku, Maura untuk meminjamkan apartementnya. Sayangnya, semua apartment milik uncle Dex, bahkan milik Maura sendiri sudah disewakan dan yang tersisa hanyalah apartment yang cukup kecil dengan dua buah kamar serta sebuah ruang kerja. Tapi ada hal lain yang membuatku gelisah hingga belum tidur, meskipun sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba terdengar pintu dibuka tepat di belakangku. Aku memutar kursiku dan mendapati Louis memasuki ruangan dengan wajah sedikit terkejut. “Apa?” tanyaku padanya. Dia hanya mengenakkan kaos abu-abu serta celana yang senada dengan kaosnya. Dia berjalan mendekatiku atau lebih tepatnya mendekati kursi di sebrangku. Menarik kursi pelan, lalu mendudukan pantatnya di atasnya. Dia yang tadinya menatapku kaget, sekarang berubah menjadi tatapan heran. Memangnya ada yang salah denganku saat ini. “Kamu aneh sekali,” ucapnya sembari menyenderkan tubuhnya di kepala kursi. Kedua tangannya disilangkan di depan d**a. “Bagian mana yang aneh?” Aku menghirup white wine di tanganku hingga tandas. “Kamu bukan tipe pria yang berada di dalam kantor dan meminum minuman berakohol. Kamu pria baik-baik.” Aku tergelak mendengarnya. Ya, memang aku jarang minum. Dia benar aku adalah salah satu pria dengan kontrol emosi yang baik dan sifat serta kelakukan yang baik pula. Tidak merokok, karena aku benci asap rokok. Tidak minum, karena aku benci jika aku mabuk, tapi kalau aku benar-benar dalam masalah aku baru minum. Minum pun selalu kulakukan di kamar yang kukunci, bukan di dalam kantor seperti ini. Tidak main perempuan, hal itu membuat semua orang mengira bahwa aku gay, tapi jelas bukan karena itu. Aku tidak bermain perempuan karena aku begitu menghormati mereka, karena Mom dan Sant adalah perempuan. Aku tidak ingin orang memperlakukan Mom dan Sant dengan tidak baik, jadi aku tidak mau jika memperlakukan perempuan seperti mainan. Tapi, selain hal menghormati, aku sedang menunggu seseorang dari masa laluku. Tanpa sadar aku meraih kalungku dan menggenggamnya kuat-kuat. Mulai mencoba menyusun bayangan gadis kecilku kembali. Gadis kecilku yang tengah berdiri di bawah sinar bulan malam itu dengan seulas senyumnya padaku yang menampakkan lesung pipinya. Seketika aku terhenyak ketika bayangan wajah gadisku itu berubah menjadi wajah Rysta. Astaga, aku benar-benar sedang konslet malam ini. “Sen,” panggil Louis yang berhasil mengembalikan kesadaranku. Aku mendengus kepadanya, lalu mengambil botol wine. Terlalu lama meminumnya menggunakan gelas, lebih baik menenggaknya langsung melalui botol. “Ini bahkan kadar alkoholnya tidak lebih dari satu persen dan kamu mengira aku sedang mabuk-mabukan.” “Chriseon Kendrick, kamu bahkan meminum langsung wine itu dari botolnya. Tetap saja itu beralkohol, Sen. Sebenarnya ada apa dengan dirimu?” “Sudahlah, kenapa kamu begitu menggangguku? Bagaimana rencana pernikahan kalian?” Aku segera mengalihkan topik ke pernikahan Louis dan adikku. Untung saja sifat Louis yang mudah teralihkan membuatku lega. Louis menerawang, kedua matanya jelas menyiratkan bahwa dia tengah berbahagia. “Berjalan lancar untuk saat ini dan semoga sampai nanti.” “Kamu sudah meminta izin orang tua kami?” Louis mengangguk mantap. “Mungkin kamu tidak akan percaya ini, tapi tiba-tiba saja Rysta mengirimkan email untukku. Dia menyuruhku untuk meminta restu kedua orang tua kalian sebelum keberangkatanku ke Indonesia, dan juga mengatakan tentang kehamilan Sant. Lalu, aku menurutinya dan kamu harus tahu bahwa saat meminta restu orang tua kalian, aku benar-benar tegang sampai berkeringat. Bahkan, menurutku berbicara di seluruh dewan direksi lebih mudah daripada berbicara kepada Mr. Kendrick saat itu.” Dia terkekeh saat mengingat-ingatnya. Aku mencondongkan badanku kepada Louis. Tertarik sekali dengan ceritanya, mengingat Dad begitu memanjakan Sant. “Lalu? Apakah Dad berusaha membunuhmu ketika mengetahui bahwa Sant telah kamu hamili?” Pria di hadapanku itu mengangguk pelan dengan menampakkan wajah ngerinya. “Beliau bahkan sudah hampir menghajarku, tapi untung saja Mrs Kendrick segera menahannya dan memarahi Dad mu. Sejujurnya Sen, aku menahan tawa ketika Mr Kendrick tidak bisa berkutik saat Mrs Kendrick memarahinya. Bahkan, Dadmu langsung menyetujui niatku untuk menikahi Sant. Mommu dengan bahagianya langsung memelukku. Mrs Kendrick benar-benar seorang bidadari tak bersayap.” “Tentu saja Momku bidadari, anaknya saja seperti ini. Dad memang terlalu mencintai Mom, bahkan cintanya sampai tidak berani membantah Mom.” “Sen, sepertinya aku akan berakhir sama seperti Dad mu. Aku sama sekali tidak bisa membantah Sant.” Kali ini giliran aku yang terbahak mendengarnya. Astaga, ada apa dengan pria-pria di seluruh dunia. Kenapa mereka akan terdiam ketika mereka tengah jatuh cinta, bahkan sampai bertekuk lutut seperti itu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu tentang mereka berdua. “Kamu belum meminta restuku,” ingatku. Dia mengernyit bingung. “Bukankah kamu yang berusaha untuk menyatukan kami kembali dan itu artinya kamu setuju dengan hubungan kami? Jadi, kenapa aku harus meminta persetujuanmu lagi?” “Tapi bukan berarti aku menyutujui pernikahan, bukan? Kalian baru berpacaran selama seminggu, lalu putus dan kembali lagi dan mengatakan bahwa kalian akan menikah?” Dia menggerutu kesal, lalu menyesap wine di tangannya. “Baiklah, baiklah.” Dia menghela napas pelan, lalu menatapku serius. “You know it, right? We were best friend since we were ten, you, me and Sant. What feeling that I had for Sant since we met. But, I’m too stupid to told her, then she was with another man and I’m with another woman. She’s the only woman that understand my life, my stupidity and everything that no one can do. I realize that she should be mine, because I can’t let her go. We sacrifice everyone for being together and now I want ask for your blessing to marry your sister. She’s the only one that I wanna life with till death do us apart.” Aku terkekeh pelan, lalu mengangguk. “You got my blessing, young man.” Kami berdua pun tertawa bersama, bahkan tidak menyadari bahwa Sant sudah berada di dalam ruangan bersama kami. Dia mengenakan jubah tidur merahnya yang aku tebak di dalam jubah tersebut dia hanya mengenakan lingerie atau mungkin tidak mengenakan apapun. Astaga, sejak kapan adikku jadi w*************a seperti itu. Dia memeluk leher Louis dengan sayang. “Ayo tidur,” ucapnya tepat di telinga Louis. “Baiklah, Angel. Sen, kamu harus benar-benar menikmati malam ini dengan kekasihmu. Astaga, aku menyukai wanita itu. Dia benar-benar baik dan kalian cocok bersama. Semoga kalian segera menyusul kami.” Pria itu segera bangkit dari duduknya. Lalu, dengan santainya melingkarkan tangannya di pinggul adikku. Mereka berdua berjalan dengan saling berbincang pelan, benar-benar seolah-olah dunia milik mereka sendiri. Inilah yang sejak tadi membuatku gusar. Bukan karena adikku yang tiba-tiba saja menjadi w*************a dan memilih untuk tidur dengan kekasihnya di dalam kamarnya. Bukankah tadi aku sudah mengatakan bahwa di apartment ini hanya ada dua kamar? Itu artinya, jika satu kamar sudah ditempati oleh Sant serta Louis, hanya akan tersisa satu kamar untukku dan juga Rysta. Jadi, aku harus tidur sekamar dengan wanita itu. Bisa saja sih aku memilih untuk tidur di sofa, tapi mengingat ada Sant dan pengakuanku kepada mereka tentang statusku dengan Rysta, aku tidak mungkin melakukannya. Sekali lagi aku berdecak pelan. Aku masih pria normal yang tidak mungkin berpikiran suci ketika harus tidur sekamar dengan seorang wanita. Ditambah lagi, wanita yang akan tidur seranjang denganku adalah wanita yang sejak tadi membuatku tidak pernah berhenti memikirkannya. Bisa-bisa aku akan memaksannya melayaniku di atas ranjang, karena aku tidak bisa memungkiri bahwa wanita itu begitu cantik bahkan menggoda di mataku. Sialan! ****** Baiklah Sen, kamu hanya perlu membuka pintu di hadapanmu. Lalu, langsung loncat ke tepat tidur dan tertidur di sampingnya. Besok pagi kamu akan bangun, lalu tidak akan terjadi apapun. Itu pun kalau dia sudah tertidur, kalau dia masih terjaga aku tidak tahu ekspresi apa yang akan aku tunjukan padanya. Aku menghela napas sejenak, lalu membuka pintu di hadapanku. Perlahan hingga tidak membuat suara gaduh sedikit pun. Selama perjalanan dari ruang kerja hingga ke kamar, aku benar-benar dilingkupi rasa panik. Bahkan, saking paniknya aku sampai berkeringat dan sudah menanggalkan kaosku, hingga berjalan dengan hanya mengenakkan celana panjang. Tadi ketika kami datang ke apartment ini, Sant dan Louis sudah berada di sini. Untungnya adikku tahu bahwa kami tidak membawa sehelai baju ganti, jadi dia membawakannya untuk kami. Benar-benar saudara yang sangat pengertian. Sudah menyabotase kepulanganku, ngidam ingin bermain di Universal Studio dengan kami, meminta untuk tidur sekamar dengan kekasih masing-masing. Sial, seharusnya aku tak pernah mengatakan bahwa Rysta adalah kekasihku agar aku tidak berada disituasi seperti ini. Pintu kututup tepat di belakangku. Kamar dengan luas lima kali lima ini begitu gelap, hanya sebuah lampu tidur yang menjadi penanda di mana tempat tidur berada. Aku meletakkan kaos di salah satu kepala sofa. Berjalan perlahan menuju tempat tidur, lalu membaringkan diriku tepat di sisi ranjang sisi kanan. Pejamkan matamu Sen dan bangunlah esok hari, lalu anggap saja kamu tidur sendirian saat ini. Baru saja aku memejamkan mata sekitar lima menit, lagi-lagi aku membukanya dan segera disergap kegelapan yang mendominasi. Aku menoleh ke samping dan mendapati bahwa aku benar-benar tidur sendirian, tidak ada seorang pun yang tengah tertidur di sampingku. Ke mana wanita itu? Dia tidak kabur kan? Segera aku beranjak dari tidurku dan berjalan perlahan menuju ke kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Apa dia berada di sana? Masalahnya, aku tidak mendengar ada suara kehidupan di dalam. Aku meraih pintu itu dan membukanya, tidak ada seorang pun tengah berada di dalamnya. Aku kembali berjalan menuju tempat tidur. Tiba-tiba aku merasakan angin berhembus kencang membelai tubuhku. Aku menoleh ke arah balkon berada dan mendapati pintu kaca terbuka. Dari tempatku berdiri saat ini, aku tidak bisa melihat balkon secara langsung. Perlahan aku mendekati pintu dan seketika aku membeku di tempat. Rasanya aku dejavu, melihat pemandangan yang hampir sama seperti belasan tahun yang lalu. Seorang wanita tengah berdiri di pinggir balkon dengan cahaya bulan lah satu-satunya peneragan yang ada. Dia mengenakkan gaun tidur putih selututnya. Mungkin, dia tengah terkagum dengan pemandangan hamparan laut di hadapannya sampai tidak menyadari bahwa aku berada di dekatnya. Tiba-tiba dia berbalik, lalu tersenyum kepadaku. Astaga, kenapa aku baru menyadarinya sekarang bahwa wanita ini ternyata memiliki lesung pipi dikedua pipinya. Mungkin, karena ketika dia tersenyum atau tertawa yang aku perhatikan bukanlah wajahnya melainkan kedua mata cokelat terangnya yang begitu dalam dan selalu membuatku hanyut di dalamnya. “Sen,” panggilnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku mempercepat langkahku dan segera membawanya ke dalam pelukanku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata seperti apa, tapi aku merasa seperti menemukan walau aku sendiri tidak yakin, benarkah wanita ini yang selama ini aku cari? Yang jelas sekarang aku tahu satu hal. I feel like home when I’m with her. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN