3. Alex si Menyebalkan

936 Kata
Tak terasa waktu pulang pun akhirnya datang. Senang dan bebas, itu yang Ara rasakan. "Re, gue pulang duluan yah. Gak pa-pa kan? Soalnya Alex udah nungguin di parkiran," Rere paham, Rere mengerti seperti apa kekasih sahabatnya itu. "Ya udah pulang aja, gak pa-pa kok. Gue kan bawa motor," "Ya udah gue pulang, daaah!" Rere membalas lambaian tangan Ara dan kemudian berlalu dengan berlawanan arah. Ara terus berjalan dengan sesekali melirik ponselnya, sampai akhirnya seseorang memanggil namanya dari arah belakang. "Ra," Ara menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik. "Eh, Varo. Kenapa Var?" Tanya Ara. Alvaro Gaivan, mantan kekasihnya. Mantan kekasih yang hanya bertahan dalam kurun waktu 2 bulan saja. "Gue anterin pulang yah, mau kan?" Ara tersenyum kikuk. "Gu--" "Ara pulang bareng gue." Sahut seseorang dengan ekspresi datarnya. "Lo siapa?" Tanya Varo yang berhasil membuat Alex mengeraskan rahangnya. "Lo yakin gak kenal gua?" "Lo Alex, gue tau. Tapi lo siapanya Ara?" Alex menarik lengan Ara lembut. "Dia cewek gue. Jangan pernah ganggu dia lagi," tekannya. Ara menggigit bibir bawahnya, ngeri. "Kita, kita pulang..." Ara membawa Alex menjauh dari Varo. Sedangkan Varo hanya diam dan menghela nafas pasrah. "Masuk." Titah Alex.  "Masuk mobil, cepet." Ara pun menurut dan masuk ke dalam mobil. Hening. Tidak ada satu patah katapun yang terlontar dari keduanya. Alex mulai menyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan pekarangan sekolah. "Alex!!" Pekik Ara yang langsung berpegangan karena Alex tiba-tiba saja menambah kecepatan laju mobilnya. "b**o! Lo mau gue mati serangan jantung, heuh?" Kesal Ara ketika Alex menghentikan mobilnya di tepi jalan. Alex menatap Ara tajam. Ia tidak suka jika Ara sudah mulai berkata seperti itu, terlebih kepadanya. "Siapa Varo?" Tanya Alex. Ara tidak kuat jika harus berlama-lama dengan tatapan tajam yang Alex berikan. Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Siapa dia?" Tekan Alex. "Di--dia mantan aku." Jawab Ara. Alex tersenyum miring mendengar jawaban itu. "Buka mata kamu." Ara menggeleng pelan. "BUKA!" sentak Alex. Hiikss... Satu isakan lolos begitu saja. "Aku, aku takut kamu marah..." Lirih Ara. Ia benar-benar ketakutan saat ini. "Shit." Umpat Alex. "Kamu takut aku marah?" Ara mengangguk pelan. "TAPI KENAPA KAMU SELALU NGELAKUIN HAL YANG ENGGAK AKU SUKA? HEUH?" Sentak Alex. Bahu Ara semakin bergetar karena tangisan. Ia masih enggan untuk membuka matanya. "Sekarang buka mata kamu," ucap Alex lembut. "Sayang..." Tambah Alex. Perlahan-lahan Ara menjauhkan tangannya dari wajah, ia menatap Alex dengan masih sesenggukan dan mata yang memerah.  "Jauhin dia." Ara memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. "Ak--aku gak bisa," Alex memalingkan wajahnya dan menggeram tertahan. "Dia temen aku," "Aku gak suka kalau kamu deket sama dia," Ara mengernyitkan dahinya. "Deket? Tadi itu pertama kalinya aku sama dia ngobrol." "Kenapa kamu gak pernah cerita tentang dia?" "Karena aku kira kamu udah tahu semua tentang aku dari kak Shahil." Jawab Ara yang sudah mulai lelah mendengar hal yang menurutnya tidak perlu diperdebatkan. Alex kembali menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Ara pulang. Alex tengah fokus pada jalanan, sedangkan Ara terlihat asik dengan ponselnya. "Lagi ngapain?" Tanya Alex melirik Ara sekilas. "Main game." "Aku marah karena kamu, harusnya kamu minta maaf bukannya main game." Ucap Alex yang benar-benar membuat Ara ingin menguburnya hidup-hidup. Ara hanya diam tak menanggapinya. Dan, Sret. Alex mengambil alih ponselnya. "Al--" "Sejak kapan w******p punya game?" "Ini nomor siapa?" Lanjut Alex bertanya. Ara terlihat menghela nafas lelah. "Itu ada namanya, Rere itu sahabat aku." "Aku tahu." Sahut Alex. "Ngapain dia ngirim-ngirim foto cowok gak pake baju?" Ara menegakan posisi duduknya. "Kan masih pake celana, gak pa-palah." "Nih. Udah aku hapus semua." Ucap Alex seraya mengembalikan ponsel Ara. Dengan cepat Ara membuka galerinya. "Ya tuhan, Alex monyet bajing luncat. Ini kenapa di hapus semua, sih? Foto-foto aku juga ikut ilang, huaaah kesel." Alex sama sekali tidak menghiraukan ocehan Ara. Ia tetap fokus pada jalanan. "Alex ih, oppa-oppa aku ilang semuaaa fotonya..." Rengek Ara seraya menahan tangisnya. "Alex gak lucu, cape tahu foto-foto." Lanjut Ara seraya mencubit lengan kiri Alex. Tapi Alex sama sekali tidak berkata apapun. "Ah aing kesel, pengen nangis..." "Kamu kan masih idup, foto-foto lagi aja. Ngapain nangis." Ujar Alex dengan entengnya. "Ya tuhaan ini kenapa harus macet, sih. Pengen cepet sampe rumaaaah..." Racau Ara yang sudah muak duduk di samping Alex yang hanya diam dengan ekspresi datarnya. Alex melirik Ara yang masih merengut kesal dengan mata yang berkaca-kaca menahan kekesalannya terhadap Alex yang sudah berani menghapus semua yang ada di galeri ponselnya. Foto bahkan film-film yang hendak dirinya tonton ikut raib terhapus. "Apaansih gitu aja nangis," Ara sibuk menghapus air matanya. "Kamu itu gak ngerasain rasanya ngehemat uang buat beli filmnya. Aku udah ngabisin kuota juga." "Udah sampe. Ini, aku ganti uang kamu." Ucap Alex seraya menyodorkan kartu ATMnya. Jiwa miskin Ara membludak, ia ingin mengambilnya tapi, gengsi jauh lebih tinggi. "Gak usah. Makasih." Ara pun turun dari mobil. Alex tahu kenapa Ara sampai bela-belain menabung, itu semua karena Shahil pun memberitahunya jika Ara sering begadang untuk menonton film dan series lainnya. Maka dari itu keluarganya tidak memberikan Ara uang jajan lebih. Melihat Ara pergi dalam keadaan marah, Alex pun ikut turun dan menahan Ara agar mendengarkannya terlebih dahulu. "Apa?" Tanya Ara tanpa memandang wajah tampannya. "Aku gak suka kamu bergadang cuma buat nonton yang gak jelas." Ara menatap Alex dan tersenyum miris. "Aku kira kamu pinter. Ternyata cuma di pelajaran doang kamu unggul, tapi nilai kemanusiaannya nol, gak ada." "Terserah. Turutin semua yang aku bilang." Alex pun berlalu tanpa mau mendengarkan apa yang hendak Ara katakan. Ara terdiam menatap nanar ke arah ponselnya. "Percuma lo pinter kamvret. Tapi lo gak paham kalau setiap orang punya caranya masing-masing buat ngilangin stress." Gumam Ara seraya tersenyum miris. Dengan kesal Ara pun mengeluarkan sim card dari dalam ponselnya, kemudian membuangnya asal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN