"You so cute," sambut Sarah. "Nggak nyangka seorang Juna bisa gitu. Terharu aku lihatnya." Wanita itu menonton Juna di celah pintu kamar Hilara. Bagaimana Juna memindahkan Hilara agar tidurnya lebih nyaman. Lelaki itu menyelimuti anaknya penuh perhatian, juga kecupan singkat yang tidak pernah Juna tunjukan di depan mereka. Dari itu semua, terlihat Juna sangat menyayangi Hilara. "Ngintip terus, awas bintitan nanti!" seloroh Juna melewati Sarah begitu saja. Bukan apa-apa, tapi dia malu sisi melankolisnya disaksikan orang lain. Pada Hilara saja ia hanya berani karena anak itu dalam keadaan tak sadarkan diri. Biasanya juga mereka ribut. "Tangan kamu udah oke? Udah bisa angkat yang berat-berat gitu." "Kata dokter sih udah sehat, cuma jangan dulu angkat yang berat. Harus dilatih pelan-

