Ana baru teringat sesuatu. Astaga! Dimana keberadaan sahabatnya itu? Atau dia juga terkontiminasi Virus Zombie ini.
“Aku Lupa, Kita harus menyelamatkan sahabatku..”
“Kau bisa diam tidak?!” Desisnya pelan. Wanita Gemuk ini sangat geram dengan sikap Ana.
“Hei,” , “Ayolah.” Kata Ana kemudian meraih pergelangan tangan wanita gemuk ini, setelah itu ia membalikkan tubuhnya.
Betapa terkejutnya dirinya, saat wajahnya berhadapan langsung dengan sebuah d**a bidang yang menghalangi jalannya.
Wanita gemuk itu segera mungkin melepaskan tangannya dari genggaman Ana.
Perlahan-lahan Ana mengalihkan pandangannya kearah wajah seseorang yang telah menghalangi jalannya. Seorang pria dengan Sunglasses yang menghalangi matanya. Bisa dibayangkan, pasti pria ini tampan.
“Kenapa kau berdiri disini,”
“Apa kau tidak tau, kondisi disini sangatlah darurat, dan aku harus mencari temanku.” Omel Ana.
Pria ini berdiam diri sejenak, kemudian melepaskan sunglasses-nya. Mata coklat miliknya seketika membuat Ana terhipnotis.
“Terhipnotis?” Pria ini bersuara dengan sangat Cool-nya.
Ana buru-buru menyadarkan dirinya, dan mengalihkan pandangannya kembali pada d**a bidang milik pria itu.
“Mau merasakannya?” Ia kembali bersuara, dengan kedua tangan yang melayang diudara, seperti ingin memeluk.
Dengan cepat Ana mendorong Pria itu tanpa ragu-ragu. “Kau gila?”
Pria ini justru tertawa menyeringai mendengar respon dari Ana.
“Ada apa?”
“Bukankah semua wanita ingin merasakan pelukan hangat ini?” ,
“Termaksud Kau,” Katanya Santai, sembari mendekat kembali kearah Ana.
Ana yang merasa terancam mulai mengambil rencana.
“Don’t be naive.” Bisiknya lembut.
Dan saat ini adalah saat yang tepat untuk Ana melaksanakan Rencananya.
Bughh... Ana melempar Heelsnya tepat didada Pria ini dan segera lari dari hadapannya, lari seperti orang yang sedang dikejar-kejar hantu.
Pria ini meringis kesakitan, memegangi dadanya. Alas Heels yang runcing milik Ana telah mengenai Dadanya.
Semua pekerja disini segera menghampiri pria ini.
“Mr. Semua baik-baik saja?” Ujar salah satu pekerja disini dengan hati-hati.
“Pasti itu terasa menyakitkan,”
“Apa Mr terluka, biar kami menghubungi tim medis.”
Pria ini kembali menegakkan tubuhnya kembali, ia bersikap seolah rasa sakit itu seketika menghilang. Semua hanya demi Wibawanya.
------------
Ana sudah lebih dulu sampai di apartement milik Cathy, tanpa Alas kaki. Bahkan ia meninggalkan sahabatnya itu.
“Tidak perlu khawatir, pasti ia sekalian bekerja.”
Ana jadi merasa menyesal telah melempar Heels peninggalan Mommynya, kepada Pria itu.
Pasti sekarang Mommnya sedang bersedih di sana, karna Peninggalannya itu tidak dijaga dengan baik oleh Ana.
“Maafkan Ana mom,”
-------------
Sepagi ini Ana sudah terlihat rapi, tentu saja ia telah mengenakan pakaian rapi. Karena pagi ini juga Cathy telah memberikan kabar untuknya, bahwa hari ini Ana bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan Cathy, hanya saja ia belum tau dibagian apa ia dipekerjakan.
“You look so beatiful, An..” Puji Cathy
Ana melemparkan senyuman semanis mungkin.
“Ah, tidak Cath.”
“Aku serius..” , “Atau kau mau menarik perhatian bos-ku itu? Maksudku Bos kita..” Ledek Cathy sembari menaik turunkan alisnya
“Ck! Kau ini,” , “Kau fikir aku magnet?” Balas Ana dengan memasang wajah seriusnya.
“Aku serius An,”
Ana mencubit gemas pipi ranum sahabatnya itu “Aku masih waras Cath, manamungkin aku menarik perhatian Bos, bos kita.”
“Aku tidak mau di cap sebagai perebut suami orang.” Kata Ana, kemudian kembali ke meja rias, untuk menyisir rambutnya.
Cathy tertawa keras, membuat Ana menatapnya dengan aneh.
“Kau mendukung aku menjadi Perebut Suami Orang?”
“Ya tuhan Cath, aku tidak mau menjadi wanita jahat” Kata Ana serius, dan ditangkap oleh Cathy sebagai drama.
“Ya, ya. Sekarang kita berangkat. Aku tidak mau terlambat” Ucap Cathy, sembari mengambil tas miliknya yang tergeletak diatas ranjang.
Ana mengangguk semangat. Karena pada akhirnya ia bisa menemukan pekerjaan yang nantinya gajinya akan dibayarkan untuk hutang Pamannya.
“Tunggu,” Cathy menghentikan langkah Ana yang hendak keluar.
Ana menoleh. Ia menatap Cathy dengan wajah bingung.
Cathy yang berada dibelakang Ana mulai menghampirinya, pandangannya menatap pada satu titik.
“Ada apa?”
Cathy menatap kaki Ana. Kakinya yang hanya beralasan sendal jepit berwarna hitam.
Ana yang menyadari kalau sahabatnya itu menatap kakinya, ikut menatapnya kakinya juga.
“Ada apa?” Ana mengulang pertanyaan itu lagi. Ia tidak mengerti dengan sahabatnya itu.
“Kau yakin ingin mengenakan---“
“Sandal jepit ini?” Sambung Ana lebih cepat.
“Ya, aku hanya memiliki ini.”
“Lalu Heels kemarin?” Tanya Cathy.
Ana menundukkan kepalanya, ia merenung sedih. “Sudah lenyap.”
“Lenyap?” Kata Cathy tidak mengerti.
“Ya, semua itu karenanya! Heels peninggalan Mom ku jadi lenyap!” Kata Ana bernada tinggi.
“Peninggalan Mom-mu?”
“Ya, Mom-ku berpesan pada Paman, bahwa peninggalannya semasa hidup bisa aku kenakan saat aku sudah besar.”
Cathy menatap langit-langit kamar , ia masih tidak mengerti.
“Ck! Kau ini. Dulu aku sudah pernah bercerita padamu, kenapa kau jadi pelupa begini?” Kesal Ana.
“Sudah pernah?”
“Aku lupa.” Jawab Cathy, sembari menggaruk tengkuknya.
Ana menghela nafasnya kasar. Ternyata sahabatnya itu telah terkena syndrom Alzhaimer.
“Tunggu, Lenyap karenanya? Maksudmu siapa?” Tanya Cathy penasaran.
Sejenak Ana membulatkan matanya, ia lupa menceritakan kejadian kemarin saat dirinya berada di perusahaan tempat Cathy bekerja. Pasalnya, Cathy baru saja pulang ke apartemennya saat dirinya sudah terlelap tidur.
“Orang-orang di kantor baik-baik saja kan?” Tanya Ana panik.
“Kau ini kenapa?” Tanya Cathy heran
Ana melangkahkan kakinya mendekati ranjang, lalu ia duduki ranjang itu.
Kepala & tubuh Cathypun ikut memutar menatap Ana dan terhenti saat badannya benar-benar telah membelakangi posisi sebelumnya.
“Orang-orang di tempat kerjamu telah terkena Virus Zombie” Kata Ana yang lagi-lagi terdengar sangat dramatis bagi Cathy.
Cathy menghampiri Ana lebih dekat. “Zombie?”
“Mereka semua aneh, mereka tiba-tiba saja terdiam dan menundukkan kepalanya. Aku bertanyapun tidak dijawab sama sekali oleh mereka.” Ucap Ana masih tidak percaya dengan keadaan kemarin.
“Lalu setelah itu muncul seseorang yang telah melenyapkan heels-ku!” Lanjut Ana, yang kini telah berubah menjadi marah.
Cathy terpaku, terdiam. Ia masih ingin mendengarkan kejadian kemarin yang telah dialami sahabatnya itu.
“Kau tidak terkontaminasi virus itu kan?” Tanya Ana takut-takut.
“Virus Zombie, kau ini halusinasi?” , “Kalau aku terkena Virus Zombie yang kau maksud itu, sudah pasti kau juga ikut tertular.” Ana mengangguk-angguk dan ber-oh paham.
Cathy pergi menuju lemari tempat dimana heels-heels miliknya, setelah itu ia ambil salah satu heels miliknya dan diberikan kepada Ana.
“Pakai ini,”
Ana menggeleng. Cathy berdecak sebal, kemudian memakaikan heelsnya di kaki Ana.
“Aku, sepertinya aku ingin mengurungkan niat untuk bekerja di.....”
Bolaan mata melebar langsung didapatkan oleh Ana dari Cathy.
“Lalu bagaimana dengan Pamanmu?”
“Aku takut tertular...”
Cathy menoyor pelan kening Ana. Kenapa daya fikir sahabatnya itu terlalu dangkal?
“Kau ini Halu An, Halu.”
“Zombie hanya ada didalam Film saja.” Cathy mencoba memberi penjelasan pada Ana.
Wajah Ana seketika berubah ketakutan.
“Aku tidak mau menjadi Zombie Cath, itu menakutkan.”
Cathy menghela nafasnya kasar, terserah apa yang mau dikatakan sahabatnya itu. Yang terpenting Ana harus tetap ikut dengannya ke kantor.
Tidak mungkin ia datang kekantor sendirian, setelah ia bersusah payah meminta lowongan kepada atasannya. Itu sama saja menjatuhkan harga dirinya.
Dengan terpaksa, Ana ikut kekantor bersama dengan Cathy.