Air terus mengucur membasahi seluruh tubuh Leon. Foto Camila pun basah di dinding. Setelah selesai mendapatkan puncaknya Leon mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia beralih menatap cermin dengan tajam. Di sana terbayang saat ia melihat Camila dan Rustam saling bermesraan dan mengecup di sana dan sini. Itu membuat Leon sangat gusar. “Kau milikku, Camila, milikku!” teriak Leon seraya melayangkan pukulan pada cermin itu hingga tangannya mengeluarkan darah. Entah sejak kapan cinta itu seakan menjelma jadi obsesi. Rasanya sungguh menyesakkan saat Leon harus kembali pada kenyataan bahwa ia tak pernah bersanding dengan Camila. Terlebih si Tuan Julius yang dengan wajah arogan mengusirnya seakan menghalau lebah yang terbang ke arahnya. Atau Rustam yang kala itu bersikukuh dengan keputusannya

