Mama

1178 Kata
Satya bersama dengan Chaca berjalan beriringan. Jika biasanya Satya akan berjalan di belakang atau depan Chaca. Kali ini, gadis itu memegang lengan Satya. Chaca ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Satya adalah miliknya saat ini. Meski melewati perdebatan terlebih dulu dengan sang suami. Satya akhirnya menyerah, setelah Chaca mengancam dengan nyawanya sendiri. Hanya untuk menggandeng tangan saja, harus mengancam dengan bunuh diri. Apalagi untuk melakukan yang lebih? Tapi, masih beruntung Satya mau tidur di sebelahnya. Jadi Chaca tidak akan mengancam Satya dengan hal yang lebih ekstrim lagi. Chaca membawa Satya bertemu dengan orang tuanya untuk pertama kali, setelah pernikahan. Ini keinginan pak Bram. Katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengan Satya. Penting. Sepenting apa, Chaca tidak tau pastinya. Pintu ruangan telah di buka, di sana ada beberapa orang yang sudah menunggu. Dua di antaranya Satya kenal, yaitu pak Bram dan Bu Ayunimas. Orang tua baru yang di miliki Satya. “Satya, sini duduk. Jangan kaget, mereka memang bukan tamu undangan kita. Tapi datang untuk mencari kamu.” Kata Bram. “Lantas, kenapa mereka mencariku? Apa aku mengenalnya?” sarkas Satya yang entah kenapa emosinya terpancing. Dia melihat ada dua orang yang mengenakan jas setelan rapi sangat mirip dengannya. Bukan hanya Satya, tapi juga Chaca, bahkan Bram dan Ayunimas pun kaget pertama melihat mereka. “Maaf, kami mengganggu bulan madu kalian. Tapi kami datang ke sini ingin melihat langsung dan membuktikan sendiri. Apa benar, kamu saudara kembar kami yang selama ini kami cari.” Kata salah seorang dari kedua yang mirip dengannya. “Maafkan saya, saya tidak terganggu dengan anda yang datang di hari bahagia saya. Tapi, mengakui saya yang hina ini sebagai saudara kembar kalian. Mungkin itu sangat tidak masuk akal, dan itu membuat saya tidak nyaman.” Jawab Satya yang membantah akan dirinya memiliki saudara kembar. “Seberapa hina kamu menjadi saudara kembar kami? Jika benar kamu saudara kami, tolong pulang sejenak. Jenguk orang tua kita yang tengah terbaring lemah karena kelelahan mencarimu selama ini.” Kata seorang lagi. “Apa buktinya aku saudara kembar kalian? Aku bahkan di besarkan di lingkungan yang bertolak belakang dengan kalian. Saya harap, anda jangan membuat malu.” “Kita tes DNA. Aku yakin, kamu memang salah satu dari keluarga Husain.” Orang yang pertama memang jauh lebih tenang tapi dia juga memiliki sebuah emosi yang cukup menggebu. “Baiklah,” Satya juga ingin tau, siapa sebenarnya dirinya. Kenapa bisa sangat mirip dengan mereka. Terlebih lagi, dia selama ini merasa ada yang aneh dengan ayah dan ibunya almarhum. Mereka sama sekali tidak memiliki foto bayi dirinya. Bram merasa sedikit cemas, setelah dia mendengar keluarga Husain di sebut. Dia pernah mendengar, keluarga itu terkenal tangguh. Bahkan memiliki pegulat di bawah naungan keluarga itu. Karena itu, Bram sangat menghindari kerja sama dengan mereka. Keluarga kuat, bukanlah orang yang bisa di singgung sembarangan. “Ikut saja, Satya. Papa ada bersama dengan kamu di belakang.” Bram mengingatkan menantunya, bahwa dia tidak akan meninggalkan Satya dalam keadaan apa pun. Meskipun Satya bukan saudara kandung si kembar. “Ya, terima kasih.” Jawab Satya sopan. Keduanya membawa Satya dan keluarga barunya ke rumah sakit besar dan mewah. Di sana sudah ada dokter yang menunggu. Ada pula seorang gadis kecil yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Chaca. Gadis itu terlihat sangat centil, tersenyum manja pada kedua orang kembar. Secara otomatis Chaca memegang lengan Satya. “Aduh kakak ipar manis banget sih. Awas ketuker sama abang-abang ku ini. Sudah sana masuk bang, aku akan menjaga kakak ipar di sini.” Hyra, gadis manis yang centil itu memegang lengan Chaca. “Adik kecil, berapa umurmu? Kenapa kamu di sini? Tidak sekolah?” ujar Chaca tidak suka. “Kakak ipar, kamu tidak melihat ini perut ku? Aku hamil 4 bulan, dan aku ingin melihat kakak yang belum pernah aku temui sepanjang hidup. Jangan remai-ramai, nanti suamiku tau aku di sini.” Jelas Hyra dengan gaya lucunya. Haaahhh... Chaca bernapas lega, kala mendengar tutur kata dari gadis centil ini. Tapi, tunggu. Jadi suaminya bukan salah satu dari mereka? Dan keduanya ini memang kakaknya. Pantas saja terlihat sangat menyayangi gadis kecil ini. “Jangan heran, dia memang begini. Dia manja, dan kami suka. Mengingat kami pernah kehilangan adik kami. Dia dua tahun di bawah kami, jadi tidak terlihat dewasa.” Kata seorang dari si kembar. Apa? Tiga tahun di bawah mereka? Kalau dari umur mereka sama dengan Satya. Berarti mereka seumuran dong? Dirinya yang di besarkan dengan segudang pekerjaan. Sehingga membuatnya dewasa sebelum waktunya. Tapi gadis ini? Dia masih terlihat sangat muda. Seperti anak SMA, padahal dia sudah mengandung. “Dia seumuran denganku, bukan? Kenapa dia bisa hamil? Memang tidak mengganggu, saat hamil pas kuliah? Aku saja terganggu.” Kata Chaca heran. “Kakak ipar, aku itu siswa pintar di sekolah. Jadi aku lompat kelas dua tahun. Dan tahun lalu aku sudah wisuda sebulan setelah menikah. Dan aku baru bisa hamil setelah program.” “Itu karena aku bekerja di bidang farmasi. Bergerak langsung di pembuatan obat-obatan dan juga bersentuhan dengan bahan kimia aktif. Aku program selama enam bulan, dan aku masih masa cuti kerja. Bahaya buat janin ku.” Jelas Hyra penuh semangat. Orang pintar, memang beda dengan dirinya. Otaknya Hyra di penuhi rumus, tapi otaknya? Di penuhi oleh Satya. Setelah beberapa lama di tinggal Satya melakukan serangkaian tes. Chaca secara posesif, kembali melingkarkan tangannya di lengan lelaki itu. Hyra memang bukan ancaman bagi rumah tangga yang baru di dirikan kemarin pagi. Tapi Hyra juga terlihat lebih agresif. “Kita makan dulu saja, ini juga sudah memasuki jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan di rumah makannya Bunda Nova saja? Di sana kamu juga bisa mendengar ceritanya langsung. Karena saat itu aku juga masih kecil. Jadi tidak tau apa-apa.”ajak salah satu dari si kembar. “ Kalau mau ngajak itu boleh, tapi kenapa dari tadi kami tidak tau nama kamu?” Chaca kembali membuat benteng perlindungan untuk suaminya. “Mereka namanya Abhimata dan Abhiandra. Yang memakai setelan hitam itu kakak tertua, Abhimata yang di panggil Zein. Dan yang memakai setelan abu-abu ini Andra.” Jelas Satya yang entah kenapa bisa sangat hafal dengan keduanya. “Wah, kak Satya hebat. Aku saja Cuma bisa bedain dari tempramental nya. Kalau kak Zein itu tenang, tapi protektif dan gak suka di tentang. Kalau kak Andra itu orangnya grasak-grusuk dan rada cuek.” Jawab Hyra penuh semangat. “Dan kamu, nona manis yang manja dan keras kepala.” Lanjut Satya. “Kalau aku?” mendengar apa yang di ucapkan oleh Satya untuk Hyra, Chaca pun tak mau kalah. Satya hanya melirik, tidak berniat untuk menjawab. Itu membuat Chaca sedikit jengkel. “Satyaaa, aku gimana?” rengek Chaca mengimbangi jalannya Satya. “Jawab dulu, kalau gak mau. Aku mau diam di sini dan merengek,” melihat kelakuan kakak iparnya, ketiga orang di belakang hanya bisa menahan tawa. “Cantik.” Hanya satu kata yang di ucapkan Satya. Tapi kata yang di ucapkan dengan intonasi yang sangat cepat itu membuat wajahnya memerah. Sedangkan Chaca? Dia tersenyum bahagia. Pasalnya, ini kali pertama Satya mengakui jika dirinya cantik. Tapi, ketiga adiknya di belakang menghentikan tawanya. “Mama.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN