"Gading, mendadak perasaanku tidak enak." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut ini sebelum Martin datang menginterupsi kami berdua. Kami terpaksa melepaskan pelukan saat ini. Gading dan Martin saling tatap dengan tatapan penuh kebencian. Wajar, mereka berdua memang bermasalah. Lebih tepatnya, Martin yang gemar sekali mencari masalah pada Gading dan Aya atau siapa pun. Malam itu aku baru saja selesai bekerja seharianketika aku dan Gading tengah menikmati angin malam di taman rumah sakit, suasana terasa begitu nyaman. Senyum tipisnya membuat hariku seolah dimulai dengan penuh harapan. Di tengah keheningan obrolan kami yang tenang, suara langkah kaki mendekat dan mengusik ketenangan kami. Astaga! Martin datang dan membuatku tidak nyaman. “Aya, kamu harus ke IGD," suara itu menginterup

