Aku duduk di sudut ruangan, memperhatikan Aya yang mulai sadar. Perlahan-lahan, kelopak mata itu bergerak, dan aku bisa melihat dia mencoba mengumpulkan tenaga untuk membuka mata. Punggungnya masih memar, tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tetapi setidaknya, dia sudah melewati masa kritis. Melihatnya terbaring lemah seperti ini membuat hatiku terasa semakin panas. Martin benar-benar sudah kelewatan. “Gading...,” suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Aya membuka matanya dan menatap ke arahku. Wajahnya terlihat lelah, tapi senyumnya muncul tipis di bibirnya. “Kau di sini?” Ada kelegaan di hati ini saat bisa kembali mendengar suara wanita yang sangat kucintai itu. Otak ini tidak bisa berpikir jernih saat Roy melapor jika Aya menjadi korban. Ya, korban dari kekerasan yang dilakukan oleh Mar

