5.3

1436 Kata

"Gara-gara anak lo, tuh, jerat-jerit ngagetin gue aja. Nabrak, kan, akhirnya?" dengkus Bahar. Ucapannya selalu memojokkan Hilara. Bukan hal aneh lagi. Apa pun masalah, semua karena Hilara. Juna heran kenapa Bahar setidak suka itu pada anak sahabatnya. Sisa-sisa tawa Juna lenyap kala Bahar menyembut Hilara sebagai penyebab. Padahal santai saja, anggap semua kecelakaan ini hiburan sekaligus peringatan agar berhati-hati. Tadi Bahar hampir jadi samsak pria berotot. Juna melihatnya dari dalam mobil. Dia enggan membantu. Biasanya kalau publik figur turun ke jalan saat ada masalah bakal jadi bulan-bulanan masa. Baru menyaksikan pelototan si preman dari radius beberapa meter sudah menyeramkan, apalagi menghadapinya langsung. Alhasil Bahar merogoh rupiah cukup dalam demi mengganti rugi kerusaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN