Hilara pernah merasa kehilangan teramat dalam waktu sahabat kecilnya diadopsi dan pergi tanpa kembali. Mereka sudah seperti adik-kakak. Hilara menangis parah tiap bangun tidur tidak mendapati sahabat kecilnya di kasur sempit mereka. Bunda sampai kewalahan. Hari-hari berikutnya Tera datang menawarkan persaudaraan. Hilara mendapat saudara baru. Kali ini saat Juna mengerang kesakitan berujung tak sadarkan diri. Hilara merasa kehidupannya direnggut paksa, lebih menyakitkan dari kehilangan yang dulu pernah ada ia alami. Hilara kesulitan bernapas menyaksisaknya membungkuk, urat-urat di sekitar pelipis dan lehernya mencuat. Untuk beberapa saat tidak bisa berkata-kata. Lalu air mata Hilara berjatuhan, menggoyangkan bahu sang ayah yang bergeming. Juna menutup mata. Bahar segera melipirkan kendara

