Awal bulan kembali tiba, dan seperti biasanya, suasana di rumah sakit menjadi lebih tegang dari hari-hari biasanya. Kami para junior residen tahu persis apa yang akan terjadi—kutukan uang pelicin yang harus disetorkan pada para senior untuk bisa “hidup” lebih tenang. Aku duduk di bangku koridor rumah sakit, memandang langit-langit sambil mengatur napas yang terasa berat. Bulan ini lebih terasa mencekik karena tumpukan utang dan kewajiban yang semakin menghantui. "Aku sepertinya tidak bisa ikut ke ruang operasi." Entah berapa banyak keluhan semacam itu aku dengar setiap kali selesai visit pasien di rumah sakit ini. Hanya untuk bisa masuk ke ruang operasi, kami harus membayar sejumlah uang, seolah-olah keterampilan dan ilmu yang seharusnya didapat secara profesional justru diperjualbelika

