4.0

1529 Kata

Kedua sahabat itu melipat tangan di d**a, sama-sama terdiam menghadap sebuah lukisan. Pikir mereka melanglang jauh, sepertinya. "Ck, gue bingung, kok bisa ya ...." Juna mengusap dagu dengan telunjuk dan ibu jari. Bahar mengerutkan kening. "Bisa apaan?" "Kok bisa gue masih lebih ganteng dari lukisan buat Hilara?" Sudah ia duga, mana ada ceritanya Juna bisa diajak mikir serius. "Heuuu!" Bahar menonjok angin, kesal sama kenarsisan Juna. Kalau bukan karena tampang mulusnya adalah aset penghasil uang, sudah dari dulu bonyok di tangan Bahar. "Gue lagi serius ini. Lukisan anak lo mirip banget sama Ken yang pernah gue liat waktu itu." "Bu Fadila juga bilang gitu. Tiga orang melihat sosok yang sama. Makanya gue panggil lo ke sini, buat mastiin apa iya Hilara ngelukis Ken mendiang sahaba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN