Ranin merasakan panas di tenggorokan. Ini melenceng dari perhitungan kembali ke kota ini. Ia harusnya telah menyiapkan diri atas segala kemungkinan. Salah satunya bertemu dia. Seseorang yang berusaha mati-matian Ranin lupakan karena malu. Dan mengapa harus sekarang, ketika dia belum sepenuhnya siap? “K-Kak Elang?” Ranin tercekat setelah lama menekan atmosfer mencekam. Membunuh bagian-bagian masa lalu menyenangkan. Sedikit tersentak mendapat tepisan Ranin, pemuda itu mengangkat topi hitamnya, meluaskan penglihatan. “Aku kira kamu udah lupa. Apa kabar, Nin?” Senyum dia masih bertahan. Ranin mengeratkan genggaman pada tali tas selempang. Harusnya segera menghubungi Yasmin dan Randi, tapi ... tangannya gemetar. Mana sanggup ia mencari kontak kedua orang tuanya, meraih ponsel di dalam tas

